Keliling Singkat di Lawang Sewu Semarang, Saksi Sejarah Kereta Api Indonesia #BackpackerStories – Part 14

Perjalanan saya di Kota Semarang terus berlanjut usai mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah. Di sore hari menjelang Ashar, saya memutuskan untuk mengelilingi kota dengan Gojek saja, pasalnya dari masjid tidak ada rute Trans Semarang dan saya juga tidak begitu familiar dengan angkot Semarang. Keputusan itupun sepertinya adalah yang paling efisien dari segala pilihan.

Destinasi selanjutnya yang saya kunjungi adalah Lawang Sewu Semarang. Mas-mas gojek mengantar saya tepat di depan gerbang masuk gedung tua peninggalan Belanda itu. Pertama kali tiba di sana, saya cukup terkesan, gedung tua itu benar-benar sangat terawat. Lokasinya berada di depan Tugu Muda Semarang yang terletak di daerah pusat kota, dan sampai saat ini menjadi ikon utama kota Semarang.

1 Lawang Sewu Semarang

Lawang Sewu artinya “seribu pintu”, dan nama yang melekat pada gedung ini memang tergambar dari struktur bangunannya yang terdiri dari banyak pintu dan pilar-pilar pelana kuda di sepanjang pinggirnya. Dari Wikipedia, saya tahu kalau gedung ini dahulunya merupakan kantor pusat salah satu perusahaan kereta api Hindia Belanda bernama Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Gedung tua ini dibangun sejak 1904 dan selesai tahun 1907, cukup lama juga ternyata.

Selanjutnya pada masa kemerdekaan, gedung ini berubah fungsi menjadi kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Gedung ini juga berperan dalam sejarah pertempuran lima hari di Semarang pada tanggal 14-19 Oktober 1945 antara pemuda Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Namun sekarang, gedung peninggalan sejarah ini diabadikan menjadi museum, terutama menggambarkan perjalanan industri kereta api di kota Semarang.

2 Pintu-pintu di Lawang Sewu Semarang

Setelah puas melihat-lihat struktur luar dari Lawang Sewu, saya kemudian berniat untuk masuk ke dalamnya. Saya hanya dikenai biaya Rp 5.000,- untuk sekali masuk. Pertama kali melangkah saya melihat koridor panjang yang unik, khas gedung-gedung tua Belanda. Di satu sisi koridor itu terdapat pagar setinggi pinggang yang bersanding dengan pilar-pilar menghadap pekarangan, sementara di sisi lain berjejer pintu-pintu masuk ke dalam gedung. Pintu pertama yang saya masuki mengantarkan saya ke sebuah galeri foto dan lukisan yang berjejer panjang di dalam ruangan yang berlapis-lapis. Galeri itu sebagian besar menggambarkan sejarah struktur bangunan Lawang Sewu sejak zaman Belanda hingga hari ini, sampai kepada sejarah perkeretaapian di kota Semarang.

3 Koridor Lawang Sewu

4 Ruangan Galeri Foto dan Lukisan

Puas berjalan mengitari seluruh ruangan galeri, saya kemudian beranjak ke dalam ruangan tengah. Tempat itu cukup gelap karena seolah terkurung oleh ruangan galeri di bagian luarnya. Pencahayaan utama berasal dari jendela besar yang dipenuhi oleh lukisan unik seperti di gereja-gereja. Jendela itu sendiri terletak di lantai dua dan menghadap ke sebuah tangga yang menghubungkannya dengan ruang tengah tersebut. Tapi, sejatinya ruangan itu tidak segelap di foto yang saya ambil ini.

5 Jendela utama Lawang Sewu yang cantik dengan ukiran dan lukisan berwarna

Puas mengelilingi bangunan utama, saya kemudian beranjak ke pekarangan belakang. Sebuah taman rumput luas cukup memanjakan mata. Di salah satu sudutnya terdapat sebuah lokomotif kereta api tua yang dipamerkan. Lokomotif itu berseri C 2301 dan konon dibuat pada tahun 1908 dan dulu melayani rute antara Semarang – Jatirogo, dan Semarang – Blora hingga tahun 1980. Loko uap tua ini adalah salah satu benda bersejarah yang dipamerkan di museum kereta api Lawang Sewu ini. Dari sini saya mengetahui bahwa konon kereta api yang pertama kali di bangun di pulau Jawa adalah di kota Semarang ini.

6 Lokomotif Uap Peninggalan Belanda

Yap, itulah perjalanan singkat saya di Lawang Sewu Semarang. Perjalanan ke tempat ini setidaknya bisa menambah wawasan kita tentang sejarah perkereta apian di kota ini. Selanjutnya, saya berniat untuk mengitari kota Semarang lebih jauh lagi dan mengambil foto lebih banyak. Oleh sebab itu saya berusaha memastikan kalau memori kamera digital saya masih memadai.

Tapi, rupanya foto kereta api ini adalah foto terakhir yang bisa saya ambil berhubung kartu memori saya sudah penuh. Ketika mencoba mentransfer sebagian isi kamera itu kedalam tablet dan flashdisk, rupanya card reader saya rusak. Kartu memori itu tidak terbaca. Saya sempat kebingungan, tidak mungkin saya meneruskan perjalanan tanpa mengabadikannya dalam lensa kamera, dan lebih tidak mungkin lagi kalau saya menghapus foto-foto yang sudah saya kumpulkan sejak pertama kali berangkat dari Padang. Mengingat hari semakin sore, saya akhirnya duduk teremenung di pinggir lokomotif. Bagaimana caranya untuk bisa mentransfer foto di kartu memori kamera saya yang penuh ini ke dalam flashdisk sementara sebentar lagi waktu magrib akan tiba?

#to be continued in #BackpackerStories insyaAllah.

  1. Gambar diambil dari https://images.dagelan.co
  2. Gambar diambil dari http://www.wisataterindah.net
Advertisements

2 thoughts on “Keliling Singkat di Lawang Sewu Semarang, Saksi Sejarah Kereta Api Indonesia #BackpackerStories – Part 14

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s