2021 In Flashback

Qadarullah, 2021 telah berlalu menyisakan kenangan yang tidak biasa. Bagi saya, tahun 2021 adalah tahun yang cukup melankolis dan berisi pencarian jati diri. Kehilangan dan kedatangan momen-momen berharga seakan menjadi satu. Di usia yang tidak bisa dibilang muda lagi, tahun 2021 membuat saya semakin menyadari bahwa hidup itu tidak semudah dan sesempurna yang dibayangkan, namun patut untuk disyukuri.

Perjuangan menyelesaikan S2 sambil bekerja

Awal 2021 bermula dengan semangat baru menyelesaikan studi S2 di UGM. Alhamdulillah, hal itu bisa mulai saya lakukan ketika saya telah menerima SK rektor tentang pengangkatan saya sebagai PNS di Universitas Andalas, tepat pada tanggal 1 Januari 2021. Ya, saya tidak punya waktu lagi, karena rentang waktu saya hanya tinggal 1 semester lagi, dan saya sudah berazzam untuk menyelesaikannya tepat waktu. Rasanya, tidak perlu lagi saya ceritakan bagaimana lika-liku dan cita-cita saya untuk dapat melanjutkan studi hingga berakhir di UGM. Prinsip saya, apa yang sudah saya mulai, harus saya selesaikan dengan maksimal.

Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Rupanya, jika kita meluangkan waktu untuk fokus pada diri sendiri, pasti ada orang lain yang merasa dirugikan. Permasalahan pun muncul.

Urusan pertama yang harus saya kerjakan yaitu mengurus surat tugas belajar melanjutkan studi di UGM. Tanpa surat tugas, studi saya tidak dapat diakui oleh negara. Saya ingat mantan pak dekan FK Unand waktu itu berpesan, “lalui saja dengan baik sesuai dengan prosedur”. Pesan itu saya pegang, sehingga akhirnya beliau yang waktu itu sudah naik menjadi wakil rektor II bidang administrasi saya temui di kantor beliau. “Pak, saya izin melanjutkan studi S2 saya sampai selesai.”

Alhamdulillah, pak wakil rektor men-support. Beliau minta saya segera mengurus berkas-berkas yang diperlukan ke kepegawaian rektorat. Beberapa kali saya bolak-balik ke rumah sakit dan kampus untuk melengkapi persyaratan seperti surat keterangan sehat dan lain-lain. Saya juga mulai menghubungi dosen pembimbing untuk konsultasi penyelesaian tesis, sampai finalisasi draf tesis penelitian. Semua keperluan itu berbarengan dengan amanah baru di kampus yang diberikan kepada saya sebagai dosen, diantaranya koordinator blok dan anggota tim IT bidang SIMFONI, serta tugas-tugas rutin lainnya di tim student assessment, penulis skenario, fasilitator retaker UKMPPD, pengawas ujian, pembimbing tutorial, keterampilan klinik, dan lain sebagainya. Akibatnya, sebagian besar pekerjaan saya di lab terpaksa mulai saya kerjakan jarak jauh, seperti mengelola data dan administrasi surat menyurat. Ditambah lagi dengan semakin besarnya kehamilan istri saya dan anak yang butuh perhatian, pekerjaan rumah dirasa semakin berat. Sayangnya, tidak semua orang bisa menerima hal itu.

Keberadaan saya di lab mulai dipertanyakan. Salah seorang tim manajemen menganggap saya meninggalkan pekerjaan dan selalu menyentil saya setiap kali bertemu: “Si Aan menghilang dari lab”, “Si Aan sok sibuk”, hingga terdengar pergunjingan di belakang: “Si Aan tinggal nama saja”, dan lain-lain. Tidak hanya ketika bertemu, saat rapat rutin pun masih saja dibahas. Saya dipojokkan di forum dosen, dikadukan ke kepala lab, yang tidak lain adalah orang yang memberikan kepercayaan kepada saya sejak lab itu berdiri. Saya mulai diperintah ini itu dengan alasan yang aneh. Merasakan dengan jelas bagaimana berubahnya atmosfer lab saat saya berada di sana, dan bagaimana perlakuan yang saya terima dari sesama sejawat, membuat saya semacam tersiksa. Satu pemikiran dalam hati waktu itu, saya tidak terima.

