Cerita Awal di Surabaya, Stasiun Pasar Turi dan Menara Tugu Pahlawan #BackpackerStories – Part 16

Perjalanan terus berlanjut, sampai hari itu akhirnya saya tiba di ibukota provinsi paling timur dari Pulau Jawa. Ya, Surabaya. Saya pertama kali tiba di kota itu sekitar pukul 4 subuh, saat Stasiun Pasar Turi menyambut saya dengan dingin. Usai turun dari kereta yang membawa saya dari Kota Semarang hingga sampai di stasiun ini, saya melangkah keluar area peron, dan sehabis mencuci muka sejenak di toilet stasiun, saya pun berjalan hingga langit yang gelap mulai menyapa saya kembali. Di luar sini, suara azan mulai terngiang, tanda waktu Subuh telah masuk. Saya lalu mengikuti sumber suara itu, hingga takdir menghantarkan saya tiba di Masjid Baiturrohim Stasiun Pasar Turi.

Usai shalat Subuh berjama’ah di masjid itu, awalnya saya hendak memutuskan untuk mandi di sana, tapi rupanya tidak diperkenankan. Saya lalu memberanikan diri bertanya pada bapak penjaga sepatu, yang duduk di balik meja-sekaligus rak lemari tempat sepatu jama’ah diletakkan.

“Permisi Pak, di dekat sini ada kamar mandi umum?” tanya saya.

“Oh, ada Mas, tak jauh dari sini,” ujar si bapak, “Mas bisa mengikuti jalan di depan masjid ini, lurus terus sekitar 200 meter, lalu kamar mandinya ada di sebelah kiri. Di sana ada penjaganya.”

Saya lalu menoleh ke jalan kecil di depan pagar masjid, yang dibaliknya terdapat warung yang masih tutup. Setelah yakin, saya mengucapkan terima kasih.

Kamar mandi itu rupanya memang ada, saya tiba di sana sambil menyandang ransel ketika langit masih terlihat gelap. Seorang bapak-bapak penjaga tampak duduk di atas bangku kayu panjang. Di depannya terdapat kotak uang. Sekali mandi cukup membayar Rp 5.000,- kepadanya. Ah, tapi saya tidak suka dengan tempat itu. Kesannya kumuh, walaupun bak mandinya cukup bersih. Yang paling menyebalkan adalah saluran airnya yang mampet hingga membuat genangan. Tapi apalah daya, saya hanya musafir yang tak punya pilihan lebih baik dari ini.


Saat itu langit sudah mulai membiru. Usai mandi, saya duduk di sebuah kedai sarapan pagi tepat di depan masjid Baiturrohim yang sudah tutup. Menu sarapan pagi itu adalah Nasi Soto. Bentuknya simpel sekali, kuahnya hitam dan tidak ada tambahan mie putih seperti soto yang biasa saya makan di Minangkabau. Sekilas lebih mirip sup daging, dengan jeroan dan telur ayam rebus yang dicelupkan di dalam kuah. Dimakan bersama nasi putih, soto itu cukup nikmat, apalagi ditambah dengan cabe hijau yang pedas. Tapi, bagaimanapun saya lebih suka soto Padang. Lagipula, harganya mahal sekali, 20 ribu satu porsi.

1 Nasi Soto Surabaya

Kini, saya sudah segar kembali. Alhamdulillah malam tadi saya tidur pulas di atas kereta, jadi pagi ini saya tidak tidak mengantuk lagi. Seiring kaki saya melangkah keluar area stasiun, seperti biasa, tukang ojek kembali menawarkan saya tumpangan. Saya hanya bisa menolak mereka dengan segan, karena memang niat pagi itu saya ingin berjalan kaki pergi ke Menara Tugu Pahlawan yang berada tidak jauh dari Stasiun Pasar Turi. Tapi, tukang-tukang ojek di sini tidak sama dengan di tempat lain, mereka benar-benar gigih, dan logat mereka sedikit keras dan kasar, tidak seperti di Semarang. Menolak sedikit segan, mereka justru membalas dengan tatapan seolah marah. Ah, inikah orang Surabaya? Saya jadi su’udzon.

