IMG_0445

Sejarah Tuhan – Karen Armstrong [Book Review]

Buku Karen Armstrong berjudul asli A History of God: 4,000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam ini mungkin adalah buku sejarah terberat yang pertama kali saya baca. Buku yang terbit sejak tahun 1993 dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sejak 2001 ini merupakan sebuah narasi deskriptif tentang sejarah awal mula munculnya tiga agama besar, yakni Islam, Kristen dan Yahudi. Karen Armstrong sendiri merupakan seorang kristen khatolik Roma yang menurutnya telah memiliki kepercayaan keagamaan yang kuat sejak kecil, tetapi dengan sedikit keimanan kepada Tuhan. Ia mengaku mulai meneliti sejarah ide dan pengalaman tentang Tuhan dengan harapan menemukan bahwa Tuhan adalah proyeksi kebutuhan dan hasrat manusia. Karen kemudian meneleti sejarah tiga kepercayaan monoteistik tersebut. Menarik untuk dibaca karena ketiga agama ini sebenarnya memiliki alur sejarah yang runut dan berkaitan. Mungkin akan coba sedikit saya ceritakan secara ringkas, mengingat tebalnya buku ini -673 halaman.

Sejak awal mula, para ahli telah mencoba memunculkan berbagai macam teori tentang asal muasal dikenalnya Tuhan oleh manusia. Antara lain, misalnya, manusia telah sejak lama mempercayai adanya satu kekuatan gaib (numionous) diluar nalar manusia, selain itu, adanya satu kepercayaan terhadap satu Tuhan Tertinggi, yang disebut monoteisme primitif. Catatan sejarah paling awal dari kesadaran itu diperoleh dari peradaban Mesopotamia kuno di Lembah Tigris-Efrat (Irak sekarang), yang telah dihuni sejak 4000 SM oleh sekelompok manusia yang dikenal sebagai orang Sumeria. Mereka telah membangun kebudayaan oikumene (dunia berperadaban) terbesar pertama, terlihat dari peninggalan menara-kuil hebat (ziggurat), ilmu hukum, sastra, dan mitologi yang mengesankan sampai mereka diinvasi oleh orang Akkadian Semitik. Lalu sekitar 2000 SM, orang Amorit menaklukkan peradaban itu dan mendirikan Babilonia sebagai ibukota. Lima ratus tahun kemudian, orang Asyur bermukim tak jauh dari situ dan menguasai Babilonia pada abad ke 8 SM. Tempat itu kelak mempengaruhi mitologi dan agama Kanaan, yang akan menjadi Tanah yang Dijanjikan bagi orang Israel kuno.

Waktu itu, meskipun pada awalnya mereka mengakui satu Tuhan, tapi jaraknya terasa semakin jauh sehingga mereka mulai merepresentasikan kepercayaan Tuhan itu ke dalam wujud dewa-dewa, yang mereka “ciptakan” sendiri. Dalam mitos Babilonia kuno, mereka meyakini tak ada penciptaan yang bermula dari ketiadaan, hingga sebelum dewa-dewa maupun manusia ada, bahan mentah yang “suci” ini telah ada secara abadi. Selanjutnya, barulah muncul dewa-dewa sepeti Apsu dan Tiamat yang kemudian dewa-dewa yang berpasangan beranak pinak melahirkan dewa-dewa baru, sampai akhirnya Dewa Marduk dikisahkan menciptakan manusia dengan cara mencampur darah dewa dengan abu. Kepercayaan demikian tidak terbatas di timur tengah, tetapi lazim di seluruh dunia kuno. Namun, banyak lagi mitos-mitos tentang dewa-dewa kuno yang muncul, seperti kisah Baal-Habad, Inna, Isytar, Isis, dan lain-lain.

