2018 in Flashback

This worldly life is no more than play and amusement, but far better is the ˹eternal˺ Home of the Hereafter for those mindful ˹of Allah˺. Will you not then understand?
(Q.S. Al-An’am: 32)

Tahun dimana masa depan bermula, itulah 2018 bagi saya. Alhamdulillah, setelah sekian lama tak lagi aktif menulis, setidaknya tulisan kali ini bisa menjadi pengobat rindu akan hobi lama yang semakin terpendam. Untuk membuka cerita di awal 2019 ini, ada baiknya jika saya kembali sedikit merangkum apa saja yang sudah saya lakukan dan saya alami di tahun lalu, mimpi apa yang belum dan sudah terwujud, dan moga-moga bisa menjadi catatan yang baik untuk menghadapi 2019 ini.  Amin.

Beberapa Bulan Penuh Drama

Awal tahun 2018 adalah sebuah titik dimana impian-impian saya di tahun 2017 mesti dibungkus rapi dan disimpan baik-baik agar sewaktu-waktu bisa saya buka kembali. Literally, begitulah adanya. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya di “2017 in Flashback” saya dulu pernah bercita-cita ingin sekolah di luar negeri. Jika kembali mengingat bagaimana perjuangan ketika mendapatkan skor IELTS yang cukup untuk melamar S2 di Inggris, dan bagaimana akhirnya beberapa LOA unconditional dari beberapa univerisitas di UK saya peroleh namun tersandung pada masalah biaya dan beasiswa terutama LPDP, saya menyadari bahwa ternyata impian itu sepertinya belum akan terwujud saat itu.

Meskipun begitu, saya masih menyimpan sebuah semangat untuk mencoba mendaftar di beasiswa lain, seperti Chevening dan Australia Awards yang kedua-duanya juga ternyata gagal saya raih. Well, setidaknya paling sedikit setelah lima kali percobaan ikut seleksi beasiswa dan saya gagal semua hingga membuat saya termenung panjang menatap langit malam yang diguyur hujan lebat pada suatu malam, saya akhirnya menyadari bahwa ini adalah keputusan Allah dan insyaAllah kegagalan ini adalah jalan yang terbaik. Lagipula jika dibandingkan dengan cerita banyak orang di luar sana yang telah ikut seleksi yang sama dan berkali-kali gagal, kisah saya belumlah seberapa. Oleh sebab itu, tak ada cara lain selain move on. Syukurlah, beban pekerjaan di kampus dan rumah sakit yang semakin menumpuk alhamdulillah justru mampu mengalihkan perhatian saya dan membuat saya tetap semangat untuk berjuang di lain waktu. Lagipula ayahanda dan ibunda selalu mensupport.

Meski demikian, cerita di atas sedikit banyak melatarbelakangi perjalanan saya meninggalkan Padang untuk sementara waktu dan menghabiskan waktu untuk traveling dan backpackering dengan adik semata wayang menuju negeri serambi Mekah, Aceh Darussalam (yang ceritanya belum sempat saya tulis semuanya). Selain berniat menghibur adik saya yang juga ternyata gagal dalam seminar proposal kuliahnya, kami berdua akhirnya pergi melepaskan stress di tempat masing-masing dan bertualang ke ujung barat Indonesia. Ingat-ingatlah, ini hanyalah dunia.. 🙂

Melengkapi Separuh Agama

Berbarengan dengan sekian drama pergantian tahun, adalah akhir 2017, kisah romantis yang jarang singgah di pikiran saya mulai datang usai  hampir mengalah dengan cita-cita sekolah ke luar negeri. Entah apa gerangan waktu itu, hingga saya pulang ke Payakumbuh dan menghabiskan waktu berdua dengan ibunda di rumah pada suatu malam dengan mengobrol dan curhat. Sentilan mengenai beberapa orang yang pernah bertanya tentang “hati” saya lalu saya ceritakan sejelas-jelasnya kepada ibunda. Malu memang mengungkapkan, tapi kebiasaan saya jujur pada ibunda membuat saya berpikir tak ada yang mesti ditutup-tutupi pada beliau. Beberapa nama sempat datang melalui perantara teman dan kenalan, dan itu semua sudah beliau dengar sendiri. Ibunda tahu sekali prinsip saya yang tak akan pernah pacaran atau menjalin hubungan sebelum halal karena agama dengan tegas melarang. Sampai suatu ketika ibunda akhirnya menyampaikan perasaan terpendam beliau kepada saya. Rupanya, beliau telah menemukan sosok yang saya cari, demikian lebih kurang kalimat beliau.