Berjalan kaki sepertinya adalah hal yang paling tidak menyenangkan di Surabaya, bukan karena trotoarnya yang malah sudah besar, bersih dan tertata, tetapi karena tukang ojek yang berkeliaran kesana kemari dan sedikit memaksa. Saya merasa jadi sasaran empuk oknum-oknum ini, sehingga saya lebih suka menghindari melintas di depan mereka ataupun dekat-dekat ke pangkalan ojek. Please Pak, saya cuma ingin menikmati kota ini sejenak. Ckck. Saya hanya pengelana yang lagi ngebolang.

Syukurlah, tak lama kemudian saya tiba di Taman Menara Tugu Pahlawan sekitar pukul setengah 7 pagi. Taman ini ternyata sudah ramai oleh penduduk kota yang sedang berolaharaga pagi atau sekedar menghabiskan waktu sambil ngobrol dan duduk-duduk santai menikmati udara sejuk kota Surabaya di pagi yang sedikit berkabut itu. Pertama kali masuk ke kompleks taman itu, Presiden Soekarno dan Wapres Mohammad Hatta menyambut saya di depan tangga. Mereka berdiri di atas sebuah batu podium besar di depan reruntuhan pilar-pilar bangunan tua. Ah, saya bukan sedang mengidap halusinasi kok, hehe. Saya hanya terkesima melihat monumen proklamator itu, membuat setiap pengunjung langsung merasakan ruh sejarah perjuangan kota ini.

2 Monumen Proklamator

Usai mengagumi monumen itu, saya beranjak sedikit lebih dekat. Sepertinya ada sesuatu yang ditulis Bung Karno di selembar kertas yang kini abadi di depan podium itu. Pesan itu berbunyi,

Pahlawan sejati tidak minta dipuji jasanya. Bunga mawar tidak mempropagandakan harumnya, tetapi harumnya dengan sendiri semerbak kekanan-kiri.

Tetapi: Hanya bangsa yang tahu menghargai pahlawan-pahlawannya, dapat menjadi bangsa yang besar. Karena itu, hargailah pahlawan-pahlawan kita!

Merdeka!

Soekarno,

Yogyakarta, 10 Nop ’49.

Seperti biasa, tulisan-tulisan Bung Karno memang memompa semangat. Ya, itulah pesan yang saya baca ketika pertama kali tiba di lapangan terbuka monumen Tugu Pahlawan itu.

3 Pesan Bung Karno

Kini, sambil menolehkan pandangan ke sisi lain, di tengah-tengah padang rumput yang hijau, tampaklah sebuah menara tinggi berwarna putih dengan ujung yang lancip. Saya bisa mengira jikalau itulah dia menara tugu pahlawan yang dimaksud. Saya jadi penasaran ingin melihatnya lebih dekat, barangkali di dekat sana ada informasi yang bisa saya temukan mengenai menara tersebut.

4 Monumen Tugu Pahlawan

Sambil berjalan kaki menuju menara, saya melintasi kompleks taman yang asri di samping monumen proklamator. Taman ini dihiasi dengan bunga-bunga, tanaman-tanaman khas yang dilengkapi label nama dan informasi lainnya, serta beberapa patung tokoh pahlawan nasional seperti Residen Soedirman, Mayjen Soengkono, dan lain-lain. Bebepara orang juga memanfaatkan taman ini sebagai perlintasan jogging dan tempat berteduh yang nyaman. Ketika sampai di situ, angin sepoi-sepoi yang berhembus di sela-sela tanaman dan pepohonan terasa sejuk sekali, lagipula bunga-bunga yang ada juga cantik.