Adalah saya yang barangkali di serial Harry Potter merupakan murid asrama Hufflepuff, yang tidak suka ribut, si pecinta damai, melankolis, dan pragmatis, tak pandai membela diri, apatah lagi bersuara, memilih menangkal konflik dengan menghidar. Semakin dicaci maka saya cendrung semakin menjauh, karena permasalahannya bukan pada siapa yang mencaci, tapi akibat ketidakmampuan saya memaafkan diri akibat “pembenaran yang diyakini dari objek yang dicaci”. Sederhananya, saya barangkali adalah orang yang menilai diri sendiri dari penilaian orang lain. Jika orang lain berkata baik, itulah saya, jika buruk, maka itulah saya. Jika ada yang mengkritik, saya akan bersusah payah mengoreksi, tapi jika hinaan muncul, dan sesuatu yang dihina adalah sebuah fitrah dan prinsip hidup saya, maka sulit bagi saya menetralisir. Akhirnya, muncul sindrom depresi.

Sejak itu pula, dengan berat hati, saya mulai menjauh dari lab. Tempat yang sangat saya cintai. Saya bangun dari nol bersama pak Andani sejak awal pandemi. Konflik batin mulai bergejolak, ketika tahu sahabat-sahabat yang saya percayai juga bersikap dingin kepada saya dikemudian hari dan barangkali menganggap hal yang saya alami seolah kekanak-kanakan dan sepele. Lelucon mereka terasa hambar dan minim empati. Pembulian dan “ceramah” singkat yang selalu saya terima saat ketemu menjadikan saya takut bersosialisasi lagi -setelah sekian lama berjuang dengan itu. Pribadi introvert saya mulai muncul lagi, tapi kali ini lebih menusuk dan suram. Hal itu semakin menyakitkan ketika saya tidak sengaja berpapasan dengan pak Andani ketika saya sedang sibuk mengurus surat izin belajar di ruang dekan. Beliau tidak menatap mata saya seperti biasa.

Sejak saat itu, saya merasa lonely, dan sudah mengecewakan banyak orang. Sulit juga untuk memaafkan diri sendiri yang mungkin egois, namun saya tidak bisa berbuat banyak. Saya kembali merenung, barangkali menjauh adalah solusi untuk saat itu dan waktu perlahan akan menjadi obatnya. Saya hanya meyakini, ini adalah suatu takdir dan ujian agar saya bisa lebih kuat di kemudian hari, terutama menghadapi lingkungan seperti itu.

Beberapa minggu kemudian, perasaan itu semakin tidak terbantahkan. Namun, walaupun saya berusaha menjauh dari pergaulan lab, saya tetap loyal dengan pak Andani. Saya berupaya menyelesaikan tugas-tugas tambahan lab dengan sepenuh hati, termasuk jika harus datang ke lab jika diperlukan. Ditengah konflik itu, saya sering berkeluh kesah sehabis shalat, berusaha ikhlas karena Allah memang menguji kita dengan perasaan kita sendiri. Saya juga mencari dukungan dengan mengadukan segala perasaan saya kepada istri saya yang alhamdulillah sabar dan mencintai saya sepenuh hati. Meski tak satu dua kali air mata saya berlinang membayangkan itu -lebay memang. Grup wa sahabat juga menjadi support agar saya tetap waras, dan mencari argumen yang bisa menyemangati keputusan saya. Kak Linof, senior saya di mikrobiologi yang juga aktif di lab, juga sering saya minta pendapat. Ketika saya tidak tahan, beliau berusaha menenangkan. Untuk mereka semua saya mengucapkan terima kasih. Akhirnya, saya pun merasakan dengan jelas bagaimana betul pahitnya belantara dunia kerja, beda antara lingkungan negatif yang cenderung toksik dan lingkungan yang positif yang inspiratif.

Namun show must go on, saya tetap fokus pada tesis S2. Meskipun di kampus saya juga dikejar dedline akan tugas-tugas yang menumpuk, saya pastikan semuanya selesai dengan baik sambil saya menulis proposal tesis. Setelah surat tugas belajar saya terbit, saya menenggelamkan diri belajar. Diskusi hangat akan keilmuan membangkitkan semangat saya dan setidaknya sejenak membuat saya lupa dengan permasalahan batin. Alhamdulillah, ujian tesis pun berlangsung dengan baik, dan pada pertengahan April 2021, saya diwisuda secara virtual dengan gelar M.Sc.

Sudah selesai S2, what next?

Setelah semua itu usai, saya kembali ke kenyataan. Alhamdulillah, saya bersyukur karena telah menyelesaikan satu milestone terpenting di dalam hidup, yakni sekolah. Hingga suatu sore wakil dekan II menelepon saya, bertanya perihal tugas belajar. Beliau bilang, karena saya masih dalam masa tugas, maka sebaiknya saya betul-betul off dari kampus, karena saya tidak akan menerima tunjangan remunerasi. Saya pun ikut saran beliau, meskipun beberapa tugas di kampus yang tersisa mesti saya kerjakan. Saya pun hibernasi dari semua pekerjaan, setidaknya untuk dua bulan ke depan sampai masa tugas berakhir. Saya minta izin ke ketua bagian mikrobiologi untuk tidak ikut kegiatan perkuliahan hingga surat aktif PNS saya terbit. Alhamdulillah, saya mendapat lampu hijau.