“Siapa, Ma?” saya bertanya penuh penasaran.

Ibunda lalu menyodorkan sebuah nama, lengkap dengan latar belakangnya. Saya tahu dan yakin kalaulah jika ibunda yang menawarkan, maka disanalah letaknya keridhoan beliau. Itulah yang saya cari dan saya butuhkan. Maka tak lama setelah itu, dimulailah masa ta’aruf, masa-masa saling mengenal, dengan niat ikhlas melepas masa lajang alias bye-bye jomblo fisabilillah.

Perkenalan saya dengan Seseorang yang namanya telah tertulis di Lauh Mahfuz tergolong cukup singkat dan nyaris tanpa basa-basi tapi jelas penuh malu-malu. Saya tak berani langsung menghubunginya meskipun tahu jikalau ayahanda beliau telah mengizinkan, karena ternyata ibunda saya dan ayahanda beliau telah lama berkomunikasi lewat perantaran seorang kolega yang sama-sama bekerja di tempat ibunda mencari nafkah. InsyaAllah salihah, hafiz quran, tak pernah pacaran, dan seperti “padusi isuak-isuak”, canda Ibunda saya menirukan kalimat ayahanda beliau. Usia kami hampir sebaya, meski hanya beda satu bulan dan beliau juga sama-sama dokter namun satu angkatan di bawah saya.

Masa-masa ta’aruf itu pun saya mulai dengan mencari tahu latar belakang beliau di sosial media yang alhamdulillah tampak terjaga. Setelah tahu asal usulnya, hari itu juga saya langsung menghubungi salah seorang sahabat perempuan yang dulunya ternyata satu SMA dengan beliau. Alhamdulilah, sahabat saya ini dengan senang hati mencari tahu seluk beluk informasi mengenai beliau dari teman-teman satu almamaternya hingga perlahan keyakinan saya semakin kuat. Akhirnya, beberapa hari yang mendebarkan, saya pun memberanikan diri mengirim pesan di WA dengan bahasa yang seadanya, tapi rupanya mengena (penuturan beliau). Beliau pun bersedia untuk melanjutkan pada proses yang lebih serius, yakni ta’aruf.

Pertengahan Januari 2018, beliau bersama keluarga baru kembali dari Mekah dan Madinah usai melaksanakan ibadah umroh. Begitu pula dengan saya, meskipun hanya baru sampai ke serambi Mekah a.k.a Aceh. 🙂 Proses ta’aruf itu kami mulai dengan saling bertukar biodata via e-mail, (seperti hendak melamar pekerjaan saja, ckck) sementara saya membiarkan hati saya bergulir dan otak saya berpikir mencerna isi biodata beliau yang ternyata sebagian besar isinya persis sama dengan saya. Hobi, kesenangan, dan kepribadian kami yang serupa membuat saya sedikit tertawa. Biodata itupun saya bagi di grup WA keluarga, agar bisa dibaca oleh ayah, ibu, dan adik saya. Beberapa hari kemudian, saya bertanya pada beliau, apakah lanjut atau tidak. Alhamdulillah, setelah kedua belah pihak beserta keluarga memahami isi tulisan kami masing-masing, kamipun bersepakat untuk lanjut ke tahap berikutnya.

