Surabaya North Quay, Eksotisme Tanjung Perak dan Selat Madura

Kali ini saya ingin kembali melanjutkan cerita perjalanan saya ketika mengunjungi Surabaya tempo hari. Waktu itu sekitar pukul 3 sore, usai menyantap soto Surabaya yang lezat di depan Mall Carrefour ITC, saya kemudian memutuskan untuk kembali mengunjungi Pelabuhan Tanjung Perak. Kali ini, saya yakin pelabuhan itu sudah dibuka. Ya, semoga saja.

Continue reading “Surabaya North Quay, Eksotisme Tanjung Perak dan Selat Madura”

Keliling Surabaya: Monumen Suro dan Boyo, Taman Bungkul, Masjid Cheng Ho, dan Soto Surabaya

Perjalanan saya di Surabaya kembali berlanjut di siang itu. Usai mengunjungi Museum Sampoerna, saya kemudian berniat pergi melihat kebun binatang di kota Surabaya yang katanya bagus sekali. Saya lihat di Google Maps, kebun binatang itu lokasinya juga berdekatan dengan ikon legendaris kota Surabaya yakni Patung “Suro” dan “Boyo”. Karena memang rasanya belum afdol datang ke Surabaya tanpa mengunjungi monumen buaya dan hiu yang berlaga itu, saya akhirnya memantapkan diri untuk pergi ke sana. Continue reading “Keliling Surabaya: Monumen Suro dan Boyo, Taman Bungkul, Masjid Cheng Ho, dan Soto Surabaya”

“Nyeleneh” di Tanjung Perak sampai Museum Sampoerna

Wah, sudah cukup lama saya tidak melanjutkan cerita di Surabaya tempo hari. Kali ini saya ingin sedikit mencatat pengalaman perjalanan berikutnya setelah mengunjungi Tugu Menara Pahlawan.

Perjalanan berlanjut ketika pagi menjelang siang itu panasnya kota Surabaya mulai membakar kulit. Hari benar-benar cerah, begitu juga dengan semangat saya. Ada beberapa spot yang ingin saya lihat di Surabaya, dan pilihan berikutnya jatuh ke pelabuhan paling termasyur di kota ini, yaitu Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Saya hanya penasaran melihat kapal-kapal besar yang konon katanya datang dari tempat-tempat terjauh di negeri ini. Saya kemudian memutuskan untuk pergi ke tempat itu.

Continue reading ““Nyeleneh” di Tanjung Perak sampai Museum Sampoerna”

Cerita Awal di Surabaya, Stasiun Pasar Turi dan Menara Tugu Pahlawan

Perjalanan terus berlanjut, sampai hari itu akhirnya saya tiba di ibukota provinsi paling timur dari Pulau Jawa. Ya, Surabaya. Saya pertama kali tiba di kota itu sekitar pukul 4 subuh, saat Stasiun Pasar Turi menyambut saya dengan dingin. Usai turun dari kereta yang membawa saya dari Kota Semarang hingga sampai di stasiun ini, saya melangkah keluar area peron, dan sehabis mencuci muka sejenak di toilet stasiun, saya pun berjalan hingga langit yang gelap mulai menyapa saya kembali. Di luar sini, suara azan mulai terngiang, tanda waktu Subuh telah masuk. Saya lalu mengikuti sumber suara itu, hingga takdir menghantarkan saya tiba di Masjid Baiturrohim Stasiun Pasar Turi. Continue reading “Cerita Awal di Surabaya, Stasiun Pasar Turi dan Menara Tugu Pahlawan”

Keliling Kota Lama Semarang Sehabis Petang

Cerita di Semarang masih berlanjut ketika saya termenung duduk di depan lokomotif tua di Lawang Sewu. Waktu itu sore hari, sekitar pukul setengah lima. Saya masih terduduk memikirkan kartu memori kamera saya yang sudah penuh. Ketika saya berusaha hendak memindahkan foto-fotonya ke dalam flashdisk, rupanya USB slot saya rusak. Akhirnya, usai berpikir sejenak, saya memutuskan mencari toko elektronik yang ada di dekat sana. Siapa tahu ada yang menjual USB slot ini. Continue reading “Keliling Kota Lama Semarang Sehabis Petang”