Dua bulan pasca wisuda adalah waktu rehat. Sesekali saya datang ke lab untuk mengerjakan penelitian kerjasama dengan UGM, yang waktu itu tengah melakukan uji coba alat deteksi COVID-19, namun saya somehow tak lagi nyaman berlama-lama di sana seperti dulu. Saya lebih banyak di rumah, membantu urusan lab yang bisa dikerjakan jarak jauh, sambil belajar menulis manuskrip untuk publikasi penelitian S2 saya yang telah lalu. Saya juga jadi lebih rajin berkebun di halaman rumah, membantu urusan rumah tangga, dan mengajak Rayya jalan-jalan. Saya pun bisa mengantar Yaya praktik setiap sore dan menjemputnya setiap pulang kerja. Dua bulan pasca wisuda itu, alhamdulillah saya bisa mendedikasikan diri sepenuhnya untuk keluarga, sembari menata hati apa yang mesti saya fokuskan setelah ini. Namun dari pada itu, Allah telah menganugerahkan kepada saya pekerjaan sebagai dosen, dan barangkali saya memilih untuk fokus ke sana sampai akhir hidup, sesuai dengan niat awal saya mendaftar CPNS tahun 2018 lalu. “Mengumpulkan amal jariyah di bidang ilmu”.

Niat yang suci rupanya tidak hanya mendatangkan manfaat sebatas niat yang terucap, melainkan rezeki pun senantiasa mengalir dari segi finansial. Alhamdulillah investasi waktu, pikiran dan tenaga yang saya curahkan untuk lab satu tahun belakangan ini berbuah dengan dibayarkannya dana hibah oleh pemda, serta beberapa insentif yang diberikan oleh kepala lab dari pelayanan pemeriksaan PCR yang setiap hari dikerjakan. Saya jadi bisa berzakat lebih banyak, memberi mama hadiah bulanan lebih dari biasanya, dan membantu kerabat dan tentangga yang sedang susah. Beberapa saya tabung untuk masa depan anak-anak, beberapa diantaranya saya investasikan untuk membantu usaha orang tua.

Kejutan di 2021

Beberapa waktu di awal 2021, saya pernah berdiskusi dengan Yaya. Melihatnya setiap hari sibuk mengurus anak di rumah, timbul rasa iba. Saya bertanya kepadanya tentang karir apa yang ingin dia dedikasikan nanti, karena Yaya pun adalah seorang dokter. Ia pernah menjadi peneliti di Unpad dan dokter sekaligus manager keuangan di salah satu rumah sakit swasta di Lubuk Basung sebelum menikahi saya. Namun setiap kali saya bertanya, ia selalu menjawab jadi apapun boleh asal tidak jauh dari saya, termasuk jadi ibu rumah tangga seutuhnya. Saya bersyukur untuk itu. Hanya saja saya menyayangkan potensi Yaya untuk bisa berkembang lebih jauh, jika hanya akan mengurus saya dan anak-anak. Saya pun ingin melihatnya berkarir dan tidak terkekang karena saya, dan saya merasakan bahwa sebetulnya Yaya pun punya harapan yang sama. Yaya tentu butuh me time.

Sejak akhir 2020, Yaya alhamdulillah sudah mulai menambah kesibukannya menjadi dokter di salah satu klinik swasta di Kota Padang. Ia mengisi praktik dokter umum dengan jadwal Senin sampai Rabu, pukul 4 sore hingga 8 malam. Saya melihatnya penuh dedikasi, semangat hidupnya bertumbuh dibandingkan sekedar mengurus rumah. Sampai akhirnya dia mengatakan ingin mencoba mendaftarkan diri menjadi dosen di fakultas kedokteran Universitas Baiturrahmah (FK Unbrah), Padang. Tentu saja, saya ridho dan bahagia. Saya juga senang jika ada teman yang mengambil jalan hidup yang sama di bidang pendidikan. Entah kenapa, di bulan Januari awal tahun kala itu, saya berdo’a sepenuh hati kepada Allah untuk Yaya agar bisa diterima sebagai dosen. Saat saya mengantarnya melamar di kampus tersebut, saya punya keyakinan, Allah akan mengabulkan do’a saya. Saya punya firasat yang baik untuk Yaya.

