Sumatera, Travel

Menggali Makna ke Aceh Darussalam

It’s travel time! Dalam hati saya berteriak. Ceritanya, pertengahan Januari 2018 lalu saya kembali bertualang. Niat hati adalah dalam rangka refreshing, sekalian tafakur dan tadabbur alam, mencari semangat untuk memulai aktifitas awal tahun. Alhamdulillah, setelah menabung selama lebih kurang setahun, akhirnya saya bisa merencakan perjalanan backpacking itu jauh-jauh hari. Memanfaatkan waktu luang di akhir semester, destinasi yang saya pilih adalah, Aceh!

Tidak sendirian seperti tahun sebelumnya, kali ini saya ditemani oleh adik semata wayang. Meski pagi itu saya baru sehabis jaga malam di IGD rumah sakit dan sampai di rumah kos pukul 7 lewat 15 menit, kami berdua langsung mengemasi barang-barang di ransel masing-masing. Pukul 9 pagi kami langsung jalan kaki dan naik angkot, menyambung ke bandara dengan taksi yang kami sewa seharga Rp 60.000,- dari stasiun Simpang Haru, Padang, dan sampai di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) kira-kira pukul 10.15. Yap! We were ready to go as backpackers!

Naik Pesawat dari Padang ke Banda Aceh

Suasana BIM pagi itu cukup ramai ketika kami berdua usai check-in dan melewati pintu pemeriksaan. Duduk di ruang tunggu keberangkatan, kami menunggu-nunggu kapankah boarding time dibuka. Melihat tiket, sesuai dengan pesanan saya pakai Traveloka, kami berdua akan menempuh dua kali penerbangan. Pesawat pertama akan mengantar kami dari BIM menuju Bandara Internasional Kualanamu Medan, lalu transit di sana sekitar 1 jam sebelum pesawat kedua membawa kami ke Stasiun Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh.

Suasana di BIM menjelang keberangkatan

Detik-detik menjelang boarding

Setelah menanti sekitar empat puluh menit, akhirnya pintu keberangkatan pesawat kami dibuka. Bersama kerumunan manusia lainnya, kami mengantri masuk pesawat. Kala itu kami tidak sengaja bertemu seorang tetangga dekat rumah yang juga berniat pergi ke Banda Aceh. Tapi sayang, kami kemudian terpisah karena berbeda tempat duduk. Karena kebagian bangku di urutan sepuluh terakhir, saya dan Adik masuk dari pintu belakang pesawat sehingga harus turun dari jembatan penyeberangan. Tapi untungnya, kami bisa mengabadikan momen keberangkatan dengan lensa kamera sambil mengucapkan, sampai ketemu lagi, Padang!

Sesaat sebelum naik ke atas pesawat

Sampai jumpa lagi, Padang!

Selama di pesawat, tak banyak yang dikerjakan. Saya berusaha mengisi waktu sambil membaca sebuah novel lama karangan Buya Hamka berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Reviewnya bisa dibaca di sini.

Hola! Me and my brother. (Gak mirip ya?)

Teman bacaan buat traveling kali ini.

Sekitar satu jam kemudian, pesawat kami akhirnya mendarat di bandara Kualanamu Medan. Ini pertama kalinya buat saya berkunjung ke bandara yang katanya termegah dan terbesar di pulau Sumatera ini. Bandara Kualanamu terletak jauh dari pusat kota Medan, lebih tepatnya di Deli Serdang Sumatera Utara. Tempat ini dilengkapi dengan akses kereta bandara, dan menjadi bandara pertama di Indonesia yang terintegrasi dengan sistem transportasi berbasis rel itu.

Suasana ketika turun dari pesawat.

Ada pengalaman unik ketika pertama kali turun dari pesawat. Ketika asyik mengabadikan momen dengan kamera, tiba-tiba saya bertemu dengan teman sejawat satu angkatan yang rupanya berada di dalam satu pesawat yang sama. Beliau hendak ke Johor Malaysia, namun singgah sebentar di Medan untuk mengunjungi sanak saudara. –Dunia memang sempit ya? Akhirnya, saya dan sang adik ditemani muter-muter dulu di bandara oleh beliau. Kami sholat terlebih dahulu di mushalla bandara sebelum berkeliling sejenak menjelang transit.

