Categories
Family Story

Mengidap COVID-19 di Hari Nan Fitri

Qadarullah, virus SARS-CoV-2 itu akhirnya bersarang di badan saya. Viral load yang tinggi tiga hari sebelum hari raya Idul Fitri itu rasanya sangat tidak mengenakkan. Rencana lebaran bersama orang tua batal sudah. Mungkin ini teguran dari Allah jua. Setelah berjuang selalu disiplin menjalankan protokol kesehatan setiap pergi keluar rumah, siapa sangka virus itu datang langsung ke rumah kami. Semua anggota keluarga, positif COVID-19.

Kronologi Sebelum Terdiagnosis COVID-19

Hari Senin, 3 Mei 2021, ayah dan ummi, mertua saya, datang ke rumah dari Lubuk Basung. Seperti agenda rutin setiap minggu, mertua menginap di rumah kami di Padang setiap Senin-Rabu, membantu mengasuh cucu sementara saya bekerja dan istri saya praktik di klinik. Tapi kali ini adalah kedatangan yang spesial, setidaknya setelah kami menyadarinya satu minggu kemudian.

Masih dalam suasana Ramadhan, kami juga menyempatkan diri berbuka bersama di rumah adik ayah keesokan harinya. Kamis pagi, 6 Mei 2021, saya istri dan anak ikut pulang ke Lubuk Basung bersama mertua karena selama Ramadhan kami belum sempat pulang sama sekali. Sewaktu ayah menyetir mobil, saya sedikit curiga, beliau terlihat batuk agak parah, berdahak, tapi beliau tetap pakai masker. Sesekali beliau membuka jendela dan membuang dahaknya ke jalan. Saya memilih duduk di belakang bersama Yaya dan Rayya dan sama sekali tidak melepas masker.

Ketika sampai di rumah Lubuk Basung, sore harinya, ayah mengaku tidak enak badan. Seperti kebiasaan beliau jika mulai merasa tidak sehat, ayah langsung pergi berobat ke dokter, karena memang di rumah Lubuk Basung tidak ada stok obat. Dokter langganan ayah meresepkan parasetamol, ciprofloxacin, ambroxol, dan vitamin. Saya dan yang lainnya, masih sehat wal afiyat. Tidak ada keluhan sama sekali. Karena ayah merasakan hal yang aneh pada tubuhnya, beliau minta menjauh sendiri saat berbuka dan pakai masker di rumah. Benar saja, malam harinya beliau demam tinggi, berkeringat dingin, sakit kepala hebat, dan tidak bisa tidur meskipun sudah minum obat. Yaya menambahkan obat penurun panas ekstra dan dexamenthason. Kami mulai sedikit curiga. Namun mengingat Ummi dan kami semua sehat-sehat saja, kami masih memikirkan kemungkinan diagnosis lain.

Malam hari itu juga ketika hendak tidur, rinitis saya kumat, seperti biasa kalau baru pulang. Saya bersin-bersin sebelum tertidur dan ingus saya meler. Saya pikir mungkin karena alergi debu kamar yang sudah lama tidak dibersihkan. Ditambah lagi saya ada riwayat asma, namun untungnya nafas saya tidak sesak. Selebihnya, tidak ada gejala berarti.

Keesokan harinya, Jumat, 7 Mei 2021, ayah masih tidak sehat. Demam masih terasa, badan letih, batuk berdahak, dada terasa berat, dan selera tidak enak. Sementara Ummi, sama sekali tidak ada gejala apa-apa. Beliau yang dijadwalkan menjadi khatib Jum’at minta digantikan, tapi beliau masih kuat ke masjid, pakai masker.