Rupanya tidak hanya itu kejutan yang saya dapat dari Yaya di awal tahun. Suatu hari, saya lupa entah sore ataukah malam hari di bulan Januari, dia memperlihatkan benda yang sama kepada saya beberapa bulan setelah menikah. Dua garis biru. Berita dari langit. Respon saya seperti di awal berita kehadiran Rayya di dalam rahim, hanya bisa ternganga. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Saya akan diamanahkan lagi seorang anak. Rayya akan punya adik.

Sampai ketika saya selesai diwisuda S2, Yaya pun sudah hamil 5 bulan. Kami selalu kontrol rutin ke dokter untuk memeriksa kehamilannya. Kami berdua pun sempat terkena COVID-19 yang ceritanya pernah saya bagi di sini. Adapun tentang berkas lamaran yang Yaya masukkan ke FK Unbrah ketika itu, alhamdulillah diterima dengan baik. Saya selalu menemaninya pergi ke Unbrah ketika diwawancara oleh Rektor dan wakil dekan. Kebetulan, wakil dekan FK Unbrah pun adalah mantan residen pembibing saya dulu waktu koas. Yaya juga punya teman dekat sesama kuliah yang juga dosen di sana, sehingga banyak kemudahan yang kami dapatkan selama proses seleksi. Qadarullah, Yaya memenuhi semua kualifikasi yang diminta, dan tidak lama setelah itu, ia menandatangani kontrak pengangkatannya sebagai dosen FK Unbrah bagian histologi, dan mendapat pembiayaan untuk melanjutkan studi S2 di bidang yang sama.

Masya Allah, kami semua bersyukur, Yaya begitu mudah rezekinya. Tentu saja rezeki yang Allah berikan juga berarti sebuah amanah yang mesti ditunaikan. Setelah bertanya kemana sebaiknya Yaya sekolah, usai meminta masukan dari para senior, dan memikirkan kondisi keluarga, Yaya akhirnya memutuskan mendaftar di S2 biomedik Universitas Indonesia. Selain karena UI tidak lagi diragukan kredibilitasnya, jaraknya juga lebih dekat dengan Padang, 2 jam naik pesawat udara. Tentu, saya dan Yaya harus bersiap-siap jika suatu saat harus LDR demi masa depannya. Setidaknya, Jakarta dirasa tidak terlalu jauh untuk bertemu satu sama lain.

Ketika masa pendaftaran seleksi masuk (SIMAK) UI dibuka, Yaya memberanikan diri mendaftar. Saya melihatnya berjuang membaca buku latihan soal sembari mengasuh anak dan bekerja part-time di klinik. Semua berkas disiapkannya dengan telaten, termasuk ketika wawancara bersama dosen UI saat seleksi masuk. Beberapa minggu kemudian, Yaya diterima jadi mahasiswa UI! Sungguh pencapaian yang tidak mudah.

Merintis lab COVID-19 jejaring di Bandar Lampung

Ketidakhadiran saya di lab sejatinya hanya bersifat fisik, namun secara batin, saya masih punya ikatan. Tugas lab yang rutin tak pernah absen saya kerjakan, seperti urusan administratif, IT, manajemen data, kerjasama, dan lain-lain. Hingga di suatu sore di bulan Juni, pak Andani menelfon saya, meminta kesediaan saya untuk menjadi penanggung jawab dibentuknya lab jejaring untuk pemeriksaan COVID-19 di salah satu rumah sakit swasta Bandar Lampung. Kala itu, Pak Andani sudah diamanahkan pula menjadi staf Menteri Kesehatan RI dan berkantor di Jakarta. Beliau mengamanahkan saya sebagai PIC di lab yang akan dibangun tersebut.

Usai menyanggupi permintaan pak Andani, saya bersama rekan di lab, Nofri, berangkat ke Bandar Lampung untuk mempersiapkan operasional lab PCR yang akan dibuka tersebut. Kami menginap di hotel tak jauh dari rumah sakit, dan disambut baik oleh pengelola dan direktur rumah sakit tersebut. Kami bahkan juga dijamu oleh kabid humas polda Lampung dan dibelikan oleh-oleh kopi khas Lampung untuk dibawa pulang.

