11 Destinasi Traveling ke Payakumbuh, Sumatera Barat

Ada yang pernah dengar tentang Payakumbuh? Mungkin kota kecil di bagian timur laut Sumatera Barat ini cukup jarang terdengar dibandingkan kota-kota lainnya di Sumbar, seperti Padang dan Bukittinggi. Kota yang menjadi tempat kelahiran saya ini awalnya merupakan bagian dari Luhak Limo Puluah Koto -salah satu dari tiga daerah tertua di Minangkabau-, dan menjadi pusat pemerintahan Luhak Limo Puluah Koto dari masa ke-masa. Sempat menjadi ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota, namun sekarang sudah berstatus sebagai Kota dengan pemerintahan sendiri. Oleh karena itu, orang-orang yang berkunjung ke Kabupaten Lima Puluh Kota masih menyebutnya pergi ke Payakumbuh. Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini. 🙂

Continue reading “11 Destinasi Traveling ke Payakumbuh, Sumatera Barat”

Stunning View di Peternakan Sapi Padang Mengatas

Jika melihat pemandangan padang rumput hijau dan ratusan sapi-sapi gemuk yang berkeliaran menikmati hari-harinya di kaki pegunungan dengan pemandangan menakjubkan, mungkin kita teringat dengan New Zealand yang terkenal itu. Bukan, tapi tempat ini ada di Sumatera Barat, letaknya di kaki Gunung Sago, di daerah Padang Mengatas (Asal katanya dari Padang Mangateh –minang red.) Kabupaten 50 Kota. Udah lama banget sebenarnya pengen kesini, tapi tak pernah kesampaian karena kabut asap yang tebal menyelimuti setiap pemandangan. Continue reading “Stunning View di Peternakan Sapi Padang Mengatas”

Bukit Sawah Bebatuan, Sebuah Permadani di Nagari Kubang

Alhamdulillah, setelah sekian minggu gak sempat jalan-jalan karena lagi berdamai sama kabut asap yang makin hari makin parah, minggu lalu saya akhirnya sempat muter-muter lagi bareng motor kesayangan ke sebuah desa di Kabupaten Lima Puluh Kota. Syukurlah ketika itu asap sudah agak mulai berkurang, meskipun langit biru masih belum keliatan. Continue reading “Bukit Sawah Bebatuan, Sebuah Permadani di Nagari Kubang”

Invasi Kabut Asap

Beberapa minggu terakhir kualitas udara di Payakumbuh bener-bener menghawatirkan. Mungkin tidak separah kota tetangga, misalnya Pekanbaru yang kualitas udaranya sudah mencapai level berbahaya. Usut punya usut tentu saja gak pernah bisa jauh dengan hasil pembakaran hutan. Entah emang dibakar atau emang kebakar sendiri sebab musim kemarau. 😥 Bencana tahunan. Continue reading “Invasi Kabut Asap”

Keelokan Alam Tarusan Kamang, Sebuah Danau “Ajaib” di Bumi Agam

Pemandangan  danau mungil di sebuah padang rumput nan luas, dikawali bukit-bukit hijau menjulang gagah, sekali-kali ditemani atap gonjong dan masjid yang ramah. Ah, saya terpana melihat alam nan indah. Negeri ini seperti negeri di dalam cerita Doraemon dan Nobita. Melihat mereka sedang berekejar-kejaran di padang rumput di kaki bukit yang tampak bagai permadani. Di sekelilingnya, para burung pipit bernyanyi sambil sesekali bertengger di atas ranting pepohonan. Di sudut danau pun saya bisa menyaksikan kawanan kerbau yang sedang duduk bersantai sambil mengunyah-ngunyah makanan yang mereka makan. Sebagian mereka tampak asyik bermain di dalam kubangan, seperti tak mau pulang. Itik pun tak mau ketinggalan, duduk cantik di tepian danau, sambil sesekali berbaris menyeberangi danau. Ah. Sungguh luar biasa Sang Khalik menciptakannya. Masya Allah.
Continue reading “Keelokan Alam Tarusan Kamang, Sebuah Danau “Ajaib” di Bumi Agam”

Kampung Kecil yang Pernah Jadi Ibukota Negara

Kali ini saya ingin sedikit cerita tentang traveling singkat dua minggu yang lalu. Pagi-pagi di hari Minggu, bersama motor mio hitam yang sudah jadi teman baik saya sejak SMA dulu, kami berdua menelusuri jalanan menelusuri kabupaten Lima Puluh Kota ke arah Barat. Awalnya kepengen banget lihat-lihat sebuah nagari kecil di pelosok kabupaten Lima Puluh Kota bernama Koto Tinggi. Nagari kecil ini bukan nagari sembarangan, bahkan dulunya pernah jadi ibukota negara di masa Pemerintahan Darurat RI (PDRI), saat ibukota Negara jatuh ke tangan Belanda pada agresi Belanda ke II tahun 1948. Continue reading “Kampung Kecil yang Pernah Jadi Ibukota Negara”