Sabtu 8 Mei 2021 menjelang magrib, saya mulai ikutan batuk, kering, tapi tidak terlalu kentara. Tenggorokan saya agak gatal, tapi saya masih belum menyadari apa-apa. Saya tetap pergi ke masjid memakai masker, dan sempat ikut buka bersama dengan keluarga Ummi di Lubuk Basung. Meski tidak satupun orang pakai masker dan jaga jarak seperti tidak terjadi apa-apa, atau seperti covid ini cuma tahayul saja, saya dan Yaya tetap pakai masker dan duduk berjarak dari yang lain sambil membuang gengsi. Kami terpaksa buka masker saat menyuap makanan, wallahu’alam, entahlah apakah kami sempat lengah.

Malam harinya, batuk saya mulai aneh. “Badangkang-dangkang”, kalau dalam bahasa Minang. Kering dan menyakitkan tenggorokan. Saya mulai tidak enak badan dan mager, pengennya tidur mulu. Ayah mertua yang mendengar batuk saya menjadi-jadi ikutan khawatir, “lai ndak covid lo ko?”

Besok hari Ahad, 9 Mei 2021, ayah yang merasa badan beliau sudah lebih fit, mengusulkan kami balik ke Padang lebih cepat, ba’da zuhur. Beliau bilang beliau akan jadi khatib shalat Id di Palembayan, maka dari itu ayah mengantar kami ke Padang dengan niat langsung pulang esoknya hari Selasa agar bisa istirahat dan mempersiapkan diri lebih lapang sebelum hari raya yang jatuh pada hari Kamis. Kami sampai di Padang tepat pada saat berbuka puasa, dan malamnya kami beristirahat. Qadarullah, malam itu, badan saya sangat meriang, otot saya sakit-sakit, dan saya langsung tidur lebih awal setelah tarawih. Batuk saya belum hilang, ditambah ingus saya encer. Saya minta ke Yaya diambilkan parasetamol dan CTM agar bisa tidur.

Besok paginya, tanggal 10 Mei 2021, saat terbangun, badan saya terasa tak karuan dan kepala saya pusing. Usai sahur dan shalat subuh, saya lanjut tidur sampai jam 9 pagi. Yaya agaknya mulai khawatir, mengingat orang tua saya mau berkunjung ke Padang untuk menjemput kami pulang ke Payakumbuh besok harinya. “Bang, swab saja yuk, daripada nanti menyesal, besok lebaran,” saran Yaya.

Saya awalnya agak denial, tapi mengingat kami tak mau takabur, saya setuju. “Ayo, pagi ini kita swab di lab,” kata saya. Saya minta Yaya ikut menemani saya, karena kami rencananya juga akan ke bank untuk menukar uang baru untuk THR. Saya langsung mendaftarkan diri untuk swab di lab FK Unand di Jati pada petugas di lab. Kebetulan, walhamdulillah, karena saya anggota lab dan warga Unand, saya bisa swab kapan saja sesuai jadwal. Saya berniat swab langsung dengan tangan sendiri saja karena sudah biasa.

Berdua saja dengan motor, saya dan Yaya akhirnya swab di lab Jati. Saya mencolok hidung saya sendiri, lalu setelah itu hidung Yaya. Ini kali pertamanya Yaya swab, sementara saya, sudah kali ke-8. Sebelum-sebelumnya hasil swab saya selalu negatif. VTM nya saya kasih langsung ke petugas lab untuk diperiksa.

Setelah swab itu, kami singgah ke bank sebentar untuk mengantri mendapat tukar uang baru. Syukurlah, prosedur prokes di sana bagus, kami menunggu di luar pintu dan masuk ketika sudah lengang. Kemana-mana kami tetap bermasker, seperti kebiasaan selama pandemi ini. Sayangnya, kami sempat singgah ke ATM dan ke warung untuk belanja kebutuhan dapur yang cukup mendesak, tapi tetap menjaga jarak, terlebih saya sedang bergejala. Siang hari, Mama menelepon, kata beliau Papa ingin bertemu ayah, mau buka bersama, dan kangen cucu, hari itu juga beliau mau ke Padang. Saya dan Yaya segan pula menolak, sambil berdoa dalam hati semua hasil swab saya negatif.