Sekitar dua hari dua malam, saya dan Nofri berdua merancang denah bangunan dan tata ruang laboratorium dan mempersiapkan alat serta bahan yang diperlukan untuk persiapan pemeriksaan PCR untuk warga Bandar Lampung. Kami menyewa motor untuk bisa belanja kebutuhan lab lebih cepat, dan masuk ke pasar membeli perlengkapan yang diperlukan seperti freezer, laptop, printer, dan lain-lain. Kami berdua juga memastikan kiriman alat mesin PCR, mesin ekstraksi, dan reagen-reagen yang diperlukan lancar. Termasuk mempersiapkan segala dokumen yang diperlukan untuk izin operasional dari kementerian Kesehatan. Pengalaman waktu itu merupakan hal yang benar-benar baru buat saya. Saya jadi belajar banyak hal. Tantangan terberat saya adalah komunikasi, terutama dengan pejabat-pejabat yang terkait dengan pembentukan lab tersebut. Namun mengingat semangat pendirian lab jejaring itu adalah untuk masyarakat Lampung, saya merasa terpanggil. Perjuangan pendirian lab di Padang menjadi nostalgia saya untuk saat itu.

Kembali mengabdi menjadi dosen

Sepulang dari Bandar Lampung, tak lama setelah itu masa semester genap di kampus pun telah usai. Ijazah S2 saya sampai di Padang dengan selamat, alhamdulillah, beserta sertifikat cumlaude. Kenang-kenangan sederhana dari UGM seperti lencana dan selempang wisuda Master of Science mengingatkan saya akan masa-masa penuh makna ketika hidup di Jogja, sebagai seorang mahasiswa polos yang baru merintis karir. Kedatangan paket kiriman ijazah dan transkrip nilai itu juga menandakan bahwa segala aktifitas saya di UGM sudah usai, dan saya sudah menjadi alumni.

Langkah selanjutnya, adalah mengabdi. Ilmu dan pengalaman yang sudah saya dapatkan di UGM adalah bekal bagi saya berbuat untuk negeri. Allah sudah memilih Unand sebagai tempat saya berkarya, maka dari itu di sanalah saya menikmati suka dukanya. Tak lama setelah mendapat kiriman ijazah itu, saya mulai memasukkan surat permohonan aktif kembali sebagai dosen. Alhamdulillah, tidak lama setelah itu, surat aktif tersebut diteken oleh dekan dan saya resmi kembali menjadi dosen, setidaknya kini sudah 100% PNS.

Di awal kepulangan saya dari UGM ini, ada semangat baru. Kondisi pandemi yang masih melanda negeri mengharuskan kampus menerapkan pembelajaran jarak jauh. Apalagi angka kasus di bulan Juli dan Agustus 2021 adalah puncak gelombang kedua dengan korban jiwa yang tidak sedikit. Saya berusaha menikmati setiap proses, sampai perlahan situasi mulai terkendali. Awal September, Dekan sudah mulai memberlakukan pembelajaran tatap muka secara perlahan.

Menjadi bapak rumah tangga

Akhir Agustus, menjelang September, usia kandungan Yaya pun sudah cukup bulan. Yaya kemudian resign dari klinik, dan fokus di rumah. Ditambah lagi, Yaya akan mengalami fase yang berat dalam hidupnya, melahirkan dan siap-siap membesarkan anak sambil kuliah S2 di UI. Fase perkuliahan Yaya dimulai akhir Agustus, via daring, alhamdulillah. Meski begitu, kuliah sambil hamil besar dan hendak melahirkan, bukan seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan perempuan.

Seperti yang pernah saya ulas dengan detail di tulisan Kelahiran Bujang yang Tidak Biasa, anak kedua kami, Razzan, lahir di Lubuk Basung, ditolong pertama kali oleh abinya sendiri. Pengalaman yang luar biasa itu rasanya merupakan kejadian paling tidak terprediksi seumur hidup saya. Qadarullah, saya merasakannya, namun tak ingin lagi terulang. Wallahu musta’an. Yaya sendiri bahkan tidak pernah absen kuliah, bahkan setelah melahirkan di tengah malam. Besok pagi, ia kembali siap membuka layar laptop dan tabletnya mendengarkan isi kuliah dosen. Meski saya mengakui, hari-hari setelah itu akan jauh lebih sulit baginya.

Hari-hari pasca Yaya melahirkan adalah hari-hari dimana saya betul-betul terjun mengurusi urusan rumah tangga. Ketika kami pulang ke Padang, qadarullah, ART kami juga melahirkan di bulan yang sama, sehingga pekerjaan rumah nyaris saya ambil alih. Menyapu, mengepel, mencuci, mengasuh anak harus saya kerjakan berbarengan dengan tugas-tugas dosen dan labor. Yaya juga harus fokus kuliah, meskipun saya mengakui ia terpaksa kadang tidak bisa mengikuti kuliahnya dengan baik karena perhatiannya terbagi untuk si kecil. Kehidupan keluarga menjadi tidak mudah, dan penuh tantangan. Rayya juga butuh perhatian, dan acapkali menangis karena ia tidak lagi menjadi satu-satunya perhatian umminya. Ia jadi susah makan, sering rewel, dan nakal hanya untuk mendapatkan perhatian lebih umminya. Rayya jadi lebih sering sakit dan berat badannya turun, sampai harus kami bawa berobat. Meski begitu, rasa sayang Rayya terhadap Razzan tetap tidak terbantahkan.

