Negeri Penuh Sapa-Sapa

Terletak di jalur selatan Sumatera Barat, mendekati perbatasan dengan provinsi Jambi, terdapatlah sebuah perkampungan nan elok yang dikelilingi oleh dua barisan bukit di timur dan di baratnya. Perkampungan yang berhawa dingin di malam harinya, namun terik di siang harinya, dengan gugusan pondasi perbukitan yang indah, dan persawahan yang luas terbentang, aliran sungai yang tenang dan jernihnya, begitu mempesona. Perkampungan ini terletak tak jauh dari sebuah kota kecil yang sedang berkembang, mengekspresikan semangat masyarakatnya dalam berdagang. Ya, kota kecil yang mungkin lebih layak disebut pasar, karena disana berjejer pertokoan di samping kiri dan kanan jalannya, dan ramai dikunjungi masyarakat setiap Senin dan Kamisnya. Mereka menyebutnya Muaro Labuah. Disanalah perkampungan itu bertetangga, perkampungan ya ku kenal dengan nama Sako Selatan Pasia Talang. Continue reading “Negeri Penuh Sapa-Sapa”

Kita Adalah Tunas-Tunas Berlian #Simplestory

Mereka tetap sama, muda-mudi yang labil dan galau. Meskipun terkadang ngigau, tapi sejatinya ngena. Mereka menyebutnya Makula Densa. Dipelesetkan menjadi nama keren dan beken, meskipun maaf, agak norak, haha. “Mak Den”. Bukan emak loe atau emak gue. Hehe.

Dia, seorang cowok, datang kala itu dengan wajah terlugu yang ia punya. Memang sejatinya dia adalah anak yang sungguh lugu dan polos. Cupu dan agak pendiam. Dia sendiri yang menyebut dirinya demikian. Well, setidaknya ia patut diancungi jempol karena dia cukup tahu diri.

Mereka mengajaknya duduk melingkar di atas sebuah teras. Dia memang pantang diajak, karena sebuah ajakan menurutnya adalah sebuah penerimaan. Anak yang sejatinya kuper dan rumahan, bukan karena dia memilih demikian, tapi ia tak merasa ada di luar sana. Semacam introvert tingkat dewa. Tentu saja ia senang diajak. Apalagi, kali ini ia diajak duduk melingkar di sebuah teras, dalam sebuah kelompok belajar, didengar dan diperhatikan. Continue reading “Kita Adalah Tunas-Tunas Berlian #Simplestory”

Puncak Kegalauan

Dua ribu tiga belas. Insya Allah, jika Allah berkenan, tahun ini aku akan memakai baju putih dan melayani pasien di Rumah Sakit. Bahasa kerennya, menjadi seorang dokter muda. Meskipun istilahnya sudah ganti, tapi hakikatnya masih sama. Koass. Entah kapan hal itu akan benar-benar terjadi. Semakin menghitung hari, aku semakin deg degan.

Tak bisa ku pungkiri, rasanya penuh kesyukuran saat melalui ini semua, dan alangkah tingginya karunia Allah padaku selama tiga setengah tahun belajar di FK ini. InsyaAllah, beberapa hari lagi, jika Allah memperkenankan itu semua terjadi, aku diizinkan oleh Allah untuk lulus perdana  dari sekian ratus kepala di angkatanku, satu dari dua puluhan lainnya. Bagiku, itu suatu karunia Allah swt yang sungguh besar, meskipun aku tak memungkiri bahwa pasti Allah telah menetapkan rencana-Nya untuk setiap hamba-Nya, untukku, untuk sahabat-sahabatku yang belum berkesempatan untuk lulus perdana. Dan aku sangat yakin akan hal itu, saat kita telah berjuang. Semua itu adalah rencana-Nya, kehendak-Nya. Tak mesti ada kebanggaan, tak perlu ada kekecewaan, insya Allah.