Karen kemudian membahas awal mula kembalinya kepercayaan terhadap satu Tuhan melalui kisah Abraham (nabi Ibrahim alaihissalam) dan anak keturunannya -yang ia kutip dari Al Kitab dan Kitab Kejadian- yang mulai mendatangai Kanaan sebanyak 3 kali gelombang, yakni (1) Abraham dan Hebron pada 1850 SM, lalu (2) Yakub (cucu Abraham) -yang diganti namanya menjadi Israel, dan (3) suku-suku yang mengaku keturunan Abraham dan dijadikan budah oleh orang Mesir tapi dimerdekakan oleh suatu ilah bernama Yahweh, yang juga merupakan tuhan pemimpin mereka, Musa -sekitar 1200 SM. Setelah mereka masuk ke Kanaan, mereka beraliansi dengan orang Ibrani yang ada di sana dan kemudian disebut orang Israel dengan lima kitab pertama Alkitab: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan, yang dikumpulkan menjadi sebuah naskah akhir yang disebut Lima Kitab Musa (Pentateukh) pada abad kelima SM. Namun sampai sekarang, kitab-kitab itu banyak ditemukan pertentangan, misalnya mengenai sejarah-sejarah masa lalu, termasuk tentang nama Tuhan itu sendiri, ada yang menyebut nama Tuhannya dengan “Yahweh”, yang lainnya “Elohim”. Namun sekarang muncul pertanyaan, siapakah Yahweh? Apakah Abraham menyembah Tuhan yang sama dengan Musa atau apakah dia mengenalnya dengan nama yang berbeda. Belakangan disebutkan bahwa Tuhan Abraham adalah El, Tuhan Tertinggi Kanaan. Di ayat yang lain disebutkan lagi nama lain, yakni “Allah”. Meskipun ketika masa Musa -saat Musa berada di Gunung Sinai, masih timbul sebagian orang yang kembali kepada agama pagan kuno Kanaan. Mereka membuat patung sapi emas, dan menyelenggarakan ritual kuno di hadapannya, namun pada akhirnya orang Israel menyatakan perjanjian dengan menjadikan Yahweh satu-satunya tuhan mereka, dan sebagai imbalannya, Yahweh berjanji mereka akan dijadikan umat pilihannya yang akan menikmati perlindungan istimewa.

Di bab berikutnya Karen mulai mengupas secara detail sejarah kepercayaan tiga agama besar itu, dimulai dari agama Yahudi yang berkembang dari bangsa Israel, hingga kelahiran Yesus di utara Palestina yang dipandang sebagai pendiri Israel baru oleh orang kristen generasi pertama. Injil Markus menampilkan Yesus sebagai manusia biasa, memiliki keluarga yang terdiri dari saudara lelaki maupun perempuan, namun memiliki kekuatan ilahiah yang kemudian setelah kewafatannya seperti menghadirkan sebuah citra tentang Tuhan di kalangan murid-muridnya. Namun, menurut Paulus, Yesus bukanlah inkarnasi dari Tuhan, melainkan “Anak Tuhan” dan hanya memiliki kuasa dan Ruh Tuhan, yang mewujudkan aktivitas Tuhan di bumi dan sama sekali tidak bisa disamakan dengan esensi ilahi yang tak terjangkau. Tapi lama-kelamaan, Yesus dipercayai sebagai Tuhan oleh orang-orang kristen kemudian. Mengenai kematian Yesus itu sendiri, peristiwa itu masih menjadi sebuah skandal. Namun Paulus meyakini dan berkata bahwa Yesus telah menderita dan wafat “demi dosa-dosa kita”.

Pada tahun 80-an, terjadi perselisihan tajam antara orang-orang Yahudi dengan Kristen yang menolak menaati Taurat. Namun di kekaisaran Romawi, Kristen pertama kali dianggap sebagai cabang dari Yudaisme, tetapi tatkala orang Kristen memperjelas diri bahwa mereka bukan lagi anggota sinagoga -tempat ibadah orang Yahudi, mereka dipandang dengan kebencian sebagai kaum fanatik yang telah melakukan dosa besar karena meninggalkan kepercayaan leluhur. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, tahun 235 Kristen menjadi salah satu agama terpenting di kekaisaran itu dan mereka mulai berbicara tentang sebuah Gereja Agung, sampai Kaisar Konstantin menjadi terpikat dan memeluk kristen tahun 312. Sejak saat itu Kristen dilegalisasi di tahun berikutnya dan pemeluknya dapat bebas beribadah dan bermasyarakat.

Sekitar tahun 320, gairah teologis yang membara memasuki gereja-gereja di Mesir, Siria dan Asia Kecil, hingga tersebarlah kontroversi mengenai Tuhan yang sejati hanyalah sang Bapa, sedangkan sang Putra tidaklah abadi. Kontroversi itu kian memanas sehingga Kaisar Konstantin turun tangan dan menghimbau penyelenggaraan sebuah sinode di Nicaea, di kawasan Turki modern, untuk membahas masalah ini pada 20 Mei 325 dengan para uskup. Banyak terjadi perdebatan mengenai masalah itu, hingga akhirnya ditetapkan sebuah doktrin resmi Kristen untuk pertama kalinya, bahwa Kristus bukanlah sekedar makhluk, dan Sang Pencipta dan Penebus itu adalah satu.  Tapi setelah itu perdebatan masih muncul hingga bertahun-tahun setelahnya, dan orang-orang Kristen masih kebingungan. Belakangan konsep ini dikenal sebagai konsep trinitas, yakni kepercayaan bahwa ada tiga Tuhan: Tuhan Bapa, Putra dan Roh Kudus. Pada akhirnya, Trinitas hanya bisa dipahami sebagai sebuah pengalaman mitik atau spiritual: ia harus dialami, bukan dipikirkan, karena Tuhan berada jauh di luar jangkauan konsep manusia.