Tahap kedua adalah tahap yang cukup mendebarkan, yaitu ketika saya mengutarkan maksud untuk mengunjungi beliau. Entah energi apa yang membuat saya yakin mengirim pesan yang kurang lebih isinya, “Boleh ketemuan denganmu bersama Ayah di rumah?” Padahal sekalipun saya belum pernah melihat sosoknya secara langsung. Alhamdulillah, pertemuan itu terjadi, tapi tidak di rumah beliau, melainkan di sebuah tempat di Kota Padang. Malam hari sebelum tanggal itu saya sedang dinas jaga di rumah sakit, menyempatkan istikharah dan berdoa panjang lebar, lalu memantapkan hati dan meluruskan niat. Berbekal do’a dan restu orang tua, saya memberanikan diri datang di sebuah momen yang rupanya telah direncanakan oleh ayah dan ummi beliau. Tatkalah itulah kami berdua pertama kali bertemu, hingga saya bisa menatapnya dari dekat, bersilaturrahmi dengan kedua orangtuanya, dan saya tahu Allah telah memantapkan hati saya untuk menyatakan insyaAllah untuk permintaan ayah dan umminya menjadi calon menantu mereka.

Akhirnya, tahap demi tahap rasanya tak kan bisa berhenti dan terus berlanjut begitu saja sesuai maunya Allah. Maret 2018, keluarga beliau datang ke Payakumbuh hendak menyatakan maksud sekaligus berkenalan dengan keluarga saya. Alhamdulillah, semuanya berlangsung penuh khidmat, orang tua saya sangat bahagia dengan kehangatan dan perlakuan keluarga beliau, begitupun sebaliknya. April 2018, giliran keluarga besar saya yang bertandang ke rumah beliau di salah satu negeri di Kabupaten Agam bernama Lubuk Basung, mengantarkan maksud untuk meminang beliau secara resmi. Mei 2018, sesuai dengan aturan adat Minangkabau di kampung saya, ninik mamak perempuan berkunjung ke rumah dalam rangka batimbang tando dengan ninik mamak kami di Payakumbuh, sekaligus menentukan jadwal akad nikah dan baralek. Juni 2018, kami berdua bersiap-siap merencanakan rumah tangga lalu menyebar kabar baik pada kerabat dan sahabat, hingga alhamdulillah 8 Juli 2018, akad nikah itu saya lafadzkan dan Sesorang yang namanya telah tertulis di Lauh Mahfuz akhirnya datang dalam kehidupan saya. Alhamdulillah, biiznillah.

Hidup Baru di Perantauan

Sahabat-sahabat saya bilang, pernikahan itu membawa banyak berkah dan pintu kemelimpahan rezeki, dan memang itulah adanya. Beberapa minggu setelah menikah, kabar baik datang melalui e-mail. Tampaknya impian saya untuk sekolah tahun ini dikabulkan oleh Allah, dan pilihan-Nya ialah UGM. Kisah mengenai kembalinya saya menjadi mahasiswa telah pernah saya bagi di tulisan sebelumnya di sini, dan itupun memang terjadi tanpa ada perencanaan yang matang sebelumnya. Tapi itulah ternyata hidup, apa yang kita rencanakan belum tentu yang terbaik menurut Allah, dan insyaAllah pasti ada hikmah besar yang ada di balik setiap keputusan-Nya. Ya, mungkin di sanalah letaknya ujian.

Kehidupan baru saya pun akhirnya dimulai di Yogyakarta. Agustus 2018, pasca pengumuman kelulusan di Universitas Gadjah Mada sebagai mahasiswa S2 Kedokteran Tropis, saya membawa istri ke negeri kesultanan itu dan hidup berdua di sebuah kontrakan sederhana. Semua pekerjaan saya di Padang tentu saja harus saya tinggalkan, demi melanjutkan pendidikan. Tidak seperti mahasiswa pada umumnya yang mendapat beasiswa atau biaya hidup dari lembaga atau perusahaan, saya berangkat dengan kaki dan tangan sendiri. Keputusan ini sebenarnya cukup berat bagi saya, mengingat saya pun kini telah memiliki keluarga yang baru. Kini saya hanyalah seorang mahasiswa yang baru saja menikah, hidup di negeri orang dengan modal tabungan seadanya dan cita-cita yang besar.

