Jawa, Bali & Nusa Tenggara, Stories, Travel

Berpacu dengan Waktu: Jelajah Tanah Lot Temple

Pukul 2 sore, motor matic yang saya kendarai melaju kencang di jalanan Pulau Bali. Mulai dari ujung selatan Bali, Pura Uluwatu, melewati kemacetan parah menjelang masuk wilayah dekat Bandara Ngurah Rai, saya tiba di Kota Denpasar sekitar 40 menit kemudian. Tapi saya belum puas –meski tahu harus segera mengakhiri perjalanan di Bali sore ini, saya melucuti jalan dengan kecepatan tinggi menuju arah utara, tak ingin melewatkan momen berharga. Belum ke Bali kalau belum ke Tanah Lot! Pikir saya. Saya berkejaran dengan waktu, melewati sekian pemandangan menakjubkan dari rumah-rumah penduduk, sawah-sawah terasering bertingkat-tingkat, sampai akhirnya tiba di sebuah negeri bernama Tabanan.

Pertama kali masuk ke wilayah yang berada di pesisir barat Pulau Bali ini, jalan raya By Pass Tahan Lot yang besar dan lapang mulai berganti dengan jalan aspal kecil yang masyaAllah padat bukan main. Tak sedikit jalan itu berlobang, mungkin karena selalu dilewati banyaknya bus-bus pariwisata berbobot jumbo yang hilir mudik datang setiap hari. Mujurnya karena saya bawa sepeda motor, saya hampir bisa mengatasi kemacetan yang parah di banyak titik. Namun, prediksi saya akan tiba di tempat tujuan tepat waktu tidak terpenuhi. Saya telat setengah jam sampai di Tanah Lot, pukul setengah 4 sore!

Akhirnya, saya menghela napas, setelah berjuang mencari jalan yang benar dengan Google Maps menuju destinasi tereksotis di Pulau Dewata, Tanah Lot. Saya sadar, saya tidak punya banyak waktu di sini karena harus segera mengembalikan motor di Legian pukul 6 sore. Oke, setengah jam saja!

Gerbang masuk objek wisata Tanah Lot

Usai membayar tiket masuk seharga Rp 22.000,-, saya buru-buru melangkah melewati sebuah gapura unik khas Pura Bali. Di balik gerbang itu terdapat berbagai macam toko yang ramai dikunjungi wisatawan. Tanpa mempedulikan, saya fokus mencari jalan di sela-sela keramaian hingga akhirnya menemukan apa yang saya cari. Pemandangan laut lepas tampak mempesona oleh bingkaian batu-batu hitam di lepas pantai yang di atasnya berdiri pura legendaris dengan atap berjenjang-jenjang, Tanah Lot Temple!

Gerbang terakhir menuju Pura Tanah Lot

Pura Tanah Lot adalah rumah ibadah agama Hindu kuno yang ada di Bali. Tanah Lot artinya “Tanah di atas Laut” dalam bahasa Bali. Pura bersejarah ini konon dibangun pada abad ke-16 oleh Dang Hyang Nirartha, tokoh Hindu Bali, sebagai tempat pemujaan untuk dewa laut, Dewa Baruna atau Bhatara Segara, salah satu dewa dalam mitologi Bali. Pura ini merupakan salah satu dari tujuh pura laut di pesisir pulau dewata. Melihatnya berdiri di atas bebatuan hitam yang selalu dihempas oleh ombak lautan, menciptakan suasana mistis tersendiri bagi saya.

Alhamdulillah, It is Tanah Lot Temple! #superexcited

Alhamdulillah, rasanya begitu bahagia bisa melangkahkan kaki ke tempat ini. Meski hanya tiga puluh menit, dan sama sekali tidak sempat belanja apapun di toko-toko yang ada di komplek objek wisata ini, saya sangat puas. Usai shalat jama’ Ashar dan Zhuhur di salah satu mushalla minimarket Tanah Lot, saya akhirnya kembali ke Kuta, mengembalikan sepeda motor yang sudah habis tenggat waktu rentalnya. Meski terlambat sepuluh menit, syukurlah mas-mas empunya motor tidak keberatan.

“Gila, Mas,” ucap si Mas padaku geleng-geleng, “bisa sampai ke Uluwatu dan Tanah Lot seharian.”

Aku hanya bisa nyengir, “Saya juga tidak menyangka, Mas.”

Menjelang magrib, ayah dan ibu saya sempat menelepon. Dengan semangat, saya menceritakan pengalaman luar biasa hari ini. Malamnya, saya menginap di Hotel S8 daerah Legian, hanya Rp 75.000 semalam, dengan pelayanan memuaskan. Saya pun sempat berkeliling daerah Kuta sambil melihat-lihat kehidupan malam pulau dewata yang sepertinya tidak pernah mati. Pergi ke pusat grosir, membeli pernak-pernik untuk kenang-kenangan, makan malam di warung nasi emperan, lalu mengintip hal-hal menarik di restoran-restoran sea food, sudah lebih dari menyenangkan. Saya benar-benar bersyukur, bisa sampai ke Pulau Bali.

Jalan-jalan menikmati suasana malam sekitaran Legian, Bali
Lobsternya guede bangets, harganya juga to the max, #gilaks

Pada akhirnya, perjalanan selalu mengajarkan saya akan banyak hal. Bijak menggunakan waktu, berani melakukan hal-hal baru, cerdas memilih hal-hal positif dan menyaring hal-hal negatif, tahu dengan adat istiadat orang lain, lalu merefleksikan dunia luar ke dalam pikiran sendiri, semua itu sudah jauh dari cukup untuk menambah wawasan dan spiritual, terutama belajar bersyukur dengan nikmat Allah. Makanya, saya percaya, perjalanan itu bernilai ibadah, karena bisa lebih mendekatkan kita dengan Sang Pencipta. Allah juga berfirman dalam Al-Qur’an: “Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (Q.S. Al-Mulk (67): 15) Oleh sebab itu, saya menjadi semakin semangat untuk terus melangkah melihat dunia.

Finally, perjalanan saya di Bali berakhir sampai di sini. Semoga suatu saat bisa kembali ke sini, karena masih banyak tempat-tempat yang ingin saya kunjungi. Malam itu akhirnya berlalu sampai akhirnya esok pagi perjalanan menuju destinasi terakhir akan segera berlanjut. Yup, it is time to go to Lombok!

*to be continued in #backpackerstories, insyaallah.

Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s