Siang harinya, saya mengantar Yaya ke klinik, setelah itu saya mengurung diri di kamar karena mulai tidak enak badan lagi. Tiba-tiba Mama menelpon lagi, “An, Ama ndak jadi ke Padang,” kata beliau, rupanya Adik saya belum tahu apa-apa sehingga sedang sibuk di bengkel motornya bersama sepupu saya. Dalam hati saya cukup lega, karena saya belum bilang sama siapapun kalau saya sudah swab tadi pagi, termasuk kepada mertua, takut kalau-kalau mereka khawatir berlebihan.

Saya kemudian menanti hasil PCR saya keluar dan memantaunya setiap saat dari WA. Sekitar pukul 3 lewat 15 menit, qadarullah, hasil PCR saya dan Yaya keluar.

Innalillah, saya positif COVID-19. Materi genetik SARS-CoV-2 terdeteksi dengan nilai CT 19.81 untuk gen ORF1ab dan 18.88 untuk gen N. Nilai tersebut menandakan viral load saya sedang tinggi sekali, dan sangat infeksius. Sementara itu, Yaya alhamdulillah negatif, tidak ada gen virus yang terdeteksi. Dalam hati, meski kaget, saya bersyukur, Ama dan Apa tidak jadi ke Padang. Jika saya tidak swab, entah apalah yang akan terjadi. Tapi, bagaimanapun, saya harus mengabari beliau, dan juga Yaya, serta mertua saya akan hasil swab saya ini.

Reaksi semua orang pada awalnya, terkejut, dan tentu saja, cemas. Ayah dan Ummi apalagi, karena kemungkinan besar tentu saja, beliau berdua juga positif. Malam itu akhirnya saya melakukan isolasi mandiri, pakai masker di dalam rumah, serta makanan, minuman, dan obat saya diantar ke kamar. Beberapa kolega yang tahu hasil PCR saya menanyakan kabar saya. Karena saya merasa masih kuat, saya yakin saya akan baik-baik saja dan bilang saya akan baik-baik saja, insyaAllah.

Keesokan harinya, ayah dan ummi mendaftar di lab untuk swab, dan langsung pulang ke Lubuk Basung. Benar saja, hasil PCR ayah dan ummi yang keluar siang harinya menunjukkan keduanya positif COVID-19. Nilai CT keduanya berkisar di angka 20-22, artinya, keduanya kemungkinan besar terlah terlebih dahulu terinfeksi daripada saya. Menurut analisis saya, keduanya barangkali terinfeksi sebelum datang ke Padang, sekitar tanggal 1 atau 2 Mei 2021, dan mengalami fase inkubasi hingga gejalanya muncul pertama kali pada ayah mertua, baru kemudian saya. Pasalnya saya sama sekali tidak kontak dengan siapapun kecuali dengan beliau. Sementara itu, ummi sama sekali tidak menunjukkan gejala apapun sampai hasil PCR beliau keluar. Dua hari kemudian, ummi barulah mengeluh sedikit tidak enak badan. Saya cukup salut, mungkin karena Ummi biasa mengkonsumsi rebusan dedaunan herbal yang beliau tanam di pekarangan rumah Lubuk Basung sehingga gejala Ummi bisa dikatakan minimal.

Pertanyaannya, dari siapakah ayah dan ummi tertular? Ummi sempat mengaku pembantu beliau di rumah mengeluh batuk seminggu sebelum beliau ke Padang itu, dan saudara pembantu beliau itu demam tinggi 2 hari yang lalu. Dari situ, tampaknya kami mulai dapat kesimpulan darimana asal virus itu sampai ke saya. Saya juga agak heran, kenapa Yaya negatif, barangkali fase inkubasi.