Keliling singkat di bandara Kualanamu bareng sejawat.

Usai sholat dan jalan-jalan, kami akhirnya dipisahkan oleh tujuan. Saya dan adik melanjutkan perjalanan sembari transit sebelum naik pesawat berikutnya. Ruang transit bandara Kualanamu cukup mudah diakses, dimana papan petunjuk tersedia di banyak tempat. Sepanjang jalan banyak spot-spot foto yang ikonik dan menarik, jadi bagi yang hobi berfoto bisa lumayan puas di bandara ini.

Salah satu spot foto di bandara Kualanamu

Di depan tangga menuju lantai dua tempat transit

Masuk ke ruangan transit

Cara transit di bandara Kualanamu alhamdulillah cukup mudah. Kami tinggal melapor ke petugas yang berjaga di ruang konter dan menunjukkan boarding pass yang sudah dicetak semenjak di bandara sebelumnya. Setelah itu, kami berdua dipersilahkan untuk duduk di ruang tunggu keberangkatan sesuai dengan terminal yang tercantum di boarding pass.

Dari ruang transit menuju terminal, aula besar pun menyambut kami. Kesannya benar-benar modern, penuh dengan unsur-unsur kaca dan keramik sehingga cahaya di luar gedung dapat masuk dan membuat suasana menjadi terang benderang. Karena waktu itu sudah tengah hari dan perut lapar, kami berdua terlebih dahulu singgah di minimarket yang tersedia di sana. Roti selai dan teh botol jadi pilihan, mengingat harga makanan di resto-resto yang tersedia lumayan bikin gigit jari.

Lobby di depan terminal keberangkatan

Sembari menyicip makanan di kursi ruang tunggu keberangkatan, kami sempat video call dengan ayah dan ibu di rumah. Alhamdulillah, sistem komunikasi zaman sekarang membuat tempat yang jauh pun terasa dekat. Kami pun bersyukur bisa berbagi suasana bandara pada orang tua, lagipula, ini pengalaman pertama berkunjung ke Kualanamu. Selain itu, kami juga mulai mencari dan memesan tempat penginapan murah ketika nanti sudah sampai ke Banda Aceh. Biasa, via traveloka saja. Hehe. Cukup pilih dan transfer dengan internet banking, alhamdulillah semua beres. (Bukan promosi, ya, ckck).

Dua jam kemudian, akhirnya panggilan boarding pun terdengar. Meski sudah delay satu jam, saya masih senang karena saya menikmati suka duka perjalanan. Cuma, yang saya heran ketika itu adalah tidak adanya informasi yang jelas tentang jadwal keberangkatan penumpang, sehingga beberapa orang ada yang protes. Terlebih lagi ketika itu penumpang dibuat berdesak-desakan mengantri masuk pesawat karena jadwal boarding dan terminal yang berdempetan. Bahkan, setelah pengecekan boarding pass terakhir, -saat hendak masuk ke pesawat, para penumpang masih juga disuruh berdiri setengah jam menunggu persiapan pesawat. Ah, sayang sekali, saya tidak menyangka bandara semegah dan sebesar ini manajemennya masih belum baik. This is still Indonesia, sodara-sodara.

Penumpang terlantar lebih dari setengah jam di depan pintu masuk pesawat.

Terlepas dari drama keberangkatan, alhamdulillah kami berdua akhirnya naik ke pesawat menuju Banda Aceh. Sepanjang perjalanan, si Adik malah tidur saja, sementara saya terlalu sumringah memandang jendela kaca pesawat tatkala terbang di atas rapatnya tata kota Medan, hingga melintasi pegunungan dan rimba belantara ujung utara pulau Sumatera yang langsung berbatasan dengan laut. Jika dilihat dari atas pesawat, saya tidak menyangsikan kalau pulau ini adalah pulau terbesar ke enam di dunia.

Pemandangan dari atas pesawat menuju Banda Aceh

Lima puluh menit kemudian, alhamdulillah kami tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh. Saya cukup lebay untuk berteriak-teriak ala-ala kidz jaman now pada si Adik yang gayanya lebih cool. “Kita sudah sampai di Aceh, Dik!” Ucap saya dengan raut sumringah. Si Adik hanya tertawa nyengir sambil ngeledek.

