Categories
Reminder

Teman Baik versus Toksik dan Cara Menyikapinya

Istilah toksik barangkali menggambarkan sesuatu yang merusak secara perlahan. Tidak hanya dalam ilmu kedokteran, tetapi dalam artian luas, toksik itu merugikan. Dihadapkan pada kehidupan sosial pertemanan, istilah toksik pun hadir. Barangkali kita punya pengalaman masing-masing tentang hubungan pertemanan yang gak baik seperti ini. Menyakitkan, menyudutkan, membuat murung, tidak bersemangat, dan cendrung membuat gelisah dan menyalahkan diri sendiri. Melelahkan ya.

Photo by Ylanite Koppens on Pexels.com

Memang, memendam sebuah ketidaksukaan terhadap diri sendiri apalagi akibat prilaku orang lain lama-lama hanya akan mengganggu mental dan psikis. Saya sendiri ketika down, terutama apabila merasa dirundungi dan dipersalahkan, hingga cendrung menyesali diri kenapa begini dan begitu, tetap berusaha dealing bagaimana caranya hal itu tidak sampai membuat depresi. Biasanya, hal yang membuat saya lega adalah dengan membatasi interaksi lalu mengkaji masalah saya dalam Al Quran, sunnah dan mendengar nasihat-nasihat ulama. Karena tentu saja, perasaan seperti itu adalah bagian dari hidup.

Mama pernah bilang ke saya begini, “Sedih dan senang itulah yang namanya hidup.” Intinya ya kalau gak ada rasa itu berarti kita sudah mati. Kata-kata itu selalu jadi penyemangat.

Lalu saya juga pernah dengar khutbah jumat kurang lebih begini, “Di saat apa yang kita alami itu tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, maka disanalah letaknya hikmah”. Artinya, semua hal yang menurut kita buruk itu belum tentuk buruk dan justru sebaliknya, membuat level kita jadi naik. Kita jadi lebih kuat.

Hanya saja, tidak semua orang bisa menghadapi rasa stres dengan begitu saja. Dampak psikologis yang menyakitkan tersebut bisa jadi dan barangkali sering muncul akibat interaksi sosial yang gak sehat. Bener gak?

Dalam Al Quran sendiri, saya kutip dari tulisan Reza IF (2020) ada delapan istilah pertemanan yang disebutkan. Istilah toxic barangkali cocok dengan istilah “khadzul” di dalam QS Al Furqan ayat 29 yang berarti “tidak menolong” atau “mengecewakan”. “Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.

Lalu, saya kutip pula dari tulisan yang terbit di media Kompas, bahwa orang yang toksik itu pada dasarnya berprilaku negatif dan memberikan dampak yang negatif pula. Seperti: memprioritaskan dirinya, hanya memanfaatkan kita, memunculkan drama, selalu mengkritik dan tidak pernah memuji, hanya membicarakan dirinya, menyuruh kita berubah seperti kemauannya, tidak peduli, menggosip, menuduh, membuat stres, dan lain-lain. Na’duzubillah ya, semoga kita gak begitu ke orang lain.

Sementara itu, Islam sudah mengajarkan bagaimana caranya berinteraksi sosial dengan orang lain. Saya kutip lagi dari Reza IF (2020), dari Dr. Abdullah Nashih Ulwan, ada enam dasar bersosialisasi dalam Islam, antara lain yaitu: 1) takwa; 2) ukhuwah; 3) kasih sayang; 4) mendahulukan orang lain atas diri sendiri; 5) memaafkan; dan 6) berkata benar.

Rasulullah saw juga mencontohkan bahwa dalam bersosialisasi lakukanlah hal-hal berikut:

  • Murah tersenyum
  • Mudahkan memberi maaf
  • Toleransi dengan ramah

Adapun di dalam Al Quran, ciri-ciri teman yang baik yaitu:

  • Melindungi (QS. al-Baqarah [2]: 257)
  • Bersikap hangat (QS. Fushshilat [41]: 34)
  • Bersikap jujur (QS. asy-Syu’ara [26]: 99-101)
  • Bersikap baik (QS. at-Takwir [81]: 22)
  • Dapat dipercaya (QS. at-Taubah [9]: 16)
  • Memiliki kesamaan (QS. ash-Shaffat [37]: 51)
  • Mendukung (QS. an-Nisa [4]: 125).

Lalu, kalau suatu saat kita ketemu dan mau tak mau harus berinteraksi dengan teman yang toksik, apa yang harus kita lakukan?

Pertanyaan ini barangkali memiliki jawaban yang berbeda-beda bagi setiap orang sesuai keyakinannya. Beberapa tips yang saya dapat dari hasil baca-baca dan introspeksi ringan saya antara lain:

  • Berdo’a dan selalu berusaha memperbaiki diri.
  • Kenali sifat apa yang toksik buatmu, apakah kepadamu saja atau orang lain juga.
  • Berani katakan tidak jika diminta melakukan hal-hal yang merugikan buatmu.
  • Batasi interaksi dan fokuslah pada hal-hal yang baik darinya.
  • Meminta pendapat secara objektif dengan orang lain yang dipercaya.
  • Perbanyak amal-amal kebaikan seperti tersenyum, berbagi, dan menolong.
  • Buat dirimu berharga untuk orang lain.
  • Maafkan bila sanggup karena itu lebih utama.
  • Ikhlaskan apapun yang terjadi dengan sabar dan syukur karena semua yang kita dapati adalah takdir Allah.

Akhirnya, tulisan ini barangkali bisa menjadi pengingat untuk pribadi saya sendiri maupun teman-teman yang butuh sharing. Bagaimanapun, kita hanya manusia, hati dan perasaan Allah yang membolak-balikkan. Tinggal kita ikhlas menjalani, seberat apapun, seringan apapun, jangan lupa semua itu dari-Nya juga. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan ringan menghadapi segala rintangan, karena pada dasarnya teman toksik itu adalah sarana untuk naik level, dan teman baik itu adalah anugrah, dan semuanya tentu punya hikmah. 🙂

Wallahu’alam.

Bacaan:

Give a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s