rare_landing_mountain

My Internship, My Adventure #Internshiplife – Part 4 [The End]

Menjalani internsip setahun itu relatif. Relatif dalam artian apakah ia seru atau enggak. Bagi penikmatnya, mungkin waktu setahun itu terlalu singkat, tapi bagi yang tidak, satu tahun bisa menjadi terasa sangat lama.

So, setahun internsip, ngapain aja?

Well, jawaban formalitas mungkin gak jauh-jauh dari mengaplikasikan ilmu, melayani pasien, mendedikasikan waktu untuk orang banyak, meski dengan penghasilan pas-pasan namun alhamdulillah cukup. Hehe. *Syukuri saja.

Tapi, setahun internsip bakal terlalu membosankan jika hanya melakukan hal-hal ‘biasa’ yang sudah jelas-jelas bakal dikerjakan. Bagaimana kalau kita ‘having some fun?’ Dan itulah yang kami lakukan. Hehe.

Traveling till death!

Jangan melihat sesuatu dari judulnya saja, karena isinya gak seseram judulnya. Hehe. Meski saya melalui internsip di kampung halaman sendiri, masih saja, traveling adalah salah satu yang paling favorit. Pasalnya, kali ini saya ditemani oleh sejawat-sejawat yang juga suka jalan-jalan. Jadilah, selama setahun, banyak tempat yang sudah kami jelajahi. Saya mungkin akan merangkum beberapa di antaranya.

Exploring Payakumbuh

Payakumbuh memang hanyalah sebuah kota kecil yang berada di sisi sebelah timur laut propinsi Sumatera Barat, as I already mentioned in this post, wish you have some time to see it. ^^ Meski begitu, tempat kami menghabiskan waktu bersama selama setahun ini nggak kalah indah dengan tempat-tempat lainnya di luar sana. Jadilah, sebagai tuan rumah yang baik, saya mengajak rekan-rekan sesama dokter ini mengunjungi beberapa destinasi yang ada.

Tempat pertama yang paling worthed di Payakumbuh, dan yang waktu itu memang lagi booming, adalah peternakan sapi Padang Mengatas yang viewnya keren abis. Padang rumput luas di kaki Gunung Sago dengan ribuan sapi-sapi gemuk mungkin mengingatkan pengunjung dengan suasana di New Zealand yang terkenal itu. Meski saya sendiri sudah beberapa kali main ke sini, rasanya gak pernah bosan. Selain pemandangan rumput hijau yang luas dan menenangkan, Payakumbuh juga terlihat jelas dari tempat ini. Saking terpesonanya, sampai-sampai gak sengaja menginjak kue bolu matcha fresh from the oven, alias tahi sapi. Hehe.

Tempat lain yang keren adalah lembah Harau, dengan gugusan tebing-tebing curam dan air terjun, lalu Kapalo Banda, pemandian Batang Tabik, rumah Barbie dan Bukit Batu Manda. Mostly, kami selalu menyempatkan jalan-jalan sehabis jam dinas. Yang paling memungkinkan waktu itu adalah ketika sedang berada di stase bangsal dan poli, karena selesai jam 2 sore, dan juga saat stase Puskesmas.

Travel journey ke luar kota

Gak puas di Payakumbuh, kami sempat malala ke luar kota. Yang paling sering adalah Bukittinggi, which is yang paling deket juga, dan lebih banyak pilihan wisatanya. Gak puas ke Jam Gadang aja karena sudah terlalu mainstream, kami malah muter-muter di Pasar Atas yang lebih tradisional.

jam-gadang-buruan

Jam Gadang dan Pasar Atas Bukittinggi (www.buruan.co)

Selain Bukittinggi, kami juga menyempatkan waktu ke Pekanbaru, ibukotanya propinsi tetangga. Kalau ini mah, wisatanya wisata modern. Ketika cukup bosan dengan pemandangan alam, kami memilih menghabiskan waktu menonton di bioskop XXI Pekanbaru lalu shopping di Mal. Dibanding Padang, Pekanbaru mungkin lebih maju dalam hal beginian. Hehe.

Hunting Kuliner

Kuliner emang wisata surga di Sumbar. No doubt. Puas banget.

Firstly Payakumbuh. Selain makan di nasi ampera di Payakumbuh yang jauh lebih murah, ngafe di berbagai cafe dan restoran yang sedang menjamur di sepanjang jalan protokol kota,  beberapa tempat mungkin kami tandai sebagai tempat makan favorit. Sebut saja Pangek Situjuah, yang menyediakan samba Pangek, yaitu semacam olahan gulai nangka yang dimasak lebih lama sehingga bumbunya lebih terasa. Belum lagi di sana tersedia lamang sarikayo yang benar-benar empuk di lidah. Tempat lain yang sering jadi langganan karena indahnya view yang ditawarkan adalah Rumah Bako Resto di lereng Gunung Bungsu. Kita bisa melihat pemandangan hijau, gunung dan perbukitan dari tempat ini.

Secondly Bukittinggi, bukannya mengunjungi objek wisata, kami lebih memilih untuk hunting kulinernya. Hehe. Puas dengan bakso Yarsi yang enaknya melegenda, makan siang di resto paling kece di Taruko, dengan suasana rumah kayu dan pemandangan alamnya yang indah, kami juga sempat nyicip susu murni dan beberapa fast food. Ini emang salah banget, ckck.

taruko

View di Taruko (instagram: Erison J. Kambari)

Selain traveling sama hunting kuliner, sejatinya banyak hal yang menyenangkan yang bisa dilakukan selama Internsip jika kita mau. Namun, yang dua ini mungkin yang paling favorit, yang tanpanya barangkali internsip akan menjadi kurang menyenangkan. Begitu juga mungkin dengan keseharian kita, ternyata memang nggak baik jika kita terlalu fokus dan serius dalam waktu yang lama. Sesekali ajaklah refreshing, dengan begitu pikiran akan lebih jernih dan tenang. Saya yakin semua bakal setuju. Hehe.

The Jorney finally Ends

Setelah akhirnya satu tahun berlalu, internsip pun berakhir sudah. Setelah melalui beberapa prosedur administrasi, seperti mengurus surat pemulangan, laporan kegiatan selama internsip, termasuk kasus portofolio dan mini project, serta berbagai surat menyurat lainnya, kami semua menutup internsip dengan lega di Basko Hotel Padang, tepatnya di acara penutupan Internsip angkatan XXIII. Tak dipungkiri, alhamdulillah banyak manfaat yang sudah diperoleh. Meski tak semua bisa diceritakan, mudah-mudahan, cerita hidup berikutnya akan jauh lebih berharga.

2 thoughts on “My Internship, My Adventure #Internshiplife – Part 4 [The End]

  1. Ami says:

    Bagian paling asyik dari kegiatan seperti ini kayaknya adalah jalan-jalan ya, An. Jadi tahu beberapa tempat wisata di Payakumbuh dan sekitarnya. Baru pernah ke Batang Tabik sama Harau, itupun juga sudah lama.

    Tapi orang Payakumbuh kreatif-kreatif, IRT-nya terutama untuk makanan khas Minang kayaknya berkembang ya, seperti berbagai olahan randang, singkong, ubi, dan lain-lain.

    Like

    • Sandurezu サンデゥレズ says:

      Iya Mi.. Payakumbuh memang banyak sekali IRT kaya gitu mi.. Mereka biasanya buka toko di depan pabriknya, jadi pembeli juga pasti dapat kualitas fresh from the oven mi.. Klo di tempat lain mungkin mesti dikirim dulu dari pabrik baru dijual.. 😁

      Liked by 1 person

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s