Subuh Hari di Kota itu

Subuh ini jalanan Padang terlihat lengang, meskipun beberapa kendaraan hilir mudik berlalu lalang. Akan tetapi tetap saja tidak ramai, hingga ku mantapkan ayunan sepedaku mengitari setiap jalurnya, sampai keringatku mulai sedikit bercucuran. Di kiri kanan sudut jalanan itu, bangunan yang ada masih tertutup rapat, lampu terasnya masih hidup, hanya beberapa saja yang sudah dimatikan penghuninya. Lampu jalanan masih menyala, memecah kegelapan yang mungkin saja ada jika tanpa kehadirannya. Satu persatu darinya ku lewati, hingga ku temukan beberapa orang yang juga asyik mengayuh sepedanya sepertiku. Ada juga yang sedang berjalan kaki, dan berlari-lari kecil, melompat-lompat dan melakukan pemanasan. Seolah-olah semangat subuh hari itu tidak hanya datang dari diriku saja.
Ku terus mengitari kota Padang yang mulai terasa sempit bagiku. Di depan mesjid Nurul Iman pun sepertinya sudah cukup ramai, penuh dengan pengunjung swalayan kecil yang selalu buka setiap subuh hari seperti ini. Demikian juga dengan Pondok, penjual tepi jalanan pun mulai memadati areal persimpangan kampung Cina itu. Entah apa yang dijualnya, aku tak tahu. Sepertinya sejenis makanan yang dibungkus dengan plastik dan ditaroh di dalam box khusus seperti itu.
Hingga pukul enam pagi ku tiba di tepi pantai Padang yang cantik. Namun gelap gulita, sepertinya lampu jalanan disana sudah dimatikan petugasnya. Tapi tiada mengapa, ku terus menggayuh sepeda. Lagu Feel my Soul dari Yui yang terdengar dari headset kecil di telingaku sudah cukup membuat ketenangan. Dan ketika lagu Good-Bye Days pun berputar, tiba-tiba ku teringat dengan film Taiou No Uta, karena lokasi bahkan suasananya subuh hari di tepi pantai ketika itu mirip sekali dengan yang ada di salah satu cuplikan film favoritku tersebut. Fikirku sempat berkhayal, ahh..hahaha. Astaghfirullah..
Tidak banyak yang kulakukan pagi itu, hanya saja beberapa gedung dan tempat telah ku lewati bersama dengan teman setiaku ini, sepeda biru butut ini. Udara pagi di kota ini ternyata lumayan segar, diikuti sepoi-sepoi angin pagi yang menentramkan. Saat itu ku berfikir, inilah kota tempat aku memulai sejarah kehidupanku. Ku berusaha mencintai kota ini seperti kota kelahiranku, karena disinilah.., ku mulai membuka mata, ketika mataku telah mampu melihat.

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s