5 Taman Pahlawan

Berjalan sedikit lagi, saya akhirnya tiba tepat di kaki menara tugu pahlawan. Di sebuah papan informasi, saya bisa mengetahui bahwa menara ini disebut dengan Monumen Tugu Pahlawan, didirikan dan diresmikan tepat pada hari Pahlawan yang berturut-turut pada 10 November 1951 dan 10 November 1952 oleh presiden RI pertama Ir.Soekarno. Menara ini tingginya mencapai 41,15 meter dengan diameter atas 1,3 meter dan diameter bawah 3,1 meter. Lumayan tinggi juga ya.

Di sekitar kaki menara itu, juga terdapat sebuah patung prajurit yang di bawahnya tertulis “Makam Pahlawan Tak Dikenal”. Dari tulisannya saja saya bisa tahu, kalau di tempat ini telah banyak sekali berguguran para pahlawan kemerdekaan yang berjuang untuk mengusir para penjajah di masa lalu. Ah, replika ini membuat saya makin merasakan kalau perjuangan bapak-bapak kita di masa lalu memang mati-matian, taruhannya adalah nyawa dan kehormatan, bahkan tanpa ingin dicatat nama dan siapa mereka. Ya, mereka adalah pahlawan bangsa yang berjuang dengan ikhlas tanpa pamrih, hanya memikirkan anak cucu dan masa depan bangsa. Tentu saja, pahlawan-pahlawan tak dikenal itu patut untuk dikenang jasa-jasanya. Saya suka suasana seperti ini! Pahlawan itu benar-benar ada.

6 Monumen Pahlawan Tak Dikenal

Tak jauh dari monumen itu, juga terdapat sebuah batu besar dengan tulisan yang terpahat rapi. Di sana tertulis, “Padamu Generasi, tanpa pertempuran Surabaya, sejarah bangsa dan negara Indonesia akan menjadi lain.” Pesan ini menurut saya benar-benar menyentuh, membuat kita sejenak merenungi bagaimana gigihnya pejuang bangsa dulunya bertempur untuk mempertahankan kemerdekaan.

7 Batu besar dengan tulisan yang patut untuk direnungi

Jika mengingat lagi sejarah, kita mungkin sudah sangat familiar dengan tanggal 10 November, yang setiap tahun selalu diperingati sebagai hari Pahlawan. Pada tanggal itulah, lebih tepatnya pada 10 November 1945, di kota Surabaya ini terjadi peristiwa perang antara tentara Indonesia melawan pasukan Inggris (Britania Raya), perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Prokalamasi Kemerdekaan Indonesia. Pertempuran ini tercatat sebagai pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia, dan menjadi simbol atas perlawanan melawan kolonialisme.

Wikipedia cukup jelas menerangkan peristiwa itu. Setelah Jepang menyerah dan Indonesia merdeka, tentara Inggris yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atau blok Sekutu, mendarat di Jakarta dan kemudian tiba di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Misi mereka selain melucuti tentara Jepang dan memulangkan tentara Jepang ke negerinya, adalah mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. Mereka juga dibonceng oleh pemerintahan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) untuk tujuan tersebut. Akibatnya, terjadi gejolak dari rakyat Indonesia dan menimbulkan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan AFNEI dan NICA.

Puncaknya terjadi pada tanggal 10 November 1945, pasca terbunuhnya BrigJen Mallaby (pimpinan tentara Inggris di Jawa Timur) pada 30 Oktober 1945. Penggantinya, MayJen Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945. Ultimatum itu kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk badan-badan perjuangan seperti TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan organisasi perjuangan lainnya. Karena rakyat tidak merespon, maka pada 10 November 1945 pagi hari, tentara Inggris mulai melancarkan serangan. Pertempuran besar pun terjadi.

