Al-Masih, Putra Sang Perawan – Tasaro GK [Book Review]

“Hai, Bayi. Aku bertanya padamu,” tangan Imam Lantang menunjuk orang-orang, “mewakili semua orang. Siapa namamu?” Imam Lantang menertawakan diri sendiri. Dia lalu melirik bayi dalam dekapan Maryam. Tetapi, apa yang terjadi kemudian membuatnya terperenyak. Bayi dalam gendongan Maryam membuka matanya. Tampak pancaran ketenangan padanya. Tidak seperti bayi kebanyakan. Bibir mungilnya lalu terbuka, dia berkata-kata.

“Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab, Injil, dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.”

Alhamdulillah, selesai juga membaca buku berjudul “Al Masih, Putra Sang Perawan” karangan Tasaro GK. Saya selalu penasaran dengan buku novel biografi karangan Tasaro GK, karena memori akan buku tetralogi Muhammad SAW yang fenomenal menempati posisi tersendiri di hati saya. Dengan ekspektasi yang sama, saya membaca buku ini. Berikut sedikit reviewnya.

Detail:

  • Judul: Al-Masih, Putra sang Perawan
  • Penulis: Tasaro GK
  • Penerbit: Bentang
  • Cetakan ke: 1, September 2020
  • Jumlah halaman: 448 halaman
  • ISBN: 978-602-291-742-7

Sinopsis

Buku ini merupakan novel pertama dari trilogi Al-Masih karangan Tasaro GK. Sesuai judulnya, novel ini mengisahkan tentang sejarah Isa Al Masih atau Yesus Kristus. Istimewanya adalah, Tasaro mencoba menuliskan cerita dari perspektif tiga agama, yakni Islam, Kristen dan Yahudi. Perbedaan cara pandang ini merujuk kepada sumber kitab suci masing-masing agama, dan di sanalah barangkali penulis bermaksud untuk mencari titik diskusi antara ketiga agama samawi tersebut untuk saling memahami dan menghargai. Bagi saya, ide ini menarik.

Kisah dalam buku ini agaknya difokuskan kepada masa-masa kelahiran Isa Al Masih. Dua bab besar dalam buku ini yakni “Dara Maria” -mengisahkan tentang asal usul Maria atau Maryam, sang perawan suci yang melahirkan Al Masih, dan “Kehamilan Perawan” -menceritakan masa-masa tumbuhnya janin di dalam rahim Maryam, kelahiran Al Masih, dan peristiwa luar biasa yang berada di luar nalar setiap manusia pasca kelahiran Putra Sang Perawan.

Jika kita merujuk kepada judul novel ini, barangkali dalam benak kita sebagian besar isinya adalah tentang sejarah Isa Al Masih. Rupanya, setelah saya baca, saya keliru. Buku ini punya cerita yang justru sangat lain. Latar kisah ini malah bermula di Laut Jawa, Bulan Desember, Abad ke-17 Masehi. Setiap alur kisah yang disuguhkan nanti barulah akan membawa pembaca ke abad pertama sebelum Masehi di negeri Palestina, namun dalam porsi yang lebih sedikit. Kepulauan Nusantara, khususnya Batavia, kemudian menjadi lokasi utama konflik pada novel ini.

“Pusaka itu.. kau harus menemukannya. Pusaka itu akan menjaga iman umat Katolik.”

Adalah Matteo de Gessu, seorang ilmuwan naturalis beragama Katolik asal Italia datang ke Nusantara untuk mencari “pusaka agama yang hilang”. Perjalanan mengarungi samudra itu membawanya tiba di Batavia yang waktu itu sedang dikuasai oleh VOC, serikat dagang Belanda. Menarik membaca bagaimana keseharian warga di dalam benteng Batavia dan di luar tembok kota yang disebut Ommenlanden kala itu yang didominasi oleh orang Eropa, Tionghoa, dan Melayu Jawa. Perjalanan Gesu itu pun mempertemukannya dengan gadis Jawa muslim yang elok rupa namun malang nasibnya, Saathi. Keduanya, barangkali adalah tokoh utama dalam novel ini.

Saathi, gadis Jawa bermata biru dan bersuara merdu yang misterius, kakak dari tiga bersaudara. Adiknya Byoma, anak lelaki yang lugu, dan si bungsu Mletik, perempuan cilik yang cerdas, selalu bersama-sama dengan Saathi kemanapun pergi dengan gerobak beratap anyaman demi mencari sesuap nasi, karena tak lagi punya rumah dan orang tua. Mereka hidup berpindah-pindah, namun pantang mengemis. Saathi mau melakukan kerja apa saja yang penting halal -dan jelas karena pesonanya ia bahkan bisa jadi artis ibukota- namun nasibnya yang malang akhirnya membawanya pada orang-orang yang tak bermaksud baik. Dikhianati teman sendiri, ditipu orang yang sudah dianggap keluarga sendiri, dijual sebagai budak bangsawan kompeni, dijarah, disiksa, dan dipisahkan dengan kedua adiknya yang masih kecil sungguh membuat prihatin.