Pose dadakan si Adik ketika sampai di Aceh. Welcome to Aceh!

Sembari berjalan di dalam bandara, kami yang cuma membawa ransel di punggung langsung keluar tanpa mesti menunggu barang bagasi. Ketika sampai di luar pintu kedatangan sekitar pukul lima lewat sepuluh menit, waduh, para supir taksi sudah menanti sambil gigih menawarkan jasa tumpangan. “Mau ke mana bang?” … “Sama saya saja bang.” … Dan lain sebagainya, sampai saya tahu harga sekali jalan mencapai Rp 70.000 sekali jalan, padahal kalau naik Damri cuma sekitar Rp 20.000 saja. Karena tahu Damri ternyata sudah kosong di atas jam 5, dan kami pun ingin keliling-keliling sebentar, kami berusaha menolak dengan halus meski tidak bisa tidak harus meladeni pertanyaan mereka. “Mau ke Banda Aceh, bang,” kata saya pula. Akhirnya karena salah seorang abang-abang supir taksi ini tampaknya masih menaruh harapan, ia pun sampai rela mengikuti kami kemana pun hingga ke toilet. Wkwk. Walau agak risih, kami hanya senyam-senyum. Sampai akhirnya kami dengan segan mengatakan tidak dan terima kasih. Meski begitu, si abang-abang tetap tersenyum ramah. Aduh, jadi tidak tega. Maaf ya Bang.

Bandara Sultan Iskandar Muda terletak di pinggiran kota, tepatnya di Kabupaten Aceh Besar. Secara kasat mata, bangunannya lebih mirip masjid dengan kubah besar di tengah-tengah dan minaret di kiri dan kanan gedung. Kalau dari segi ukuran mungkin agak sedikit lebih besar dibandingkan bangunan fisik BIM, tetapi tidak terlalu luas. Di sekitar bandara terdapat taman-taman mungil yang apik dengan banner “Welcome to Aceh”, kolam air mancur, dan bangku-bangku yang ciamik. Kalau duduk-duduk di sana, kita bisa melihat pesawat yang lepas landas di lapangan udara dari balik pagar besi. Sore itu contohnya, banyak warga yang tampak duduk-duduk santai atau bermain dengan anak-anak mereka sembari (mungkin) menunggu keluarga yang datang dari jauh.

Taman mungil di samping gedung utama Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh. Saya kurang tahu, BTJ itu apa ya?

Gedung utama Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh

Puas keliling-keliling sekitaran bandara, kami kemudian barulah kebingungan. “Bang, naik apa ke Banda Aceh?” Si Adik pun bertanya. Karena pernah mendengar kalau di Aceh sudah ada transportasi online, saya malah kepikiran naik Go-Car saja. Syukurlah, di tablet saya masih ada sisa Go-Pay sekitar Rp 70.000, akhirnya saya coba pakai. Dibanding naik taksi, Go-Car ternyata memang lebih murah untuk mengantar sampai ke penginapan yang sudah kami pesan sebelumnya, yakni cuma Rp 50.000 via Go-Pay. Sambil berjalan kaki keluar bandara, saya masih menunggu-nunggu apakah ada mobil Go-Car yang bersedia mengantar kami ke tujuan. Alhamdulillah, gayung bersambut manis. Karena tak bisa menjemput sampai ke dalam bandara, kami janjian di depan gerbang saja. Berjalan sedikit, kami menunggu mobil di depan pintu masuk dan bertemu dengan mobil yang dimaksud. Penuh semangat, kami pun akhirnya naik, dan memulai perjalanan menuju destinasi pertama di Aceh, yaitu Kota Banda Aceh.

Pertama Kali tiba di Kota Banda Aceh

Tak ada yang lebih membahagiakan bagi traveler seperti saya melihat tempat-tempat baru, termasuk kota serambi Mekah bernama Banda Aceh. Pertama kali tiba di sana, saya merasakan ketenangan yang berbeda. Nuansa Islam memang lebih terasa. Masjid-masjid indah menjamur di sana sini, sebagian besar bernuansa timur tengah. Orang-orangnya juga ramah, termasuk sang supir yang mengatar kami menuju penginapan. Selain itu bahasa masyarakat di sana juga unik, sama sekali berbeda kosa kata dan logatnya meskipun sudah berbahasa Indonesia. Nun yang paling saya kagumi sepanjang jalan, tak pernahlah rasanya saya melihat perempuan membuka auratnya di tempat umum, semuanya berjilbab dan berpakaian longgar. Masyaallah. Adem ayem buat mata saya, alhamdulillah.