Saya mengakui, it was not easy.

Keputusan yang rumit

Seperti beberapa kalimat pertama dalam tulisan ini, ketika kita fokus pada diri sendiri, atau keluarga sendiri, maka ada orang lain yang menjadi korban. Tidak semua orang bisa memahami, apalagi peduli. Kesibukan di rumah memang telah menyita sebagaian besar waktu saya, hingga tidak sempat mengecek pesan wa yang isinya sebagian besar adalah tentang pekerjaan. Alhamdulillah, sejauh ini pekerjaan di kampus sebagai dosen bisa saya kendalikan, namun tidak sama halnya dengan pekerjaan di lab, termasuk lab Bandar Lampung. Sekali lagi, saya telah menyusahkan orang lain.

Setelah tiga bulan berlalu, dan lab PCR Bandar Lampung sudah beroperasi, banyak masalah yang timbul berkaitan dengan tugas saya di lab tersebut. Pertama, saya gagal menjalin komunikasi yang baik dengan lab Lampung, sampai mendapatkan pengalaman yang tidak mengenakan hingga sering menerima komplain. Kedua, saya juga gagal sejak awal menjalin kerjasama dengan manajemen lab Padang, pasca kejadian lama di awal tahun. Buntut dari kesibukan saya di rumah, adalah ketidakpuasan di pekerjaan. Berusaha semampunya, semakin hari semakin banyak yang mempertanyakan kinerja saya di lab, karena memang diluar ranah pengalaman dan kemampuan saya pribadi. Saya belum siap berada di lingkungan manajemen. Ketiga, saya merasa tidak lagi di jalur yang sama ketika pertama kali lab PCR dibuka saat pandemi tiba. Orientasi profit yang dilakukan lab ditengah pandemi menyentak nurani saya. Apalagi terlibat dengan bisnis PCR. Semua orang bicara masalah duit, like never before. Manajemen lab Padang semakin disibukkan dengan investasi keuntungan hasil pemeriksaan PCR berbayar, sementara batin saya tidak lagi disana. Keempat, akumulasi permasalahan di lab perlahan tapi pasti sudah mengganggu kesehatan mental saya. Saya sering bertanya pada diri sendiri, apakah pekerjaan ini masih patut dipertahankan. Oleh sebab itu, keputusan itu saya ambil, saya ingin mengundurkan diri dari lab, for good.

Kali pertama saya menyatakan ingin mengundurkan diri dari lab langsung dicegah oleh Kak Linof. Barangkali beliau teringat bagaimana awal mula kami berdua diminta pak Andani mengelola lab itu sejak pertama kali berdiri. Lab yang akan diwariskan itu adalah untuk kami kelola di masa depan, yang menjadi penerus bagian mikrobiologi. Bagaimanapun, lab itu memang telah menyisakan kenangan yang luar biasa di hati saya. Jika boleh, saya ingin membesarkan lab itu, tapi tidak dengan diperlakukan seperti ini. Setelah masalah lab Bandar Lampung ini muncul, untuk kali kedua saya memberanikan diri menulis di grup manajemen perihal pengunduran diri. Beberapa menit setelah itu, pak Andani langsung yang menelpon saya mencegah saya melakukan niat tersebut. Saya tidak bisa menahan air mata, mencurahkan isi hati saya kepada pak Andani, yang sudah saya anggap orang tua sendiri.

Puncaknya adalah ketika lab PCR Bandar Lampung mendapat laporan dari ketidakpuasan konsumen karena kelalaian dalam administrasi dan pelaporan hasil PCR lab hingga harus berurusan dengan pengadilan. Meski alhamdulillah, masalah tersebut sudah clear dan kedua belah pihak berdamai dengan dibayarnya ganti rugi, hal itu menjadi kesan tersendiri bagi saya. Ini bukan jalan hidup yang saya pilih. I was not happy. Setelah saya konsultasi dengan kak Linof, saya kemudian menulis sepucuk surat untuk pak Andani dan tim Lampung, berisi permohonan maaf dan pengunduran diri sebagai PIC lab Bandar Lampung. Pak Andani tidak berkomentar apapun, sampai kemudian saya tahu beliau sudah punya pengganti untuk tugas saya. Saya lalu menyelesaikan sisa-sisa tugas di sana dan menyerahkan tugas sepenuhnya kepada pengganti yang sudah ditunjuk oleh pak Andani dan manajemen. Saya kemudian mohon izin untuk off dari lab, kecuali untuk membantu urusan surat dan manajemen data yang selama ini dibutuhkan.