Awal-awal hidup di Yogyakarta adalah masa-masa yang cukup menantang jika tak boleh dikatakan sulit. Selain ini merupakan kali pertama saya hidup merantau di luar pulau dalam waktu yang lama, tentu saja saya harus memikirkan keluarga yang baru saya bina. Biaya hidup di Yogyakarta yang ternyata tak semurah yang dikatakan orang-orang, membuat saya dan istri harus berpikir serius dan hidup berhemat. Alhamdulillah, setelah mencoba memasukkan lamaran pekerjaan sana-sini dan memantau informasi melalui grup loker dokter Jogja, saya masih diberi rezeki oleh Allah untuk bisa berpraktik di beberapa rumah sakit dan klinik swasta di Kota Jogja di sela-sela perkuliahan yang padat. Meskipun saya tahu jikalau sekarang ibunda kembali memberi saya beasiswa, tentu saja sebagai suami yang baik saya harus tetap menunaikan kewajiban saya mencari nafkah. Alhamdulillah, ibu negara di rumah saya selalu mencintai saya apa adanya. 🙂

Jadi Mahasiswa UGM, Bagaimana Rasanya?

Bagi sebagian orang, kuliah di Universitas Gadjah Mada mungkin merupakan sebuah prestise tersendiri. Selain merupakan salah satu universitas terbaik di Indonesia, di UGM dapat dengan mudah kita temui mahasiswa-mahasiswa dari berbagai suku dan etnis dari segala penjuru tanah air. Mungkin karena terletak di tengah-tengah kepulauan Indonesia, di tempat ini tidak sulit menemukan sahabat-sahabat baru dari Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, dan Nusa Tenggara yang sangat jarang saya lihat di Padang. Jika bicara Bhinneka Tunggal Ika, saya rasa UGM jagonya. Tidak hanya itu, mahasiswa berbeda benua pun banyak di sini. UGM yang memiliki program internasional membuat kuliah di UGM serasa kuliah di luar negeri. Biasanya setiap minggu selalu diadakan kuliah umum untuk mahasiswa dengan narasumber dari negara-negara lain, mulai dari sesama negara Asia, Australia, Eropa, Afrika, hingga Amerika. Kita juga diberi kesempatan untuk bertanya dan berinteraksi dengan mereka. Karena saya kuliah di lingkungan Fakultas Kedokteran terutama kedokteran tropis, saya sangat antusias mengikuti kelas tersebut, apatah lagi yang memberikan kuliah adalah narasumber-narasumber penting dari berbagai universitas terkemuka di seluruh dunia.

Bicara lebih dekat dengan jurusan yang saya ambil di Fakultas Kedokteran UGM, yakni S2 Ilmu Kedokteran Tropis (Tropmed), membuat saya bersyukur telah memilih program ini dari sekian banyak pilihan. Meskipun ternyata jumlah satu kelas kami cuma delapan orang (which is katanya angkatan Tropmed yang paling sedikit selama ini), kehidupan perkuliahan di sini alhamdulillah sangat menyenangkan. Dari segi topik kuliah, sebagian besar adalah topik-topik yang saya minati, terutama imunologi yang sampai hari ini saya masih nge-fans dengan profesornya yang meski sudah pensiun tapi masih segar dan luarbiasa pengetahuannya. Di semester satu, ada beberapa topik lagi yang saya pelajari, tentunya pendalaman dari yang saya peroleh dari S1 kedokteran dulu, seperti biokimia, mikrobiologi, parasitologi, ilmu kedokteran tropis, epidemiologi, metodologi penelitian dan biostatistika kedokteran. Proses pembelajarannya meliputi perkuliahan, penugasan, praktikum, presentasi, dan ujian akhir. Rincian detail penting lainnya bisa diakses di situs Tropmed UGM di sini.

