cxca

Kanker Serviks

Kanker serviks merupakan keganasan pada wanita nomor tiga paling sering di dunia, dan merupakan penyebab kematian akibat kanker pada wanita di negara-negara berkembang. Insiden kanker serviks sudah mengalami penurunan di Amerika serikat dalam beberapa dekade terakhir, namun di negara-negara berkembang angka ini masih tergolong tinggi. Hal ini disebabkan karena di AS sudah dilakukan deteksi dini massal dengan test Papanicolau (Pap’s Smear), yang memungkinkan deteksi dan pengobatan penyakit pra invasif. Di AS pada tahun 2004-2006, Insiden kanker serviks stadium lanjut tertinggi ditemukan pada wanita usia 50 – 79 tahun, namun dapat terjadi pada usia reproduktif.

Source: http://www.cancers.biz

Etiologi

Etiologi kanker serviks antara lain akibat infeksi genital oleh virus HPV (Human Papilloma Virus) yang diketahui bersifat karsinogen pada manusia. Meskipun infeksi HPV dapat ditularkan melalui rute non-seksual, namun pada umumnya penularan berasal dari kontak seksual. Faktor risiko kanker serviks antara lain sbb:

  • berhubungan seksual saat usia muda
  • pasangan seksual yang berganti-ganti
  • pasangan seks laki-laki dengan kebiasaan seks bebas
  • riwayat penyakit yang ditularkan secara hubungan seksual

Patofisiologi

Infeksi HPV (Human Papilloma Virus) dapat menyebabkan kanker serviks, dengan presentase yang tinggi ditemukan pada wanita yang aktif berhubungan seksual. Sekitar 90% infeksi HPV tidak menimbulkan sekuele pada beberapa bulan pertama hingga beberapa tahun berikutnya, meskipun secara sitologi dilaporkan bahwa setelah 2 tahun terinfeksi akan ditemukan lesi intraepitel gepeng derajat rendah. Hanya 5% dari infeksi HPV yang akan menyebabkan perkembangan CIN (Cervical intraepitelial neoplasia) derajat 2 atau 3 setelah tiga tahun terinfeksi. Hanya 20%  lesi CIN derajat 3 yang berubah menjadi kanker serviks yang invasif setelah 5 tahun, dan hanya 40% lesi CIN derajat 3 yang berubah menjadi kanker serviks yang invasif setelah 30 tahun.

Jadi, karena hanya sebagian kecil saja peranan infeksi HPV pada kanker serviks, faktor lainnya boleh jadi berperan penting pula pada proses karsinogenesis. Faktor-faktor tersebut antara lain:

  • tipe dan durasi infeksi virus; dengan tipe HPV yang high-risk dan infeksi yang persisten memungkinkan risiko yang lebih tinggi pada progresifitas kankernya.
  • kondisi host, dimana daya tahan tubuh yang kurang (contoh: status gizi yang buruk, immunocompromise, dan infeksi HIV).
  • faktor-faktor lingkungan (merokok, kekurangan vitamin)
  • tidak melakukan pemeriksaan skrining sitologi secara rutin
  • faktor genetik, dimana wanita yang memiliki riwayat orang tua mengalami kanker serviks, memiliki risiko 2x lebih tinggi menderita kanker serviks dibandingkan dengan yang tidak.
Source: http://www.clevelandclinicmeded.com

Gambaran Klinis

  • Gejala awal kanker serviks antara lain perdarahan vagina yang abnormal, biasanya setelah bersenggama. Kemudian ditemukan rasa tidak nyaman pada vagina, sekret berbau busuk (malodorous discharge), dan disuria (tidak terlalu sering).
  • Tumor tumbuh semakin besar sepanjang permukaan epitel, baik pada epitel gepeng maupun epitel kelenjar, ke atas kavum endometrium melalui epitel vagina, dan ke lateral menuju dinding pelvis. Ia dapat menginvasi vesika urinaria dan rektum secara langsung, sehingga menyebabkan konstipasi, hematuria, fistula, dan obstruksi, dengan atau tanpa hidroureter atau hidronefrosis.
  • Trias edema tungkai, nyeri dan hidronefrosis memberi kesan adanya keterlibatan dinding pelvis.
  • Tempat tersering untuk metastasis jauh antara lain kelenjar limfe ekstrapelvis, hati, paru dan tulang.
Source: http://www.womenshealthapta.org

Pemeriksaan Fisik

Pada stadium awal, pemeriksaan fisik dapat ditemukan relatif normal. Seiring perkembangan penyakit, serviks mungkin menjadi tidak normal dalam tampilan, dengan adanya erosi yang kotor, ulkus atau adanya massa. Kelainan ini dapat menyebar ke vagina. Pemeriksaan rektum dapat memberitahu adanya massa eksternal atau darah kotor dari erosi tumor.

Pemeriksaan pelvis bimanual dapat memberitahu adanya metastasis di sekitar area pelvis. Jika penyakit mengenai hati, hepatomegali dapat ditemukan. Metastasis ke paru biasanya sulit dideteksi dengan pemeriksaan fisik kecuali jika terdapat efusi pleura atau obstruksi bronkus. Edema tungkai memberi kesan adanya obstruksi pembuluh darah atau pembuluh getah bening akibat tumor.

Diagnosis

Infeksi HPV mestilah ditemukan pada kanker serviks.
Rekomendasi skrining:

  • <21 tahun: tidak direkomendasikan
  • 21 – 29 tahun: sitologi (Pap Smear) saja setiap 3 tahun
  • 30-65 tahun: Pemeriksaan HPV dan sitologi setiap 5 tahun (lebih bagus), atau sitologi saja setiap 3 tahun
  • >65 tahun: tidak ada rekomendasi skrining jika pemeriksaan skrining sebelumnya menunjukkan hasil yang negatif dan tidak ada faktor risiko tinggi.