Sekitaran magrib, kami pun sampai di penginapan. Tempatnya sangat sederhana, kamar dengan dua dipan, ber-AC, dan kamar mandi di luar. Penginapan itu letaknya tak jauh dari lapangan Blang Padang, Aceh, sekitaran pusat kota Banda Aceh dekat Masjid Raya, jadi bisa jalan kaki. Ya, menurut saya, lumayanlah buat traveler macam kami. Jadi, kami berencana menginap di sana dua malam saja, kini dan esok. (Maaf fotonya tak ada).

Hal pertama yang kami kerjakan setelah meletakkan barang-barang di penginapan adalah sholat Magrib di Masjid Raya Baiturrahman. Dari dulu saya benar-benar mengagumi masjid ikonik itu dan berharap sekali bisa sholat berjamaah di sana. Tapi rupanya magrib keburu usai, hingga tatkala kami baru melintas di lapangan Blang Padang Aceh, kami berubah pikiran. “Bang, makan dulu saja yuk, nanti kita jama’ saja Magrib di waktu Isya’,” usul Adik saya yang ternyata sedang kelaparan. Karena perut saya pun keroncongan, mau tidak mau saya setuju. Akhirnya, kami pun berburu kuliner terlebih dahulu. Ckck. Lagipula lapar bisa mempengaruhi kekhusyu’an kan? Hehe. Nah, kebetulan, di dekat lapangan Blang Padang terdapat pasar kaget kaki lima yang bersusun rapi di pinggir jalan. Kami pun singgah, lalu membeli salah satu makanan aneh mirip Sala Lauak tapi pakai saos sambal
dan mayonnaise, wkwk. Meniru orang-orang, kami duduk bersila di tengah-tengah lapangan sambil menikmati suasana malam di Kota Banda Aceh yang gemerlap dan tenang. Kami makan sampai kenyang, memilih cemilan-cemilan murah dan lezat yang ada di sepanjang jalan itu, mulai dari gorengan, minuman dingin hingga es krim. Ckck.

 

Makanan pengobat keroncongan, enak juga ternyata, ada telur dan daging di dalamnya.

Ekspresi saya ketika duduk bersila di lapangan rumput sambil menikmati santap kuliner dadakan. Ternyata orang-orang di di pusat kota senang berkumpul di lapangan ini saat malam. Banyak PKL di sini, baik yang jualan makanan atau mainan anak-anak. Meski begitu, kebersihannya tetap terjaga.

Pasar kuliner malam di sekitaran lapangan Blang Padang Banda Aceh. Saya jadi ingat Payakumbuh.

Shalat berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman yang Megah

Kalau ada yang bertanya, apakah tempat yang paling dicari di Banda Aceh? Mungkin yang paling pertama saya jawab adalah Masjid Raya Baiturrahman. Masjid ini selain kaya dengan sejarah, bangunannya juga indah bukan main. Belum lagi kesakralannya, nuansa tenangnya, ah, sulit saya deskripsikan. Apatah lagi membayangkan ketika tsunami pernah menerjang kota ini, bangunan indah ini tak lekang menjadi saksi. Lunak, lunaak sekali hati saya ketika sampai di masjid ini. Wallahu’alam.

Berjalan kaki, kami berdua sampai di Masjid Raya Baiturrahman sesaat hendak azan Isya’ berkumandang. Kami masuk dari pintu belakang, lalu meletakkan sepatu di tempat yang disediakan. Remaja-remaja masjid senang hati membantu menyusunkan sepatu kami di rak-raknya yang banyak. Lalu kami berdua berjalan di atas teras keramik yang luas dan bersih di bawah payung-payung indah berwarna-warni layaknya di Masjid Nabawi, menuju tempat wudhu’ bawah tanah yang ada tak jauh dari sana. Toiletnya juga bersih, adem, ada ruangan khusus wudhu’ dan kamar mandi. Semuanya bisa digunakan dengan gratis.