Namun tetap saja, masa depan dan hari esok belum menjadi kenyataan, masihlah angan-angan. Setiap apapun harapan yang mungkin datang, jangan sampai membuat kita lupa dengan kuasa Allah swt. Dengan takdirnya. Dengan ketentuan-Nya, yang masa depan itu masih berada di genggaman-Nya. Kita hanyalah hamba yang lemah yang mesti terus berusaha dan berdo’a, agar Ia mentakdirkan sesuatu yang baik untuk kita. Continue reading “Puncak Kegalauan”

Buku Hijau

Segala Puji Hanya Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.

Dari sekian perjuangan yang telah dilalui, buku hijau inilah saksi bisu segalanya. Saat mendengar kalimat, “sudah bagus, kamu lulus”, dunia serasa berhenti berputar. Mataku tak kuasa berlinang berkaca-kaca. Ya Allah, Engkau sungguh baik padaku.

Satu prinsip yang selalu ku coba tanamkan dalam hati adalah, “sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan”. Kalimat suci yang tertulis di dalam Al-Qur’an ini, dipesankan ibu kepadaku, di saat apapun, sesulit apapun. Dan keyakinan itu berbuah manis dengan hadirnya buku hijau ini. Ku pikir, ini adalah buah hasil segalanya. Continue reading “Buku Hijau”

Entering the Final Round

Babak baru kehidupan, itulah sebuah kalimat yang mungkin dapat menggambarkan kehidupanku selanjutnya. Namun, masih tersisa satu ronde final untuk menggapai babak tersebut, ini semualah penentu apakah aku layak atau tidak memasuki babak baru kehidupan itu, babak baru kehidupan dunia per coass-an.

Kamis kemarin, saat melewati ujian terakhir di seluruh blok ini, setelah perjuangan selama tiga setengah tahun ini, akhirnya aku benar-benar akan mengatakan, “aku benar-benar selesai”. Meskipun, hasil blok terakhir belum diumumkan, aku berharap aku bisa melewatinya seperti melewati blok-blok sebelumnya yang alhamdulillah Allah selalu memberikan hasil yang terbaik dari usaha yang ku lakukan. Continue reading “Entering the Final Round”

Lukisan Wajah-Wajah

Tiga minggu sudah kami berkelana di bagian bedah. Disini, ceritanya berbeda, perjuangannya pun berbeda. Melihat manusia-manusia mulia -tanpa mereka menyadarinya- itu memang sungguh sesuatu hal yang berbekas bagiku. Mereka yang di atas dipan, diatas lantai, menyiapkan cerita-cerita dan ilmu-ilmu gratisnya untuk kami. Aku semakin merasa terpanggil untuk menggeluti ini semua.

Aku bukanlah tipe mahasiswa pintar dan brilian, tapi aku tak mau juga jadi orang yang biasa-biasa saja. Hanya melakukan yang bisa aku lakukan, jika boleh, aku ingin melakukan yang lebih dari sekedar apa yang bisa kulakukan. Karena, mereka-mereka yang memiliki lukisan wajah yang beraneka ini, membutuhkanku suatu hari nanti. Butuh atau tidak, aku pikir, setidaknya suatu saat aku bisa memberikan perananku untuk mereka. Continue reading “Lukisan Wajah-Wajah”

Skipsi Sayangku

Ceritanya hari ini mau ketemu pembimbing, setelah beberapa kali ketemu dan mendapat beberapa perbaikan untuk penulisan skripsi. Alhamdulillah udah final tapi masih pusing sing sing dengan yang namanya statistik. Mau ngeluh sama siapa? Pengennya kalau ngeluh langsung bisa ngerti statistik. Akhirnya ngeluh sama Allah aja. hhe.. Tapii…..sang pembimbing ternyata tidak berada di sana.. Oh hidup yang penuh cobaan ~