Episode Perdanaku di Tanah Tabuik

Dua minggu yang lalu aku menginjakkan kaki di tanah Tabuik, sebuah sebutan alias jargon dari sebuah kota di pesisir barat sumatera, Pariaman. Kota yang begitu apik dan rapi, nyaman dan bersahabat. Indah dengan deretan pantainya, dan segenap kulinernya. Aku baru pertama kali menginjakkan kaki disana, setidaknya dalam beberapa tahun ini. Dulu aku rasanya pernah mengunjungi daerah ini, tapi waktu itu aku masih sangat mungil dan masih unyu..hhehe. Aku pun tak ingat persis dimana posisinya, semacam pantai pasir putih yang menawan, itu yang ku ingat.

Bermodal uang Rp 2.500, *OMG! aku bisa menuju Pariaman dari Stasiun Simpang Haru Padang menggunakan kereta api kelas ekonomi. Rute yang cukup panjang dan butuh waktu satu setengah jam untuk mencapai stasiun Pariaman. Meski kereta ekonomi, gerbongnya tetap ber-AC dan nyaman dinaiki. Dua ribu lima ratus saja! Aku cukup kaget dengan harga yang super murah ini bisa mengantarku kesana, bahkan lebih murah dari ongkos naik ojek dari kosanku di balik pagar stasiun sekitar Rp 4.000. hahaha. Continue reading “Episode Perdanaku di Tanah Tabuik”

Eid Mubarrak in The Village

Yesterday i went to my father’s village, located a quite far from Bukittinggi, but still in Agam region. Palembayan it was. A beautiful small village surrounded by tropical hills and cliffs, paddie field, fresh river and amazing view. Even though there was not a very good road to go there, *there were many off-road spots on the way.., but I was glad to have Eid with my family there.

At usual, it was about three-hour drive from my house in Payakumbuh, we (me, mother, father and my little brother) left our home at seven o’clock in the morning, decided to have Ied pray in Palembayan mosque. Maybe it was too late, but we were still keep going. At least, the traffic that morning was quite deserted alhamdulillah.. so we could arrive on nine o’clock and had a chance to pray in Masjid Raya Lubuak Gadang at the time. Continue reading “Eid Mubarrak in The Village”

Di Bawah Lindungan Kabah, The Best Indonesian Movie I’ve Ever Seen

Entah apa gerangan yang membawa aku menonton film drama Indonesia yang satu ini. Saat membuka situs youtube, ternyata ada film bertemakan kehidupan masyarakat Minangkabau tahun 20-an ini. *Always excited if it’s about my hometown. Ditambah lagi film ini diambil dari karya seseorang yang sejak dulu aku kagumi tulisan beliau, Buya HAMKA. One of my inspiration. *-*

Film ini berkisah tentang seorang pemuda cerdas yang hidup sederhana berdua dengan ibunya. Ia bernama Hamid. Cita-citanya adalah ingin ke Mekah, naik haji. Hamid diam-diam menyukai seorang perempuan keluarga bangsawan kampung, bernama Zainab. Tentu saja, film drama selalu menyuguhkan kisah cinta. Continue reading “Di Bawah Lindungan Kabah, The Best Indonesian Movie I’ve Ever Seen”

Ibukota Super Kumuh

Maaf jika judul tulisan ini kurang berkenan, karena an ingin bicara tentang kondisi kota Padang yang makin hari an liat makin ruwet. Satu sisi saja misalnya, dari segi kebersihan. Pasca gempa 30 September yang lalu, kota yang dulunya langganan Adipura kayaknya sekarang sudah tak mungkin lagi jika masalah ini tidak teratasi juga. Gerah saja, melihat tumpukan sampah masya Allah hampir di setiap sudut kota, terutama Pasar Raya. Continue reading “Ibukota Super Kumuh”

Gempa Padang, Sebuah Pelajaran

Bendera setengah tiang di

Basko Grand Mall Padang

Sebuah trauma yang sangat membekas memang sulit untuk dilupakan. Persis seperti apa yang saya pelajari di perkuliahan, dimana hipokampus begitu cepat menerima rangsangan memori jika hal tersebut melibatkan semua organ sensoris tubuh kita termasuk emosional kita terhadap impuls trauma ataupun stressor. Neuron-neuron ingatan baru distimulasi untuk diciptakan, sehingga memori itu bertahan begitu lama. Demikianlah pula dengan beberapa hari ini, ketika saya melihat puluhan bendera merah putih yang terpasang setengah tiang di depan rumah-rumah penduduk Padang. Hal ini mengingatkan saya akan kejadian yang mungkin saja selamanya tidak akan dapat saya lupakan, yakni Gempa 30 September 2009. Continue reading “Gempa Padang, Sebuah Pelajaran”