Perjalanan Penyakit COVID-19

Setelah saya terdiagnosis pada tanggal 10 Mei 2021, lebih tepatnya pada hari ketiga sejak muncul gejala, dan hari kedelapan pasca kontak dengan ayah dan ummi, kondisi saya mulai perlahan-lahan menurun. Bangun pagi hari Selasa, tanggal 11 Mei 2021, rasa letih di badan saya semakin bertambah, saya selalu pusing saat berdiri apalagi berjalan. Keringat dingin saya mengucur, tapi tidak demam sama sekali, suhu badan saya normal. Namun, batuk saya mulai terasa berisi dahak, pilek saya menjadi hingga hidung tersumbat. Selera makan saya masih biasa, dan saya berbuka dengan lahap. Sejak saat itu saya rutin mengonsumsi Parasetamol, multivitamin (B Komplek, Vit C, Vit D), Zinc, dan GG untuk melancarkan batuk saya yang berdahak. Saya juga bersyukur, salah seorang teman saya mengirimkan obat-obatan dan makanan untuk membantu memulihkan kondisi saya.

Tiba-tiba pukul 21.30, saat saya selesai tarawih, saya minta diambilkan kolak pepaya. Saya heran, ketika suapan pertama, kok rasanya tidak ada sama sekali, seperti mengunyah dan menelan tepung, hambar. Saya tanya ke Yaya, “Ya, ini rasanya apa ya? Kok hambar?” Saya pikir Yaya kurang memberi gula pada santannya. Tapi saya yakin buah pepaya pun saya tak bisa merasakan rasanya. Saat Yaya mencoba punyanya sendiri, dia bilang sudah manis sekali. Itulah saat-saat dimana saya pertama kali merasakan ageusia (hilang pengecapan). Saya buru-buru mencium minyak kayu putih, yang ternyata, sama sekali tidak bisa saya cium melainkan hanya samar-samar. Akhirnya, saya mengalami anosmia pula. Rasanya, aneh.

Keesokan harinya tanggal 12, saya terbangun pukul 03.15 dan tidak bisa tidur lagi karena hidung saya tersumbat. Saat sahur, sama sekali tidak ada rasa pada makanan dan bau pada apapun. Batuk saya mulai berdahak kental dan berwarna kekuningan. Papa saya menyarankan saya berjemur pagi-pagi saat matahari terbit pukul 7-8 pagi. Saya juga sempatkan untuk olahraga ringan, perlahan-lahan, kondisi saya mulai berangsur baik, seiring hari ini adalah hari terakir Ramadhan, alhamdulillah saya khatam 30 juz Al Qur’an. Malamnya saya takbiran di kamar, sesekali keluar pakai masker dan jaga jarak.

Tanggal 13 keesokan harinya, Hari Raya Idul Fitri tiba. Bahagia tentu, tapi sedih juga tentu. Perasaan memang campur aduk, tapi saya bersyukur, saya masih bisa merasakan idul fitri bersama keluarga kecil saya bersama-sama. Pagi itu kami shalat Id di rumah saja, lalu saya kembali istirahat. Alhamdulillah, nyeri otot saya sudah lebih berkurang, saya bisa melakukan push up dan crunches sambil barbelan. Meski begitu saya masih anosmia, ageusia, pusing, batuk, dan pilek. Tenggorokan saya masih perih dan perut saya agak kembung.

Pukul 1 siang, giliran Rayya, anak saya yang masih berumur 2 tahun, demam tinggi hingga suhunya mencapai 39,2. Saya agak panik, barangkali Rayya sudah ikut tertular dari Ayek dan Nekminya sejak pertama kali bertemu dan baru muncul gejala serius sekarang, meski awalnya Yaya sudah wanti-wanti karena Rayya malas makan seminggu terakhir. Karena sudah yakin Yaya dan Rayya tertular, saya terpaksa mendekati mereka dengan tetap memakai masker dan membantu Yaya memberi obat penurun panas. Panasnya susah turun, sehingga parasetamol harus kami gandeng dengan ibuprofen sesuai dosis seusianya. Rayya tampak letih sekali sore hingga malam itu, membuat semua orang cemas dan khawatir. Saya juga mulai bertanya-tanya ke sejawat kalau seandainya kami bertiga isolasi dan dirawat di rumah sakit saja.