Surabaya menjadi berdarah ketika itu, saat semua rakyat berjuang gigih melawan serbuan Inggris. Adapun pahlawan-pahlawan yang berjuang menggerakkan rakyat ketika itu adalah Bung Tomo, dengan pidatonya yang terkenal dan masih bisa kita dengar hingga hari ini, lalu KH.Hasyim Asy’ari, KH.Wahab Hasbullah dan kyai-kyai pesantren lainnya bersama santri-santri mereka. Setidaknya, 16 ribu pejuang Indonesia gugur dalam perjuangan yang berlangsung sekitar 3 minggu, sementara korban dari tentara Inggris kira-kira 2000 orang. Pertempuran itu akhirnya menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia, akibatnya banyak sekali pejuang dan rakyat sipil Indonesia yang gugur, sehingga akhirnya 10 November dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Tidak puas berkeliling di situ, rupanya masih ada spot lainnya di sekitar tugu pahlawan ini. Dan itu adalah sebuah museumyang berada di bawah tanah, bernama Museum Sepuluh November. Beruntung sekali, museum itu baru saja dibuka pukul 8 pagi, dan masih cukup sepi. Saya tidak sabar untuk segera masuk, berharap bisa menikmati sajian sejarah bangsa yang mengagumkan bersama penikmat sejarah lainnya.

Melewati loket pembelian karcis, saya masuk dengan modal hanya 5 ribu rupiah, lalu berjalan masuk ke ruangan museum dan menuruni lantai menggunakan escalator sampai akhirnya tiba di sebuah ruangan besar yang penuh dengan peninggalan-peninggalan sejarah. Di antara objek sejarah yang saya nikmati antara lain foto-foto lama peresmian tugu pahlawan, lalu diorama perjuangan rakyat Surabaya melawan tentara kolonial, senjata-senjata rakyat yang dipakai ketika pertempuran maupun yang berhasil dirampas dari musuh, alat-alat medis yang digunakan untuk mengobati korban luka, dan rekaman pidato Bung Tomo yang legendaris, hingga pemutaran video kronologis perjuangan 10 November. Ah, senangnya!

8 Beberapa koleksi Museum dan benda-benda bersejarah saksi perlawanan rakyat Surabaya melawan Tentara Kolonial yang ada di Museum Sepuluh November

Ya, rasanya berkunjung ke museum ini benar-benar menyenangkan. Melalui komplek tugu Pahlawan ini, Surabaya sudah memperkenalkan saya tentang sejarah bangsa yang luar biasa. Tak pelak dan tak mesti lagi dipertanyakan mengapa kemudian kota ini dijuluki kota Pahlawan. Bagi saya, ini awal yang menyenangkan di kota ini. Saya menjadi tidak sabar untuk segera mengeksplor Surabaya seharian penuh ini sampai nanti malam sebelum bertolak ke Bali. Beberapa spot sudah saya tandai di dalam google maps, dan mudah-mudahan perjalanan singkat ini bisa memberi banyak pelajaran berharga untuk dikenang.

#to be continued in #BackpackerStories insya Allah.

Advertisements

4 thoughts on “Cerita Awal di Surabaya, Stasiun Pasar Turi dan Menara Tugu Pahlawan #BackpackerStories – Part 16

  1. Surabaya sepertinya lebih panas dan orang-orangnya punya karakteristik berbeda dengan orang-orang Jawa Semarang atau Jogja ya.. tapi dari segi tatanan kota, gimana, An? Rapi dan tertatakah? Btw museumnya bagus dan menarik, pas untuk belajar sejarah Kota Pahlawan.

    Liked by 1 person

    1. Sekilas karakternya begitu kesannya Mi, tapi percayalah gak semuanya kok, hehe, perjalanan masih panjang. Kotanya rapi banged, trotoarnya besar2 walaupun beberapa spot masih harus jalan di aspal, tapi macetnya luar biasa 😂 mungkin akan diceritakan di episod selanjutnya, haha.

      Iya, museumnya bagus Mi.

      Like

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s