Explore Kaliurang dan Candi-Candi Mungil di Sleman, Sebuah Momen di Jogja

Ada banyak spot yang saya kunjungi selama tinggal di Jogja, salah satunya Kaliurang dan candi-candi kecil di Sleman. Sebenarnya cerita ini adalah cerita flashback, ketika awal tahun 2019 kembali ke Jogja setelah liburan semester 1 kuliah. Waktu itu Yaya masih mengandung usia 5 bulan, namun sayangnya belum sempat diposting. Sedikit rehat dari kerjaan di lab yang akhir-akhir ini makin menumpuk, ada baiknya menulis lagi. 🙂

Kali ini saya ingat-ingat lagi bagaimana suasana di Jogja awal tahun 2019 sebelum virus korona menyerang. Saat itu adalah tahun-tahun yang tenang, meskipun sebagai status calon bapak dan mahasiswa semester dua. Karena menjomblo lagi dan lagi LDR-an sama Yaya, saya akhirnya mencari hiburan dengan mengelilingi Jogja naik motor. Kaliurang seingat saya adalah destinasi awal yang saya kunjungi ketika kembali ke Jogja kala itu.

Kaliurang itu dimana sih?

Well, Kaliurang adalah sebuah wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Kabupaten Sleman, Jogja bagian Utara yang berada di bawah kaki gunung Merapi. Di Wikipedia disebut, Kaliurang itu artinya “Sungai Udang”. Saya tanya orang Jogja katanya juga begitu, “Kali” artinya sungai, “Urang” artinya udang. Mungkin dulu di sini banyak udangnya kali ya? Tempat ini cukup terkenal, terutama karena udaranya yang sejuk dan tempat wisatanya yang buanyak banget, bahkan kualitas internasional. Salah satunya di kaki Gunung Merapi.

Yaaap! Gunung Merapi sudah tak asing lagi bagi orang Indonesia, karena sering muncul di tivi. Ingat Mbah Marijan, ingat Gunung Merapi. Letaknya persisi di pucuk perbatasan utara DIY, ingat saja bentuk provinsi DIY di peta kan runcing-runcing gitu, yang paling runcing itu lah pusat titik Gunung Merapi. Saya kesana naik motor dari kontrakan di daerah Mranggen Kidul. Mudah saja, ikuti saja jalan ke utara, maka muaranya adalah di kaki Gunung Merapi.

Suasana di sini adem sekali, sejuk, beda dengan hawa panas Kota Jogja, karena letaknya di dataran tinggi. Pemandangannya, aduhai. Saya suka sekali dengan puncak merapi yang runcing dan gagah terlihat dari seantero Jogja kalau langit lagi cerah. Kalau mau main ke kawah, sayang sekali gak bisa pake motor, karena daerah itu ditutup untuk komersil. Kita harus menyewa Jeep dan agaknya mubazir kalau pergi sendirian, jadi lebih enak ramai-ramai.

DSC_9624
suasana sunyi di kaki Merapi, adeem.
DSC_9629
Gerbang masuk Jeep Adventure Merapi

Mengenal lebih dekat akan gunung ini, dulu saya juga pernah singgah di Museum Merapi. Museumnya rapi, ramai dan cukup representatif buat kita yang ingin tahu sejarah Merapi dari masa ke masa. Di sana ada juga ruang bioskop mini yang menampilkan film dokumenter menarik tentang Gunung Merapi.

DSC_8740
Penampakan depan museum
DSC_8744
Tiket masuk, murah beud
DSC_8745
Museum Hall

DSC_8761

Selain museum, saya juga sempat explore beberapa spot di area resort Kaliurang. Areanya sejuk, namun saya tak sempat membidik suasananya dengan kamera, karena lebih enak menikmati udaranya di atas motor sambil mengeksplor jalanannya yang berkelok-kelok dan mendaki menurun.

DSC_8693
Berhenti di salah satu sudut jalan Kaliurang

Puas melihat-lihat suasana Kaliurang, saya lalu singgah ke Sleman bagian Timur, dekat perbatasan DIY-Jateng. Lokasi ini sudah tak asing lagi, tempat dimana candi-candi megah di Jogja berada, salah satunya Candi Prambanan. Karena sudah pernah berkali-kali ke Prambanan, saya ingin mengeksplor candi-candi mungil yang ada di sekitarnya. Salah satunya Candi Sari. Di sana cukup lengang, lokasinya justru ada di tengah-tengah pemukiman warga. Barangkali dulu di candi ini masyarakat Hindu melaksanakan ibadah dan ritualnya.

DSC_9633
Candi Sari dari depan gerbangnya yang mungil di pinggir jalan, mentok langsung masuk area candi.

Selain Candi Sari, candi lainnya yang tak kalah terkenal adalah Candi Ratu Boko. Candi ini berada di atas bukit, dan menyuguhkan pemandangan yang aduhai. Konon katanya kalau ke sini di saat magrib, pemandangan sunsetnya akan membius mata setiap penikmatnya. Masuk ke sini bayar, agak mahal, dan ramai sekali pengunjung.

Dikutip dari situs borobudurpark.com, Candi Ratu Boko ini ternyata bukan sebuah candi, tapi reruntuhan kerajaan, makanya disebut Kraton Ratu Boko. Karena menurut legenda, situs ini merupakan istana Ratu Boko, ayah Lara Jonggrang. Diperkirakan tempat ini dibangun pada abad ke08 oleh Wangsa Syailendra yang beragama Budha, namun diambil alih oleh raja-raja Mataram Hindu.

 

DSC_9645
Taman di depan Keraton Ratu Boko
DSC_9648
Candinya simpel aja tapi entah kenapa eksotis gitu kesannya, dan rame beud
DSC_9649
Ini pemandangan yang instagramabel banget kalau lagi sunset, saya datangnya siang-siang, jadi cuma dapat panasnya doang. 😀
DSC_9637
Melihat pemandangan Sleman dari atas bukit Candi Ratu Boko

Yup, itulah jalan-jalan singkat saya di Jogja bagian utara. Pernah mengunjungi salah satunya? 😀

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s