Selain topik kuliah yang menarik, atmosfer pembelajaran di sini juga sangat menyejukkan. UGM adalah salah satu universitas yang concern dengan penelitian-penelitian mutakhir tingkat internasional, sehingga tak jarang mahasiswa dan dosen berkolaborasi untuk melakukan penemuan-penemuan baru. Interaksi antara mahasiswa, dosen dan staff di sini hangat, dekat, dan friendly, tanpa mengurangi rasa hormat-menghormati. Teman-teman satu angkatan juga gokil, saling support dan bahu membahu membantu agar sama-sama bisa memahami materi pembelajaran. Bagi saya, ini adalah pengalaman yang sangat berharga. Selain belajar bagaimana berinteraksi sosial dengan mereka yang latar belakangnya berbeda, saya juga mendapatkan pencerahan mengenai ilmu-ilmu baru yang tak pernah saya dapatkan di bangku perkuliahan. Sebagian teman saya di kelas ada yang sesama dokter, dokter hewan, analis kesehatan, dosen, dan sarjana kesehatan masyarakat, sehingga bertukar pikiran adalah sesuatu yang menyenangkan. Apalagi di antara mereka ada yang dari Manado, Makassar, Kalimantan, Jawa, dan Sumatera seperti saya, sehingga sharing pengalaman, kebiasaan, hingga oleh-oleh jadi santapan harian. Entah mengapa, hari-hari di Jogja mungkin akan terasa hambar jika tidak ada mereka. Cie, ckck. Semoga saya selalu betah di UGM, dan bisa menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Amin.. (Mohon do’anya ya.)

Jadi Calon Ayah

Rasanya tak ada yang jauh lebih membahagiakan ketika mendapatkan kado berharga dari langit akan kemunculan calon buah hati. Alhamdulillah, akhir Agustus 2018 istri saya diketahui telah mengandung seorang janin di rahimnya. Jangan tanya ekspresi saya ketika pertama kali dikabari oleh beliau, campur aduk tak terdefinisikan. Padahal di luar sana mungkin banyak pasangan yang telah sekian lama menikah tapi belum diberikan Allah amanah. Ketahuilah, sesungguhnya keturunan itu adalah ujian besar yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat, penyebab utama orang tergelincir ke neraka jika lalai memikulnya, namun bisa jadi pendorong utama pula orang masuk ke surga jika teguh menerimanya. Bagi kami, tentu saja ini adalah anugerah, tapi yang paling penting adalah bagaimana sikap kami mempersiapkan diri untuk memikul amanah besar akan lahirnya seorang manusia di masa depan.

Adapun selama istri saya mengandung ini, tentu pengalaman baru pula bagi saya sebagai seorang suami. Tiga bulan pertama merupakan masa-masa terberat bagi istri saya yang harus berjuang melawan hebatnya rasa mual, berdamai dengan muntah yang tak berkesudahan, kondisi kesehatan yang menurun, nafsu makan yang nyaris nihil, hingga perasaan dan mood yang terombang-ambing karena hormonal. Inilah rupanya kehidupan rumah tangga, tak semanis yang dibayangkan, gumam saya awalnya. Ditengah padatnya jadwal kuliah, tugas, praktik di klinik, saya juga harus mengurus istri saya yang bangkit dari tempat tidur saja hampir tidak berdaya. Pergi belanja sendiri, masak di dapur, mengepel, mencuci, dan segala kegiatan rumah tangga lainnya nyaris saya ambil alih pada masa itu, sungguh ujian bagi para lelaki. Ckck. Namun alhamdulillah, semakin hari pada saat usia kandungan semakin baik dan sang janin telah tampak di layar USG lengkap dengan suara degupan jantungnya yang mungil, segala kesusahan itu seakan sirna begitu saja, berganti dengan perasaan haru dan bahagia tak terbayangkan. Apatah lagi setelah lebih kurang lima bulan mengandung, gerakkan calon buah hati di dalam rahim telah kentara terasa di tangan kami, harapan-harapan baru pun bermunculan seiring diri kami yang kadang merasa tak percaya kalau semua ini sedang terjadi. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, seiring do’a  Nabi Zakaria yang sering kami ucapkan, “rabbi habli min landunka dzurriyatan tayyibah,”, “Ya Rabb, karuniakanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan-keturunan yang baik.” Amin.