Dan akhirnya skripsiku sudah selesai ku print beberapa lembar, sudah dikepang pake penjepit kertas, terkesan asal jadi tapi itulah dia sayangku skripsiku. Hawa-hawa malas mengerjakannya masih membekas di setiap filamen otot. Tapi apalah daya, tanpanya aku terancam tak akan yudisium giliran pertama. January will coming soooooonn ><. Dan skripsiku belum diseminarkan jugaaaa… Continue reading “Skipsi Sayangku”

Jasa-Jasa Pasien

Mereka datang dari negeri yang berbeda-beda, dengan keluhan-keluhan yang tak sama. Mereka datang tanpa perlu diundang, berkunjung tanpa diminta. Mereka rela bercerita apapun tentang keluhannya, bahkan secara tak sadar mereka telah memberikan banyak ilmu untuk kami, mahasiswa kedokteran.

Mereka itu adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka itulah pasien. Tanpa mereka, kami tak tahu akan belajar apa, bahkan kami tak akan bisa menjadi dokter tanpa adanya mereka. Dengan keberadaan mereka lah, kami belajar banyak hal. Tak hanya pelajaran mengenai kedokteran yang kami geluti setiap hari, melainkan juga pelajaran moral dan arti kehidupan. Hal tersebut kami dapatkan dari mereka, sungguh besar jasa-jasanya. Continue reading “Jasa-Jasa Pasien”

Sejenak Memikirkan Ajal

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepdamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira pada orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun”. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Penggalan terjemahan surat Al-Baqarah ayat 155-157 ini sungguh indah, menurutku. Ayat ini salah satu favoritku. Saat kita ditimpa musibah apapun itu, inilah motivasi luar biasa yang tertulis di dalam Al Quran. Rasanya, tiada lagi alasan untuk larut dalam kesedihan, mengingat balasan yang akan kita peroleh dari kesabaran. Continue reading “Sejenak Memikirkan Ajal”

From Now on, It Depends on You

It depends on you.

Inilah kalimat terakhir yang sangat membekas saat menempuh hari terakhir di stase interne saat JC. Kata-kata motivasi ini diucapkan oleh tutor kami, ketika selesai membimbing murid-muridnya yang lugu ini. ckck

Entah mengapa kalimat sakti itu membuatku gemetar, apalagi sebelumnya diselingi dengan kalimat-kalimat motivasi dan kalimat-kalimat harapan lainnya. Aku pikir, aku begitu beruntung bisa bergabung di kelompok ini, bertemu dengan tutor-tutor yang berhati mulia seperti beliau. Continue reading “From Now on, It Depends on You”

Lelaki, Sepeda, dan Payung

Musim hujan telah tiba. Sembari mengucap hai selamat datang pada rintik-rintik air dari langit ini sambil membujuk agar gak bikin banjir, saat itu pula payung yang terlipat dengan bagusnya di dalam tas yang ku bawa setiap hari mulai berfungsi. Ya lah, sedia payung sebelum hujan, meski kemaren-kemaren ini musim panas. Kalau biasanya cewek make payung kalau lagi panas, cowok gak mesti lah. Ngapain. hahaha, cukup pake jaket kupluk buat menghindari sengatan ultraviolet di Padang yang ganas ini.

Masih dengan sepeda yang sungguh setia ini, jika teringat jasa-jasanya menemaniku semenjak ku duduk di bangku MTsN dulu, sampai sekarang siapa menyangka sepeda ini akan tetap membawaku menuju kampus kedokteran. Sambil bersepeda itulah hujan kadang menyapaku. Akhirnya payungku bicara. Warnanya biru. *Aku mencintai warna biru, tanpa alasan. Dengan kerennya payung itu ku pegang dengan tangan kananku, sementara tangan kiriku memegang pegangan sepedaku yang juga berwarna biru. ckck. Ku tetap menggayuh sepeda ditemani hujan yang sejak tadi ingin mengajakku bicara. Kadang, hujan itu sangat cerewet. Continue reading “Lelaki, Sepeda, dan Payung”