Berjalan ke tempat berwudu’

Tangga menuju ruang berwudhu’ bawah tanah

Lorong bawah tanah tempat berwudhu’

Setelah berwudhu’, kami ikut shalat Isya berjama’ah. Perasaan saya, ah, sulit dideskripsikan. Berdiri di tengah-tengah jamaah di bawah tiang-tiang masjid yang megah, dengan hawa dingin dari AC yang amat menyejukkan, ditambah lagi mendengar lantunan merdunya suara imam, lalu bersujud di karpet sajadahnya yang lembut. Ah, sudahlah. Semua beban hidup ibarat mendadak buyar. Yang jelas, ibadah malam itu terasa begitu mengesankan.

Sebelum shalat berjamaa’ah, orang-orang sudah berkumpul dan berdzikir.

Suasana menjelang shalat Isya berjama’ah di Masjid Raya Baiturrahman.

Usai shalat berjamaah dan kami lanjutkan dengan menjama’ shalat Magrib, kami berdua berkeliling di sekitaran masjid. Waktu itu masyarakat alangkah ramainya, karena malam hari setelah Isya ada ceramah agama. Sambil mendengar sayup-sayup ceramah agama yang sebagian besar berbahasa Aceh, saya dan Adik lebih banyak menghabiskan malam itu dengan berfoto-foto sambil mengagumi keindahan arsitektur Masjid Raya Baiturrahman bersama pengunjung-pengunjung lainnya. Melihat payung-payung masjid yang besar itu bergerak dan berhias diri dengan lampu-lampu yang senantiasa bertukar warna, rasanya alangkah membius mata. Biarlah foto-foto di bawah menggambarkan suasana ketika itu.

Alun-alun Masjid Raya Baiturrahman

Ekspresi saya sepanjang malam di tempat ini

Megah dan kunonya Masjid Raya Baiturrahman

Suasana ramai saat ceramah agama di Masjid Raya Baiturrahman usai Shalat Isya berjam’aah

Ukiran-ukiran unik di pintu-pintu masjid yang menyita perhatian saya

Keliling Kota Banda Aceh Tengah Malam

Setelah satu jam lebih kami duduk-duduk santai di Masjid Raya Baiturrahman, saya dan Adik akhirnya berniat menghabiskan malam dengan berkeliling kota. Agar lebih bebas dan efisien, kami memutuskan untuk menyewa sepeda motor. Alhamdulillah, di Banda Aceh ada jasa rental kendaraan roda dua tersebut. Kami menghubungi kantornya via telepon dan WA. Pelayanannya cukup memuaskan. Sepeda motornya langsung diantarkan ke masjid raya oleh sang karyawan,  lengkap dengan dua helm, jas hujan dan sarung tangan. Sebagai jaminan, saya diminta menitipkan kartu identitas.

Usai mendapat kendaraan, kini kami berdua jauh lebih leluasa pergi bertualang. Malam itu kami pergi berkeliling kota, mengisi bensin, membeli keperluan di minimarket, ke apotek untuk menyetok obat-obatan yang dirasa perlu, lalu mencari-cari kuliner malam yang berjejeran hampir di setiap jalan di pusat kota Banda Aceh. Kami lalu singgah di warung kerang di toko pinggir jalan dan merasakan makanan-makanan laut yang ada di kota ini. Waw, maknyus.

Makan malam kami di pusat-pusat kuliner malam Banda Aceh.

Sekali lagi, alhamdulillah. Perjalanan singkat kami di Banda Aceh di hari pertama itu berakhir dengan menyenangkan. Setelah kenyang, kami pun istirahat ke penginapan meski masih sempat muter-muter sampai ke tepi laut. Perjalanan besok insyaAllah akan jauh lebih seru. Setiap perjalanan selalu menyimpan segudang cerita tersirat maupun tersurat, dan maknanya itulah yang saya cari. Akhirnya, kesan pertama kami di Aceh, alhamdulillah, luar biasa!

(To be continued in #TravelStories, insyaallah).

 

1 thought on “Menggali Makna ke Aceh Darussalam”

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s