Seleksi Abdi Negara

Ya, salah satu cerita terakhir yang mengisi penghujung 2018 adalah drama seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Pada awalnya saya tidak terlalu menaruh harapan pada seleksi CPNS yang digelar oleh pemerintah tahun ini. Selain peminatan saya dari awal adalah fokus ke pendidikan atau dosen di universitas yang mengharuskan saya harus bergelar S2 terlebih dulu, saat ini saya juga sedang serius untuk kuliah di UGM. Namun semua berubah setelah negara api menyerang, hehe, maksudnya setelah datangnya sebuah kabar tiba-tiba dari salah seorang kolega sewaktu menjadi dosen kontrak di Padang dulu. Berita itu berisi bahwa tiga hari sebelum pendaftaran CPNS ditutup, ternyata Kemenristekdikti -induknya segala macam perguruan tinggi di negeri ini, membuka lowongan bagi para dokter umum untuk diterima sebagai dosen fakultas kedokteran di beberapa universitas di Indonesia, termasuk Universitas Andalas, almamater saya sekaligus tempat terakhir saya bekerja. Didorong dari saran para kolega dan orang tua, saya akhirnya memantapkan diri untuk mencoba menjadi pelamar seleksi CPNS di sela-sela kuliah.

Mungkin sebagian orang sempat mendengar bagaimana hebohnya seleksi CPNS tahun 2018 yang lalu (dan masih berlangsung sampai sekarang) yang terdiri dari tiga tahap, yakni seleksi administrasi, seleksi kemampuan dasar (SKD), dan seleksi kemampuan bidang (SKB). Banyaknya pelamar yang tidak mencapai batas passing grade di SKD berbasis komputer membuat pemerintah harus memikirkan cara agar kebutuhan CPNS tahun ini terpenuhi. Saya sendiri, setelah berusaha menyempatkan waktu untuk mempelajari contoh-contoh soal CPNS yang ada, alhamdulillah diberi kesempatan oleh Allah untuk lolos ke tahap SKB. Tapi wallahu’alam, saya tidak tahu apakah saya bisa lulus seleksi sampai tahap akhir karena sampai saat ini belum ada pengumuman resmi terkait hal tersebut. Semoga Allah senantiasa menunjukkan jalan yang terbaik. Mohon do’a ya..

Rencana di 2019

Sebagian orang menyebutkan istilah resolusi, namun bagi saya cukuplah muhasabah. Lagipula Rasulullah SAW menganjurkan untuk senantiasa memperbaiki diri hari demi hari, tidak sekali setahun saja. Meski demikian, tidak salah pula kiranya jika kita menuliskan harapan-harapan untuk masa depan. Bagi saya, perbaiki amalan, tingkatkan ibadah, dan semoga diri ini lebih dekat dengan Allah dari tahun-tahun yang pernah ada sebelumnya, itu saja. Tentang urusan dunia, berusaha semaksimal mungkin lalu serahkan saja pada-Nya. Yap. Semoga terwujud.

Akhirnya, demikianlah sedikit cerita di 2018 yang lalu, sedikit kisah di awal masa depan. Saya sendiri tak bisa memprediksi apa yang akan terjadi di tahun-tahun berikutnya. Namun pelajaran berharga yang saya dapat di tahun 2018 adalah, jadikanlah duniamu berharga untuk akhiratmu kelak. 😀 Ya, saya kira begitu. Semoga ada manfaatnya ya, wallahumusta’an.

PS: Adapun mimpi dalam waktu dekat ialah, bisa travelling sekaligus umroh ke Mekah dan Madinah! Kalau kamu? 😀

15754455857_c831bdf8d4_k

4 thoughts on “2018 in Flashback

  1. Selamat ya Aan, barakallah. Semoga doa-doanya diijabah oleh Allah.
    Selamat juga atas kelulusannya dalam seleksi CPNS. Mudah-mudahan jadi Pak Dosen yang baik dan senantiasa menebar manfaat 🙂

    Like

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s