Keliling Singkat di Lawang Sewu Semarang, Saksi Sejarah Kereta Api Indonesia

Perjalanan saya di Kota Semarang terus berlanjut usai mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah. Di sore hari menjelang Ashar, saya memutuskan untuk mengelilingi kota dengan Gojek saja, pasalnya dari masjid tidak ada rute Trans Semarang dan saya juga tidak begitu familiar dengan angkot Semarang. Keputusan itupun sepertinya adalah yang paling efisien dari segala pilihan.

Destinasi selanjutnya yang saya kunjungi adalah Lawang Sewu Semarang. Mas-mas gojek mengantar saya tepat di depan gerbang masuk gedung tua peninggalan Belanda itu. Pertama kali tiba di sana, saya cukup terkesan, gedung tua itu benar-benar sangat terawat. Lokasinya berada di depan Tugu Muda Semarang yang terletak di daerah pusat kota, dan sampai saat ini menjadi ikon utama kota Semarang. Continue reading “Keliling Singkat di Lawang Sewu Semarang, Saksi Sejarah Kereta Api Indonesia”

Shalat Jum’at di Masjid Agung Jawa Tengah, Awal Jumpa Semarang

Akhirnya, Semarang, saya datang! Pagi itu saya semangat sekali. Terbangun di kamar hotel, beres-beres dan sudah wangi, lalu baju di laundry juga sudah disetrika dan digulung rapi di dalam ransel, saya pun siap berangkat. Sekotak bakpia yang saya beli di Malioboro beberapa waktu lalu juga sudah ludes. Usai sarapan dengan roti sobek dan segelas air teh hangat yang disediakan petugas hotel, saya pun mulai melangkah. Next destination, Semarang City! Continue reading “Shalat Jum’at di Masjid Agung Jawa Tengah, Awal Jumpa Semarang”

Hari Terakhir di Jogja, Malioboro dan Kraton Yogyakarta

Dua hari saja di Jogja memang rasanya belum cukup untuk mengelilingi sekaligus menikmati semua tempat menarik di kota ini. Tapi, bagi saya dua hari di Jogja itu cukup istimewa. Sehabis dari Borobudur, entah kenapa saya masih saja pengen keliling di Malioboro. Sebenarnya jalan ini biasa saja, tapi antusiasme orang-orang yang mengunjungi tempat ini membuatnya berbeda.

Continue reading “Hari Terakhir di Jogja, Malioboro dan Kraton Yogyakarta”

Pertama Kali ke Borobudur

Hari kedua di Jogja. Usai diguyur hujan sejak sore hari kemarin, kota ini mulai kembali cerah dan terasa sejuk. Pagi ini saya berencana berangkat ke luar kota menuju Candi Borobudur. Candi ini terletak di barat laut dari pusat kota Jogja, melewati perbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah. Karena jauh, saya tak mungkin naik Trans Jogja seperti ke Candi Prambanan. Setelah browsing, saya tahu jika menuju Borobudur bisa menaiki bus di terminal Jombor. Terminal ini terletak di sebelah utara dari pusat kota dan dapat dicapai dengan Trans Jogja.

Continue reading “Pertama Kali ke Borobudur”

Kehujanan di Benteng Vredeburg dan Masjid Gedhe Kauman

Yup, masih di Jogja. Perjalanan saya berlanjut setelah usai mengunjungi Candi Prambanan. Waktu itu hari sudah siang, kaki saya juga lumayan letih jika harus dibawa berjalan kembali menuju Terminal Prambanan yang jaraknya 2 kilometer dari kompleks candi. Akhirnya, setelah keluar dari sana, saya mencoba menaiki becak dorong yang terparkir di persis dekat gerbang masuk. Awalnya saya ditawari harga Rp 25.000 sekali jalan, saya mencoba menawar … Continue reading Kehujanan di Benteng Vredeburg dan Masjid Gedhe Kauman