Harus saya akui, pengalaman bekerja untuk lab tahun 2021 sebagian besar berisi pengalaman pahit. Meski begitu, saya yakin, tidak akan ada sesuatu pun yang terjadi tanpa adanya hikmah, meski kita belum tahu di masa sekarang, namun insyaAllah terungkap di masa mendatang. Cerita ini sengaja saya simpan baik-baik, sebagai pengingat, bahwa tak selamanya kita bisa memberikan yang terbaik untuk orang lain, dan tak selamanya kita akan diperlakukan baik oleh orang lain meskipun kita sudah berusaha melakukan yang terbaik. Insyaallah yakin, apapun kesulitan pasti ada kemudahan, tidak semua yang pahit itu buruk untuk kita, dan tak selamanya orang yang baik akan selalu baik, dan tak selamanya orang yang benci akan selalu benci. Ikhlas memang adalah kunci kebahagiaan. Menerima kekurangan diri adalah bentuk keikhlasan, karena siapa tahu kekurangan itulah yang mencegah kita berbuat yang dilarang oleh Allah. Yakin, semuanya sudah diatur oleh Allah, tinggal apakah kita bersyukur atau kufur, bersabar atau tidak, menjalani kehendak-Nya.

Fokus pada tridharma perguruan tinggi

Meski sempat dirundung rasa kalut, alhamdulillah, saya menemukan kebahagiaan di kampus. Setelah kembali aktif sebagai dosen, saya kembali mengisi keseharian sebagai tutor, instruktur skill’s lab, pembimbing praktikum, hingga sering bertemu mahasiswa. Berbagai pengetahuan dan pengalaman serta melihat semangat mereka menuntut ilmu, sungguh hiburan tersendiri buat saya. Saya juga selalu dilibatkan dalam acara ilmiah PPDS paru yang lagi stase di mikrobiologi, termasuk memberikan sharing mengenai keilmuan.

Hiburan lainnya bagi saya yaitu meneliti dan menulis artikel penelitian. Meski aktifitas ini memaksa saya membaca serangkaian hasil riset, menuliskan ide-ide, serta merangkai kalimat-kalimat untuk dibahas di komunitas ilmiah, entah kenapa, it was fun. Tapi, saya mengakui itu sangat tidak mudah. Hingga akhirnya, saya masih saja di tahap belajar.

Awal mulanya, saya diajak berkolaborasi dalam penelitian menggunakan dana hibah kampus FK Unand, bersama sejawat sesama mantan CPNS, ligan dan teman sohib saya, Lani. Sebelumnya saya sudah mencoba merancang penelitian pionir bersama Lani menggunakan data COVID-19 yang saya kumpulkan sejak awal pandemi dengan hasil yang cukup menarik. Proposal penelitian pun kami tulis dan kami daftarkan di Unit Penelitian dan Kajian Ilmiah (UPKI) FK Unand. Satu lagi, saya juga mengajak dr. Ira, sesama sejawat mantan CPNS yang kini menjabat di RS Unand untuk kolaborasi penelitian COVID-19 di RS tersebut. Qadarullah, ada dua proposal yang kami siapkan, dan siapa sangka, proposal yang pertama meraih nilai tertinggi dalam seleksi dan proposal kedua masuk empat besar.

Agustus 2021, penelitian proposal pertama sudah selesai, dan kami menulis manuskrip untuk publikasi. Iseng, kami mencoba mendaftarkan manuskrip tersebut ke jurnal Q1. Setelah sampai lolos ke tahap reviewer, manuskrip kami ditolak. 🙂 Percobaan yang kedua, masih di jurnal Q1, ditolak juga. Setidaknya sampai Desember lalu, kami masih mencoba memperbaiki manuskrip dan dicoba masuk ke jurnal Q2. Wallahu’alam, sampai hari ini belum ada kabar baik. Namanya juga usaha. Begitu pun dengan hasil penelitian tesis saya Mei lalu, setelah ditolak satu kali, saya mencoba submit untuk kedua kalinya dan sampai saat ini masih di tahap reviewer. Semoga ada kabar baik, wallahu’alam.