Pemeriksaan Penunjang

Dilakukan tes papanicolaou (Pap Smear), jika hasilnya positif dilanjutkan dengan kolposkopi dan biopsi eksisi, kemudian diperiksa secara histopatologis. Jika hasil PA menunjukkan kanker yang invasif, maka pasien dikonsulkan pada spesialis gynecologic oncologist.

Source: http://www.womens-health-advice.com

Sekali diagnosis ditegakkan, pemeriksaan hitung darah lengkap (CBC) dan kimia serum untuk fungsi ginjal dan hepar harus dilakukan untuk melihat kemungkinan metastasis, dilanjutkan dengan pemeriksaan imaging seperti x-ray dada, cystoscopy, dan proctosigmoidoscopy.

Diagnosis Diferensial

  • Servisitis
  • Karsinoma endometrium
  • Pelvic Inflammatory Disease
  • Vaginitis

Stadium

Ada dua sistem staging yang sering digunakan pada kanker serviks, yakni sistem TNM dan sistem FIGO (WHO).

Tumor Primer (T):

TNM Stage FIGO Stage
TX Primary tumor cannot be assessed
T0 No evidence of primary tumor
Tis 0 Carcinoma in situ
T1 I Cervical carcinoma confined to uterus (extension to corpus should be disregarded)
T1a IA Invasive carcinoma diagnosed only by microscopy. All macroscopically visible lesions—even with superficial invasion—are T1b/1B. Stromal invasion with a maximal depth of 5.0 mm measured from the base of the epithelium and a horizontal spread of 7.0 mm or less. Vascular space involvement, venous or lymphatic, does not affect classification.
T1a1 IA1 Measured stromal invasion 3 mm or less in depth and 7 mm or less in lateral spread
T1a2 IA2 Measured stromal invasion more than 3 mm but not more than 5 mm with a horizontal spread 7 mm or less
T1b IB Clinically visible lesion confined to the cervix or microscopic lesion greater than IA2
T1b1 IB1 Clinically visible lesion 4 cm or less in greatest dimension
IB2 Clinically visible lesion more than 4 cm
T2 II Cervical carcinoma extends beyond the cervix but not to the pelvic sidewall or to the lower third of vagina
T2a IIA Tumor without parametrial invasion
T2b IIB Tumor with parametrial invasion
T3 III Tumor extends to the pelvic wall and/or involves the lower third of the vagina and/or causes hydronephrosis or nonfunctioning kidney
T3a IIIA Tumor involves lower third of vagina; no extension to pelvic sidewall
T3b IIIB Tumor extends to pelvic sidewall and/or causes hydronephrosis or nonfunctioning kidney
IV Cervical carcinoma has extended beyond the true pelvis or has involved (biopsy proven) the bladder mucosa or rectal mucosa. Bullous edema does not qualify as a criteria for stage IV disease.
T4 IVA Spread to mucosa of adjacent organs (bladder, rectum, or both)
M1 IVB Distant metastasis

KGB Regional (N)

  • NX: Regional lymph nodes cannot be assessed
  • N0: No regional lymph node metastasis
  • N1: Regional lymph node metastasis

TNM:

Table : UICC/AJCC Staging for Cervical Cancer

Stage Tumor Node Metastasis
0 Tis N0 M0
IA1 T1a1 N0 M0
IA2 T1a2 N0 M0
IB1 T1b1 N0 M0
IIA T2a N0 M0
IIB T2b N0 M0
IIIA T3a N0 M0
IIIB T1 N1 M0
T2 N1 M0
T3a N1 M0
T3b Any N M0
IVA T4 Any N M0
IVB Any T Any N M1
source: zorgaanbieders.nl
Source: http://www.womenfitness.net
Source: baltyra.com

Tatalaksana

Tatalaksana kanker servik bervariasi sesuai stadium penyakit. Untuk kanker invasif tahap awal, pembedahan adalah piihan utama. Dalam kasus yang lebih lanjut, kombinasi radioterapi dengan kemoterapi merupakan standar pengobatan.

  • Stage 0: Karsinoma in situ –> cryosurgery, laser ablation, loop excision, pembedahan
  • Stage IA1 –> bedah: total hysterectomy, radical hysterectomy, conization
  • Stage IA2, IB, IIA –> kombinasi radiasi eksternal dengan brachytherapy dan radical hysterectomy dengan bilateral pelvic lymphadenectomy (pd stage IB atau IIA)
  • Stage IIB, III, atau IVA –> Cisplatin-based chemotherapy dengan radiasi
  • Stage IVB dan kanker berulang –> paliatif (radiasi untuk mengontrol perdarahan dan nyeri, kemoterapi sistemik untuk yang telah menyebarluas).

Tatalaksana dengan medikamentosa antara lain:

  • Agen kemoterapi: alkilating agent: fluorouracil
  • anti kanker- antibetamobilt: fluorouracil
  • anti kanker- antimikrotubular: paclitaxel
  • anti kanker- inhibitor topoisomerase: toptecan
  • vaksin HPV: gardasil, cervarix

Prognosis

Prognosis kanker serviks tergantung stadium penyakitnya. Secara umum, angka bertahan hidup 5 tahun antara lain:

  • Stage I : >90%
  • Stage II : 60-80%
  • Stage III: lebih kurang 50%
  • Stage IV: <30%

Referensi: http://emedicine.medscape.com/article/253513-overview

Artikel ini hanya sebuah catatan, bukan sebagai rujukan ilmiah. Untuk rujukan lebih lanjut silahkan merujuk ke buku ilmiah. Terima kasih, semoga bermanfaat🙂

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s