“Mary!” Lyzbeth van Hoorn berdiri sambil bersedekap dalam jubah tidurnya. Wajahnya masih kusut. “Angkau sedang lakukan apa?”

“Saye seorang Muslim. Saya mendirikan ashalat.”

Lyzbeth seperti tesihir. Tiba-tiba Lyzbeth seperti kesurupan. Berteriak-teriak tak karuan. “Angkau pikir, angkau siapa! Prampuan roh jahat! Penggoda! Tuna susila!”

Saathi menunduk. Tidak ingin mendengarkan caci maki majikannya.

“Saye tiada mau dibabptis.”

Lyzbeth benar-benar naik pitam sekarang. Dia merunduk, melepas terompah kayunya. Dia berikan kepada Hester. “Angkau kasih pukul itu perempuan!” “Kasih pukul!” “Lebi keras, Hester!”

Hester memukul punggung Saathi. Tetapi, Saathi menahan diri agar tiada bersuara sama sekali.

Kasi pukul di kepala!” “Pedro, Fernando, kasi ikat itu prampuan ke tiang!”

Terlepas dari segala kemalangan yang menimpa Saathi, Gesu barangkali terpikat dengannya tidak hanya karena rupanya yang elok namun juga karena kepribadiannya yang teguh dan budi pekertinya yang tinggi. Namun pertemuan mereka tidak pernah lama, Gesu justru lebih sering bercakap dengan Byoma dan Mletik. Gesu yang memiliki drama tersendiri, menyaksikan rumitnya politik Batavia zaman VOC, berhadapan dengan mafia etnis, agama dan penguasa, dan terlibat dalam konflik yang tak berkesudahan, dan kehilangan pastur yang mengirimnya datang ke Nusantara, membuatnya barangkali ikut merasakan penderitaan Saathi dan kedua adiknya hingga mereka semua terpisah. Hingga akhirnya, Gesu menjadi jembatan harapan Saathi agar dapat kembali berkumpul dengan kedua adiknya.

Lalu dimana letaknya kaitan antara cerita Gesu dan Saathi dengan Isa Al Masih? Jujur, bagi saya hal itu masih misteri. Namun yang jelas, kisah Maryam dan Isa senantiasa terselip dalam drama Batavia di beberapa momen, terutama saat yang satu tokoh mengisahkan kepada yang lain. Apakah ada kaitannya nanti dengan “pusaka yang hilang di Nusantara?” Hm..

Ulasan

Bagi saya novel ini menarik, baik dari segi ide cerita dan alurnya. Awal-awal membaca cukup membuat penasaran, meskipun di bab berikutnya saya kurang bisa mempertahankan mood untuk membacanya. Barangkali karena terlalu banyak dialog yang menggunakan bahasa tidak baku karena menyesuaikan dengan dialek melayu lama Batavia dan dialek etnis tradisional lainnya seperti jawa dan tionghoa. Beberapa percakapan antar tokoh kurang bisa saya tangkap sekali baca dan butuh pengulangan, barangkali karena bahasa tadi. Butuh adaptasi beberapa bab dulu sebelum bisa menemukan mood yang baik untuk melanjutkan bacaan, sampai akhirnya tak bisa berhenti. 😀

Satu hal yang menurut saya cukup membingungkan, atau mungkin membuat saya penasaran, adalah kaitan antara kisah Al Masih dengan kisah tokoh utama yang berusaha dibangun, karena berbeda latar tempat dan waktu kejadian. Ya barangkali saya anggap misteri saja. Namun, kisah yang dipaparkan di buku ini mampu menggambarkan bagaimana suasana nusantara tempo dulu, dan rasanya historikal banget. Selain itu penuturan kisah Al Masih dari sudut pandang agama yang berbeda sangat menambah wawasan. Cara penyampaiannya yang bergaya novel juga memudahkan untuk membayangkan situasinya sehingga ruh kejadiannya begitu terasa.

Akhirnya saya merekomendasikan buku ini tidak hanya untuk mengingatkan kita akan kisah Nabi Allah Isa alahissalam, namun juga menambah wawasan dari sudut pandang dari agama lain. Menurut saya buku ini berbobot dan menghibur. Saya tidak sabar untuk menunggu buku lanjutannya. 🙂

Give a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s