Dinner time

Sahabat Terbaik di Italia #Italychronicles – Part 7

Alhamdulillah, perjalanan singkatku ke Italia telah mengantarku bertemu dengan sahabat-sahabat baru dari negara-negara berbeda di dunia. Allah telah mempertemukanku dengan orang-orang yang selama ini tak pernah ku bayangkan. Cerita dan inspirasi yang mereka berikan telah mengubah cara pandangku terhadap dunia.

Selama di Genova, aku dipertemukan oleh Allah dengan sahabat-sahabat baru yang luar biasa. Mereka adalah sahabat-sahabat terbaikku selama di Italia, yakni lima orang mahasiswa yang juga mengikuti program yang sama denganku. Mereka yang membuat hari-hariku penuh keceriaan.

Pertama, seorang laki-laki dari Jerman yang satu kamar denganku selama di penginapan kami di asrama mahasiswa di Genova. Namanya Leo, asli keturunan Jerman yang berdomisili di Berlin. Rambutnya pirang coklat muda, matanya bening kehijauan, kulitnya putih khas bule-bule Jerman. Tingginya beberapa sentimeter tak terlalu jauh dari tinggi badanku yang tak terlalu tinggi. Pembawaannya sangat tenang, dan tentu saja sangat baik dan perhatian. Dia begitu menyukai rendang daging dan rendang telur pemberian ibuku dari Payakumbuh, bahkan kami menghabiskannya setiap pagi ketika sarapan di dalam kamar. Anak yang kutu buku, puluhan buku sejarah, novel, bahkan buku textbook kedokteran dia “lahap” setiap hari. Perpustakaan adalah tempat favoritnya menghabiskan waktu, membaca dan membaca, bahkan sampai di penginapan ketika hendak tidur pun, dia masih saja membaca. Hobinya yang menurutku sangat “keterlaluan” selain jalan kaki menelusuri kota menantang dinginnya cuaca musim dingin sambil mencari makanan-makanan khasnya. Anak yang senang diajak “ngobrol”, tentang apa saja, dan ya, “frekuensi” kami sama dan selalu “nyambung” ketika bercanda. Aku jadi terinspirasi membaca lebih banyak lagi karena dia. Selain itu, ketulusannya benar-benar tinggi, bahkan dia sering membawakanku makanan-makanan khas Italia yang baru saja dibelinya di kota, dan bahkan mentraktirku makan di restoran Italia. Sungguh sahabat yang baik.

Teman-temanku yang lain adalah dua orang teman baru dari Jepang yang juga mengambil program yang sama denganku di bagian Bedah Anak. Seorang laki-laki berkacamata bernama Yuto, dan seorang perempuan yang selalu semangat bernama Mai. Mereka adalah rekan satu tim-ku di Instituto Gaslini. Hampir setiap hari kami bertemu di rumah sakit, terutama di ruang operasi. Kemana-mana selalu bersama, makan bersama, jalan-jalan bersama, dan menikmati hari-hari bersama. Bahkan suatu malam ketika para residen bedah anak mengundang kami makan malam di rumah salah seorang dari mereka, kami pun mencari-cari alamat rumah di negeri antah berantah itu bersama-sama. Hingga hari-hari disana terasa lebih hidup dan aku pun bisa lebih mengenal budaya orang Jepang yang selalu tepat waktu, jujur, polos dan selalu semangat. Mereka bahkan akan meminta maaf berkali-kali jika terlambat satu atau dua menit saja, dan sebaliknya, menggerutu kalau teman yang membuat janji datang terlambat. Namun dibalik itu semua, mereka adalah orang-orang yang sangat terbuka dan tak segan memberi pujian pada orang yang dianggapnya baik, bukan karena ingin melebihkan tapi memang itu yang mereka rasakan dari lubuh hati mereka. Mereka benar-benar inspiratif!

Sahabatku yang lain adalah seorang mahasiswa dari Maroko, bernama Saber. Kulitnya agak gelap campuran arab-afrika, badannya yang tegap tinggi semampai dengan paras yang rupawan , rambutnya yang hitam, matanya yang coklat dengan bulu mata yang tebal dan berhidung mancung khas orang-orang Arab. Dialah teman muslim satu-satunya yang kupunya di asrama. Dialah tempatku berkeluh kesah jika teman-teman yang lain sudah mulai minum alkohol dan menyantap daging-daging babi di meja makan. Aku sungguh bersyukur karena memiliki teman yang seiman di sana, sehingga aku tidak selalu merasa sendirian jika saat makan malam bersama. Meski demikian, mereka tetap menghargai kami sebagai seorang muslim. Kami pun dibuatkan menu-menu halal setiap kali mengadakan acara makan malam kecil-kecilan, dan aku pun lama-lama bisa beradaptasi dengan mereka.