Malam itu akhirnya kami lewati dengan pasrah sambil menyetel alarm waktu untuk Rayya minum obatnya. Demam Rayya masih tinggi sampai keesokan harinya, tanggal 14 mei, hari kedua lebaran. Sorenya alhamdulillah, Rayya sudah mulai mendingan. Saya sama sekali tidak ingat lagi kalau saya sedang sakit pula. Yaya barangkali juga sudah kena sekarang, karena selalu berdua dengan Rayya.

Hari-hari terus berganti, sampai kondisi saya membaik dan berangsur-angsur normal. Alhamdulillah, atas doa dan pertolongan Allah, saya tidak demam sama sekali seperti ayah dan Rayya, barangkali pula karena saya sudah vaksin 2x dan memaksakan diri makan dengan lahap dan olahraga ringan dengan rutin. Jika tidak, entah apalah yang akan terjadi, pasalnya saya punya komorbid asma.

Akhirnya, Senin, 17 Mei, saya mulai merasakan perbaikan yang berarti. Batuk saya sudah lebih reda, badan saya sudah mulai fit. Saya mulai beranikan keluar rumah bermasker hanya sekedar membawa Rayya dan Yaya jalan-jalan mengilangkan kebosanan mereka. Kami pergi ke pantai pagi-pagi, dan pulang ba’da zuhur. Saya yakin, antibodi saya sudah terbentuk bagus, dan virusnya sudah mulai mereda. Pengencapan dan penciuman saya sudah berangsur-angsur kembali lagi. Besoknya, Selasa 18 Mei, saya swab ulang di lab, dan alhamdulillah, hasilnya CT saya sudah berada di angka 33-35. Menurut kepala lab, saya sudah negatif, hanya tinggal sisa-sisa virus mati saja. Ayah dan Ummi juga sudah mulai sehat, dan hasil PCR ayah sudah negatif.

Namun, Yaya baru terdeteksi positif dengan CT yang masih rendah 18-19. Sementara Ummi masih positif tanpa gejala dengan CT 29-30. Kami berdo’a semoga COVID-19 ini bisa kami lalui dengan baik, dan sesungguhnya ini adalah ujian tersendiri bagi kami. Barangkali, minggu depan kami akan swab ulang lagi, semoga saja, virus corona sudah dihilangkan oleh Allah dari tubuh kami, dan kami bisa kembali beraktifitas seperti biasa kembali.

Oleh karena pengalaman ini, please, tetaplah waspada dengan COVID-19, dan jangan anggap sepele apalagi takabur. Tidak semua orang bergejala ringan, ada yang harus dirawat dan dibantu dengan alat bantu nafas di ICU karena paru-parunya memutih semua, bahkan meninggal karenanya. Sayangi keluarga kita dengan tetap menjaga protokol kesehatan sebaik-baiknya, sampai Allah angkat penyakit ini dari bumi kita, insyaAllah.

“Rasulullah pernah bersabda: Wabah thaun adalah kotoran yang dikirimkan oleh Allah terhadap sebagian kalangan bani Israil dan juga orang-orang sebelum kalian. Kalau kalian mendengar ada wabah thaun di suatu negeri, janganlah kalian memasuki negeri tersebut. Namun, bila wabah thaun itu menyebar di negeri kalian, janganlah kalian keluar dari negeri kalian menghindar dari penyakit itu.” (HR Bukhari-Muslim)

Cover image: Photo by Skylar Kang on Pexels.com

4 replies on “Mengidap COVID-19 di Hari Nan Fitri”

Terima kasih sudah berbagi pengalamannya An, semoga bisa membantu ‘mencerahkan’ masyarakat yang masih menyangkal atau apatis dengan COVID-19. Semoga Allah berikan kesehatan selalu kepada kita semua, semoga Allah mengangkat wabah ini dari bumi, aamiin

Like

Sama-sama Mi, amin ya Rabbal ‘alamin.
Qadarullah jadi penyintas COVID-19 juga nih 😥 semua ada hikmahnya.

Like

Give a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s