Sejarah kemudian berlanjut ketika sekitar tahun 610, Muhammad (saw), yang tak pernah membaca Alkitab mengalami suatu kejadian luar biasa di Gua Hira ketika melakukan penyendirian spiritual selama bulan Ramadhan -praktik yang lazim di kalangan penduduk jazirah Arab. Di malam ketujuh belas Ramadhan, tatkala Muhammad dibangunkan dari tidur dan merasakan dirinya didekap oleh kehadiran ilahiah yang dahsyat, satu malaikat menampakkan diri kepadanya dan memberinya sebuah perintah singkat: “Bacalah! (Iqra’!), itulah Firman Tuhan yang diucapkan untuk pertama kalinya dalam bahasa Arab, dan melahirkan kitab suci yang kemudian disebut Qur’an. Karen menceritakan kisah-kisah luar biasa itu dengan lugas, hingga ke masa kenabian Muhammad (saw.). Ia kemudian mendeskripsikan Muhammad sebagai “seorang jenius yang sangat luar biasa”, karena telah berhasil menyatukan hampir semua suku Arab menjadi sebuah komunitas baru, atau ummah. Agama Muhammad kemudian dikenal dengan nama Islam, yang berarti kepasrahan eksistensial yang diharapkan untuk diberikan setiap Muslim kepada Allah: seorang muslim adalah seseorang yang menyerahkan segenap dirinya kepada Sang Pencipta. Karen kemudian berfokus kepada Al-Qur’an, yang di dalamnya terkandung tentang nabi-nabi Yahudi dan Kristen, yang mengajarkan konsep bahwa sesungguhnya, Ibrahim, Yakub, Musa, Yesus adalah nabi-nabi Allah dan mereka semua adalah orang-orang yang tunduk (Muslim).

Jika buku ini ditelaah lebih jauh, sungguh sulit untuk diambilkan ringkasannya. Sebab, tidak hanya sejarah tiga agama besar itu, Karen juga mendalami sejarah Tuhan hampir dari semua agama dan kepercayaan yang ada di dunia. Termasuk hindu, budha, dan agama-agama lainnya meskipun dalam porsi yang tidak sebanyak kisah tiga agama tersebut, kemudian tuhan para filosof, kaum mistik, reformis hingga telaah kritis tentang kepercayaan Tuhan di masa depan dibahas rinci dalam bab-bab setelahnya. Melalui buku ini, kita akan disuguhi dengan pemikiran-pemikiran filsafat mengenai asal muasal Tuhan, dan perjalanan umat manusia hingga munculnya paham anti-Tuhan atau atheisme yang lahir dari ketidakpercayaan segolongan pemeluk agama mengenai doktrin-doktrin agama mereka yang dinilai tidak lagi realistis. Namun, dari ratusan halaman yang saya baca di buku ini, meski sangat sulit diambil kesimpulan sederhana, insya Allah buku ini dapat memperkaya khazanah intelektual kita dan menambah semangat kita untuk lebih mempelajari agama yang kita anut, meskipun sangat akan mungkin bisa terjadi perbedaan penafsiran bagi para pembacanya. Akan tetapi, bagi saya sendiri sebagai seorang muslim, saya sangat bersyukur pernah membaca buku ini. Sehingga buku ini, trully recommended!

Wallahu’alam.🙂

Details:

Sejarah Tuhan, Kisah 4.000 Tahun Pencarian Tuhan dalam Agama-Agama Manusia, karya Karen Armstrong. Cetakan XV, Februari 2016. Penerbit Mizan, 673 halaman. Dibaca pada April 2016.

IMG_0445

7 thoughts on “Sejarah Tuhan – Karen Armstrong [Book Review]

  1. Wah, dari judulnya berat, tapi sepertinya menarik🙂 Perasaan buku-buku yang Aan baca tebal-tebal semua, ya😀 salut!

    Oya, boleh request nggak, An? Sesekali share tentang cara mengorganisir buku koleksi pribadi (kalau sempat sih) soalnya dari foto kelihatannya rapi (dan ada labelnya pula), seperti di perpustakaan🙂.

    Liked by 1 person

    • Gak juga mi, kebetulan aja yg ini tebal, haha, biasanya an milih buku berdasarkan genrenya, klo menarik dan penasaran baru baca, ckck.

      Oh iya, klo aan bkin label aja mi bukunya, sesuai jenis buku, novel, sejarah, filsafat, agama, dll.. Beranjak dari kelemahan an mengingat buku yg ada, kadang ilang dan lupa naroh atau ada yg minjam tp lupa siapa, akhirnya bkin nomor aja. Hehe.

      Like

  2. Dulu sempat terngiang judulnya mas. Dan nama pengarangnya. Menarik sih, membaca agama dari sudut pandang yang lain, di luar agama kita sendiri. Karena saya rasa, saya sendiri lebih sering membaca tentang agama, baik agama selain islam dari sudut pandang orang islam saja. Menarik.

    Liked by 1 person

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s