Selain Saber, terakhir adalah Yukako, perempuan dari Jepang. Namun, Yukako jarang terlihat olehku karena kesibukannya di rumah sakit yang berbeda. Momen ketika bertemu dengannya hanya ketika saat makan malam bersama dengan teman-teman penyelenggara pertukaran mahasiswa di Italia. Namun aku tahu, Yukako adalah anak yang baik dan sedikit pemalu dibandingkan Mai.

Mereka berlima adalah teman-teman terbaikku di Italia, selain daripada teman-teman asli Italia yang telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk kami berenam selama belajar di Genova yang sangat ramah dan luar biasa.

Bertemu dengan Orang Sekampung dan Seiman

Di luar negeri seperti ini, ada beberapa momen yang tidak terlupakan. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di negara orang, sendirian, tanpa sanak saudara. Hanya ada seorang Uda dari Padang yang baru saja ku kenal dan tinggal di Jerman yang telah rela bersusah payah membantuku mengurus perjalanan ke Italia. Aku memanggil beliau dengan sebutan da Yal. Aku sangat bersyukur bisa berkenalan dengan beliau. Beliau seperti paman sendiri di negeri orang. Bahkan beliau selalu menanyakan kabarku dan mengabari kedua orang tuaku di kampung. Uda lalu berkata bahwa ada urang awak yang tinggal di Genova, beliau bernama Bu Nini. Uda pun memberiku nomer telepon beliau lalu aku pun menghubungi beliau. Hingga pertemuan kami pun berlangsung di sebuah lapangan air mancur monumental di tengah kota Genova, Piazza de Ferrari, dan siapa sangka, beliau adalah orang asli Payakumbuh, kampung halamanku, yang telah tinggal di Sori, daerah yang tak jauh dari pusat kota Genova selama 15 tahun. Beliau hidup sendiri di rumah peninggalan suaminya orang asli Italia yang telah berpulang enam tahun silam meski tanpa dikaruniai sang buah hati. Bahkan uda pun tidak mengetahui kalau beliau ini orang asli Payakumbuh. Masya Allah… Aku pun kemudian diajak berkeliling Genova dengan mobil beliau, singgah di rumah beliau, dibuatkan masakan, bahkan diberi bekal uang saku dan makanan. Bahkan komunikasi kami berlanjut sampai hari ini, hingga akhirnya aku bertemu dengan keluarga beliau di Payakumbuh sepulang dari Italia. Sungguh, beliau sudah seperti orang tua angkat bagiku. Alhamdulillah.

Momen lainnya yang tak terlupakan dan sungguh mengharukan adalah ketika aku berjuang mencari masjid dan menemukan saudara seiman di kota dengan mayoritas non-Muslim ini. Islam memang adalah agama yang minoritas di Italia, dan di dalam sebuah kota mungkin hanya ada satu atau dua masjid yang berdiri, bahkan ada yang tidak memiliki masjid sama sekali. Mencarinya pun sungguh sulit, melewati lorong-lorong sempit di pinggir kota, bahkan terkadang tidak terlacak di dalam peta, maka tiada hal yang lebih membahagiakan ketika bisa bertemu dengan saudara seiman, mendengar lagi suara azan, hingga ikut shalat di barisan jemaah muslim. Sungguh peristiwa yang sangat mengharukan dan pantas untuk dikenang. Silakan membaca kisahnya di Islam di Genova #Italychronicles – Part 4 :)

Alhamdulillah, perjalanan singkat ke Italia pun telah membawaku berkenalan dengan orang-orang baru di luar sana, tanpa sadar mereka yang penuh dengan inspirasi telah banyak mengubah cara pandangku melihat dunia. Cerita yang Allah berikan untuk kita memang penuh dengan misteri. Pada akhirnya kepada-Nyalah kita selalu berserah diri dan bersyukur atas segala pemberian-Nya.

#to be continued insya Allah

2 thoughts on “Sahabat Terbaik di Italia #Italychronicles – Part 7

  1. Membaca tulisan ini jadi teringat syair Imam Syafi’i tentang merantau:

    Merantaulah… Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).

    And you had experienced it by yourself🙂

    Like

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s