Hiburan berikutnya adalah ketika saya diajak bergabung oleh buk Widya, guru saya sewaktu kuliah dulu, konsulen Ilmu Kulit dan Kelamin, ke dalam komunitas kelompok studi kedokteran sosial andalas (KS KSA) yang beliau pimpin. Kelompok studi ini baru dibentuk, namun sudah cukup aktif dalam mengadakan kegiatan sosial yang berbau ilmiah, seperti webinar dan talkshow. Di dalamnya juga ada penelitian, dan tentu saja pengabdian pada masyarakat. Sifat grup ini agak lebih fleksibel, sehingga saya merasa dihargai di dalamnya. Alhamdulillah, selama tahun 2021, saya sudah 2 kali ikut kegiatan KS KSA dan menikmati setiap proses yang ada. Saat ini, kami sedang merancang penelitian di bidang HIV AIDS, dan beberapa penelitian lain untuk publikasi ilmiah sekaligus memberikan edukasi untuk masyarakat.

Terakhir, di bulan Desember ini pula, saya mendapat beberapa tawaran dari Bu Pipin, konsulen Ilmu Kesehatan Anak, untuk berkolaborasi membangun lab tuberkulosis resisten obat (TB-MDR) di bidang mikrobiologi. Qadarullah, saya direkomendasikan untuk ikut pelatihan TB data science in epidemiology yang diadakan oleh National Institutes of Health dan Prince Songkla University Thailand di akhir Desember lalu secara daring, dan akan berlanjut hingga Januari ini. Mudah-mudahan, relasi yang terbangun selama pelatihan nanti bisa menjadi modal untuk menjalin kerjasama yang lebih strategis untuk di masa yang akan datang. Serta, ilmu yang saya dapatkan bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Sekali lagi, saya masih di tahap bejalar, dengan modal komitmen dan semaksimal mungkin, semoga Allah senantiasa menunjukkan jalan.

Rencana di 2022

Tahun lalu, secara tidak disangka, rencana yang saya tuliskan alhamdulillah tercapai: selesai S2 dan menulis manuskrip. Bahkan Allah memberi lebih dari pada itu, termasuk kehadiran Razzan. Di tahun 2022 ini, jika Allah masih memberikan kesempatan, dan saya tahu bahwa tahun ini akan jauh lebih sulit dari sebelumya, saya berharap bisa lebih dekat dengan-Nya. Memperbaiki amalan, menambah hapalan Qur’an, dan lebih banyak bersedekah dari biasanya. Tahun ini barangkali akan saya lalui dengan introspeksi, sambil merencanakan hal-hal yang lebih realistis.

Beberapa hal yang ada dalam perencaanaan dan harus siap saya lewati antara lain: Pertama, Yaya akan ke Jakarta untuk melanjutkan kuliahnya di semester dua. Itu artinya, saya harus siap LDR dengan Yaya, Rayya, dan Razzan. Entah apakah saya siap atau tidak, semoga Allah memberikan kekuatan dan kemudahan. Semoga ketiganya selalu sehat dan bahagia dimanapun berada, serta saya bisa menemani ketiganya melalui masa-masa sulit tahun ini. Kedua, semoga Allah selalu memberikan kesehatan bagi kedua orang tua saya, juga adik saya yang saat ini mulai merintis usaha baru membuka lapangan kerja. Mudah-mudahan rezeki mereka senantiasa lancar, termasuk saya, yang beberapa saat lalu sudah berniat membeli tanah di samping rumah kami di Korong Gadang. Ketiga, jika ada peluang S3, ataupun pelatihan, semoga saya masih bisa mendaftar, dan syukur-syukur, diterima.

Ya, barangkali itulah mimpi saya tahun ini. Kita manusia hanya bisa berniat, berencana, dan berikhtiar. InsyaAllah, jika niat kita benar, itulah yang akan kita peroleh di akhir nanti. Wallahu’alam. Terima kasih, 2021, atas pelajaran hidup yang berharga.

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS. Al-Baqarah, ayat 155)

Image source: Photo by Download a pic Donate a buck! ^ on Pexels.com

2 thoughts on “2021 In Flashback

  1. Lailaturrahmi

    Benar-benar perjalanan yang berliku dan tidak mudah. Insya Allah tidak ada yang sia-sia; setiap tantangan akan membentuk diri untuk menjadi lebih terbaik; setiap kemudahan selayaknya disambut dengan rasa syukur. Semoga harapan di masa depan tercapai, An.

    Liked by 1 person

    • Syandrez

      Amin…Iya mii, insyaAllah, walaupun sebenarnya memori itu tidak mau diingat lagi tapi rasanya tidak mengapa utk diambil hikmahnya kan,, agak lega juga menulis ini, mudah-mudahan bisa jadi pelajaran..

      Liked by 1 person

Give a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s